Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
EXT. TANAH LAPANG – SORE (FLASHBACK)
Sebuah tanah lapang di tepi Kota Surabaya. Beberapa pohon rindang berdiri di pinggirnya.
Di sisi lain lapangan, SATU POHON WARU berdiri sendiri.
Daunnya berbentuk hati.
Di dekat pohon itu, DAMAR KECIL (8) membuat garis dua meter di tanah dengan ranting.
Di seberangnya, WULAN KECIL (8), lebih pendek darinya, bersiap.
DAMAR KECIL
Siap… satu… dua… tiga!
Mereka berlari kencang. Pohon waru menjadi garis START dan FINISH.
CUT TO:
Mereka kini duduk di bawah pohon waru.Kaki diselonjorkan. Keringat di dahi.
DAMAR KECIL (mengupas pisang kukus)
Aku yang menang sekarang.
Besok kamu yang bawa makanan.
WULAN KECIL (cemberut)
Kamu aja, Dika.
Kalau kamu yang bawa, makanannya enak-enak.(lalu menggigit pisang kukusnya)
DAMAR KECIL (menoleh ke arah Wulan)
Wulan.
Wulan menoleh sekilas, hanya mengangkat dagu karena mulutnya penuh.
DAMAR KECIL
Kenapa sih kamu panggil aku Dika?
Padahal dari awal aku udah bilang, namaku Damar.
Wulan kecil langsung membuang pandangan.
Bibirnya mengerucut.
Damar kecil tersenyum jahil.
Ia paham—Wulan kesulitan melafalkan huruf “R”.
FADE OUT.
---
EXT. TAMAN KECIL – SIANG (MASA KINI)
Tempat yang sama.
Namun kini telah berubah.
Tanah lapang menjadi taman kecil.
Bunga warna-warni tertata rapi.
Bangku semen mengelilingi POHON WARU.
Di dekatnya berdiri sebuah GEREJA yang tampak lebih luas dari sebelumnya.
DAMAR DEWASA (25) berdiri di tepi jalan raya.
Kedua tangannya di saku celana.
Kaos hitam polos, jeans biru dongker.
Ia memandang pohon waru.
DAMAR DEWASA
(tersenyum kecil)
Pohon warunya masih ada.
Pohon waru kini tak lagi sendiri.
Beberapa POHON MAHONI muda tumbuh di sekitarnya.
Damar melangkah mendekat. Arah langkahnya membawa dia menuju gereja. Sudah lima tahun ia tak menginjakkan kaki di tempat ini.
Dari kejauhan, tampak beberapa KARANGAN BUNGA di pelataran gereja. Membuatnya penasaran.
Ia mendekat. Tatapannya fokus ke tulisan di karangan bunga.
Langkahnya TERHENTI.
CLOSE UP – KARANGAN BUNGA
“SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU
WULAN & BAYU
TURUT BERBAHAGIA ATAS PERNIKAHANNYA
WULAN & BAYU”
Wajah Damar memucat. Lututnya melemas.
DAMAR DEWASA
(pelan, pada dirinya sendiri)
Kenapa nggak bilang apa-apa?
Apa aku memang udah nggak penting lagi buatmu?
Ia menelan ludah.
Tatapannya kosong.
DAMAR DEWASA
Aku kembali cuma buat lihat kamu baik-baik aja…
Ternyata kekhawatiranku salah.
Damar terdiam. Kakinya kaku. Berat untuk digerakkan.
Suara kota terasa menjauh.
FADE OUT.