Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH
Suka
Favorit
Bagikan
#15
Chapter XV: Keluargamu Bukan Kami
1. "Yu, pusing banget saya lihatnya. Mondar-mandir, mondar-mandir!"
2. "Khawatir, Yi, saya itu,"
3. "Kenapa lagi, Nyai, Ya Allah!"
4. "Takut ada yang bawa itu anak,"
5. "Yu, Cantik. Dengerin. Anak itu udah umur delapan tahun sekarang. Nggak usah banyak pikiran. Biarin aja dia main. Jangan terlalu dikekang!"
6. "Ya, tapi ...
7. "Udah. Jangan segala hal dikhawatirkan. Ini orang ampun nggak berubah sifatnya dari dulu," "nih, minum dulu."
8. "Jang, terbangin ini dari sana."
9. "Nggak akan kabur gitu?"
10. "Nggaklah. Saya giring dari sini. Cepat ke sana!"
11. "Nggak tahu. Coba cari di kamar."
12. "Nggak ada, Bi,"
13. "Duh, ini anak pungut berisik banget di siang bolong gini!"
14. "Anak pungut itu apa, Bi?"
15. "Dipta itu anak pungut. Keluarga Dipta bukan di sini,"
16. "Heh, malah bicara gitu. Datang si Ayu habis kamu!"
17. "Faktanya gitu, 'kan!"
18. "Ma, kata Bi Ine ... Dipta itu anak pungut. Anak pungut itu apa, Ma?"
19. "Hng ... anak pungut?" "si Bibi lagi bercanda aja itu mah!"
20. "Yu, jangan!"
21. "Dipta sama Mama Utari dulu. Ibu mau ke warung sebentar, ya."
22. "Teh, ada apa, kok, teriak-teriak?"
23. "Kamu berani-beraninya. Ngomong anak saya anak pungut. Meskipun anak pungut dia itu anak saya. Saya membesarkannya dengan susah payah. Saya pengen-pengennya punya anak!"
24. "Ine nggak bicara gitu, Teh,"
25. "Masa anak sekecil itu bohong. Kamu juga udah salah bukannya ngaku. Masa anak sekecil itu mau mengatakan hal yang nggak didengar olehnya. Nggak punya otak kamu!"
26. "Sekali lagi kamu ngomong gitu. Hancur kamu Ine!"
27. "Apa kata saya juga. Keras kepala kamu. Kayak nggak tahu kalo udah marah gimana si Ayu. Paha ayam aja ditelan bulat-bulat sama tulangnya!"
28. "Apa,"
29. "Aku mau merpati,"
30. "Dimarahin sama saya si Ine,"
31. "Biar nggak jadi kebiasaan!"
‹ SEBELUMNYA
Chapter XIV: Kenyataan Dalam Keluarga
BERIKUTNYA ›
Chapter XVI: Kami, Ibu dan Bapakmu
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)