1. "Kenapa, Bu?"
2. "Nggak apa-apa. Ibu cuma sedih. Nggak sangka Dipta sekarang tinggi, tampan, punya pekerjaan bagus. Nggak nyangka ibu!"
3. "Bu, Dipta itu bisa seperti sekarang kan didikan Ibu sama Bapak. Kalo bukan karena Ibu sama Bapak mau jadi apa Dipta,"
4. "Jang, janji sama ibu jangan marah, jadi nggak sayang sama ibu kalau ada apa-apa, ya,"
5. "Ma, apa ini?"
6. "Dip, ini adalah kilas balik bagaimana kehidupan Dipta awalnya,"
7. "Ini ada surat ... ada tanda tangan Ibu, mama ..."
8. "Ya, Dipta. Kamu bukan anak kandung almarhum Bapak Permadi dan Ibu Rahayu." "Ini adalah ibu kandung kamu."
9. "Kenapa bisa?"
10. "Saya diselamatkan dari dalam bak mandi?"
11. "Ada di sini satu minggu setelah dia melahirkan. Nyusuin dulu, menunggu sampai keadaannya membaik. Suatu hari, ibu kamu pergi. Tengsh malam. Nggak pamit, nggak ngucapin selamat tinggal. Meninggalkan pintu rumah yang nggak dikunci,"
12. "Jadi, surat ini ... di Sumedang?"
13. "Ya. Kami berempat ke sana. Si Ibu, Mama, Pak Madi sama Ayah Dani. Memastikan tentang anak ini biar jelas. Diikat oleh Mama supaya keluarga dia nggak bisa ngambil Dipta."
14. "Nggak tahu mau bilang apa Dipta. Jadi, yang suka dibahas paman-paman Dipta itu benar adanya."
15. "Ada apa ini pagi-pagi pada nangis?"
16. "Mang, nitip Ibu di hari Rabu. Dipta mau ke Sumedang. Mama, titip, ya."
17. "Pasti. Ingat di sana kontrol emosi. Kalau bisa jangan bawa kendaraan. Pakai bis aja,"
18. "Wah, yang ditunggu-tunggu kejadian juga. Nggak bawa kendaraan artinya disuruh pulang ke asal-usulnya si Dipta itu, heemm," "Ya, Mangga. Hati-hati di jalannya,"