Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH
Suka
Favorit
Bagikan
#23
Chapter XXIII: Hati Yang Terluka
1. "Kunaon pas lahir, Ibu Dwi malah mau membunuh anaknya sendiri?"
2. "Pengen tahu. Kamu pengen tahu?"
3. "Cepat katakan. Salah apa saya?"
4. "Gara-gara kamu. Gara-gara kamu hidup saya hancur. Saya diusir dari rumah. Saya dipecat dari pekerjaan. Usaha yang saya bangun. Kehidupan melarat yang saya rasa sudah meningkat. Runtuh semua gara-gara kamu!"
5. "Gara-gara saya katanya, Bi. Gara-gara saya."
6. "Kalo nggak dibawa sama si Bu Rahayu, seharusnya ada di dalam kuburan kamu itu!"
7. "Siapa bapakku?
8. "Nggak perlu tahu,
9. "Siapa bapak saya?"
10. "Nggak usah tahu!"
11. "Siapa bapak saya?!"
12. "Saya nggak minta dilahirkan ke dunia. Kalian yang salah. Kalian yang berbuat dosa. Kenapa saya yang harus nanggung!"
13. "Balik ka Bandung. Jangan pernah menginjakkan kaki di kota ini, di tempat ini. Lanjutkan hidupmu. Anggap saya nggak ada di duniamu, di kehidupanmu!"
14. "Apalagi, Nisa?"
15. "Teteh itu tega. Jahat sekali. Udah sejauh ini anak datang mau ketemu ibunya malah begitu. Sampe nangis saparah itu. Nggak kasihan, Teh. Biar bagaimanapun dia itu anak Teteh!"
16. "Nisa. Kalo kamu lihat gimana wajah laki-laki itu. Mirip sekali sama anak itu. Gimana Teteh nggak kesal, nggak ngamuk. Semua kebencian yang tertahan bertahun-tahun tumpah semua!"
17. "Nggak harus dilampiaskan sama Pradipta juga, Teh!"
18. "Udah, udah. Suruh pergi anak itu. Jangan pernah balik lagi!"
19. Yu, pasti pulang si Dipta. Percaya sama aku. Nggak bawa apa-apa anak itu dan pergi di waktu libur kerja,"
20. "Lagi membayangkan aja bagaimana disambutnya si Dipta di sana, Yi. Anak yang dibuang itu sekarang sudah besar. Tinggi, tampan, baik. Hasil didikan kita semua."
21. "Udah, ah. Jangan dipikirin terus. Setidaknya kita udah tenang. Udah selesai. Nggak bawa rahasia besar jaga di alam kubur,"
‹ SEBELUMNYA
Chapter XXII: Ungkapan Hati
BERIKUTNYA ›
Chapter XXIV: Terluka Sedalam Samudra
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)