Cuplikan Chapter ini
Fariz pulang larut sekali malam itu Saat pintu terbuka pelan aku sudah terlelap Aku tidak berani memberitahunya bahwa pikiranku sejak sore tidak kunjung tenang atau mengapa aku memilih berbaring menghadap ke kiri semalaman mengikuti saran dokter dengan kepatuhan yang nyaris berlebihan seolah dengan begitu aku bisa mencegah sesuatu yang belum tentu akan terjadiPagi itu Fariz bersiap lebih cepat dari biasanya Dari balik pintu kamar aku mendengar air mengalir bunyi piring bersentuha