Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH
Suka
Favorit
Bagikan
#13
Chapter XIII: Khawatir Akan Kenyataan
1. "Permisi, Bu,"
2. "Ya."
3. "Benar ini rumahnya Teh Dwi?"
4. "Benar. Ada keperluan apa, ya?"
5. "Bisa ketemu sama Teh Dwi?"
6. "Sebentar."
7. "Eh, Dipta bangun,"
8. "Nggak tahu. Ke depan aja dulu!"
9. "Assalamualaikum. Mohon maaf kalo mengganggu waktunya di pagi hari. Perkenalkan nama saya Dani, ini istri saya Utari. Yang di sebelah sana Permadi dengan istrinya, Rahayu."
10. "Ada apa kalian datang ke rumah saya?"
11. "Sebelumnya mohon maaf sekali. Bulan lalu, Neng Dwi melahirkan seorang anak laki-laki di Bandung. Anaknya dirawat oleh Rahayu."
12. "Anak, dirawat?"
13. "Benar. Kedatangan kami semua kemari ingin memastikan. Neng Dwi waktu itu berkata dia memberikan anak ini kepada Rahayu. Kalo mau silakan bawa. Katanya begitu. Rahayu sama Permadi sebagai yang merawat dia khawatir. Mana tahu ke depannya anak ini diambil sama keluarganya,"
14. "Pak Dani, bukan saya kurang sayang sama dia. Kalo mau dirawat silakan. Anak ini nggak diterima di sini!"
15. "Nggak diterima?"
16. "Benar sekali. Bapaknya aja nggak jelas siapa. Bikin malu. Ini adalah aib. Anaknya nggak bisa menjaga amanah orang tua sampai-sampai hamil duluan!"
17. "Astagfirullahaladzim. Sebenarnya nggak ada kesalahan dari anaknya. Nggak punya dosa apa-apa anaknya!"
18. "Pak, Bu. Buat saya anak ini bukan siapa-siapa. Bukan cucu, bukan saudara. Orang lain!"
19. "Bu, itu ada tahi lalatnya di pelipis?"
20. "Bu, Pak, maaf kalo bapak bersikap kurang ramah,"
21. "Nggak apa-apa. Yang penting sudah selesai. Main-main ke Bandung,"
22. "Ibu pamit. Terima kasih Neng ..."
23. "Udah, Yu. Jangan dipikirin. Udah aman sekarang,"
24. "Alhamdulillah. Cuma agak gimana lihat keluarganya. Terutama Pak Oman. Sebegitunya sama cucu sendiri."
25. "Biarin. Makanya dikasihin sama kamu juga, Yu. Kasihan dia hidup di sana. Bisa-bisa ..."
26. "Ah, nggak mau ngebayanginnya juga saya mah!"
27. "Kurang ajar kamu. Kata saya buang, buang! Sampe banyak orang datang kemari sambil membawa anak itu. Bikin malu kamu!"
‹ SEBELUMNYA
Chapter XII: Lama-lama Begitu Khawatir
BERIKUTNYA ›
Chapter XIV: Kenyataan Dalam Keluarga
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)