Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH
Suka
Favorit
Bagikan
#11
Chapter XI: Rumah Lama
1. "Aduh, Neng Dwi ini?"
2. "Ya, Pak,"
3. "Kok, pulangnya jam segini. Untung selamat sampai tiba di rumah."
4. "Saya ke dalam dulu. Permisi."
5. "Teh, setengah dua ini. Padahal nanti udah subuh berangkatnya,"
6. "Nggak ada waktu lagi, Nis. Mumpung ada kesempatan,"
7. "Teh, ke mana bayinya?"
8. "Nggak ada."
9. "Maksudnya, sama teteh digugurkan atau dilahirkan?"
10. "Kapan pulang, Neng?"
11. "B-barusan, Pak,"
12. "Gimana, udah kosong itu perut?"
13. "Ya, Pak."
14. "Kenapa kok lama banget. Melahirkan di mana, dibuang di mana anak itu?"
15. "Ah, bodo amat. Mau dibuang, mau dihabisin juga bukan urusan saya. Yang penting jangan dibawa ke sini aib itu!"
16. "Bukan. Nggak lapar teteh. "Sebenarnya bayi itu dikasihin sama teteh."
17 "kira-kira, itu anak balik lagi ke sini nggak, Nis?"
18. "Menurut Nisa itu tergantung. Memang Teteh ngasihin bener-bener ngasih atau gimana?"
19. Ya, sampai surat lahir, akta. Nama orang tuanya ya ... itu yang mau angkat dia jadi anaknya."
20. "Teteh menyesal?"
21. "Menyesal ... nggak. Di sini juga bapak nggak mau terima. Daripada disiksa sama kakeknya. Cuma ..." "teteh merasa gagal jadi orang tua. Gagal jadi ibu. Gagal dalam segala hal. Sampe bapak melarang teteh pergi ke mana-mana.
22. "Nisa nggak bisa bantu apa-apa. Setidaknya, teteh ngasih kesempatan pada anak itu. Diberikan kepada yang membutuhkan. Mungkin, bisa jadi penggugur dosa, Teh. Bisa jadi anak itu hidupnya lebih layak di sana. Siapa yang tahu? Teteh membuat keputusan yang benar."
23. "Maafkan aku, Gusti Ya Allah."
‹ SEBELUMNYA
Chapter X: Perjalanan Sebelum Ke Rumah
BERIKUTNYA ›
Chapter XII: Lama-lama Begitu Khawatir
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)