Cuplikan Chapter ini
Memasuki rumah kami disambut oleh pemandangan televisi yang masih tergeletak miring di lantai seperti tubuh yang sudah kehilangan nyawaTelevisi itu adalah teman sunyiku Aku jarang benar-benar menonton tapi keberadaannya selalu menjadi semacam jaminan bahwa aku tidak sendirian Kini melihatnya hancur aku merasa seluruh hari-hari ke depan ikut retakFariz berjalan melewatiku menghela napas pendek Kami tidak banyak bicara Ada semacam kesepakatan bisu antara kami untuk bergerak lebih