Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH
Suka
Favorit
Bagikan
#7
Chapter VII: Solusi Tanpa Opsi
1. "Eh, Neng Dwi. Nggak berat itu bawa-bawa gendang?"
2. "Ah, mau gimana lagi,"
3. "Kirain masih menyendiri. Eh, ternyata milik orang lain!"
4. Suka putus harapan. Banyak di pabrik juga wanita, berceceran!"
5. "Ogah, ah. Udah tarurun mesin!"
6. "Neng, jangan ngelamun nanti kesurupan,"
7. "Nggak, Bu. Saya cuma lagi banyak pikiran aja,"
8. "Semoga saya juga segera merasakan hal ini."
9. "Pokoknya jangan dipikirin. Lebih baik banyak berdoa semoga anaknya sehat. Aamiin,"
10. "Neng, ibu mau tanya kejadian beberapa bulan ke belakang. Neng suka makan apa aja. Memang nggak tahu kalo lagi hamil gitu?"
11. "Ohh, ya, benar. Saya nggak tahu mau punya anak. Makanya makanan yang ada saya makan. Ternyata itu bawaan bayi kalo kata tetangga-tetangga."
12. "Bu, itu Neng Dwi orang mana. Bapak suka ketemu tapi selalu lupa tiap mau tanya?"
13. "Kata Bidan Ida sih orang Sumedang,"
14. "Suaminya tega bener. Istri lagi gitu malah disuruh nyari uang. Mana di kota orang. Nggak ada sanak saudara. Susah minta tolong,"
15. "Pak, kalo efek obat atau makanan sembarangan. Ngaruh untuk ibu hamil?"
16. "Sangat bahaya, Bu. Orang hamil itu jangan segala dimakan. Harus dikontrol nanti takut ada apa-apa sama bayinya."
17. "Ya Allah. Kenapa saya ingat terus sama bayi itu? Nggak pernah punya perasaan kayak gini sebelumnya."
‹ SEBELUMNYA
Chapter VI: Sulit Menemukan Solusi
BERIKUTNYA ›
Chapter VIII: Opsi Paling Akhir
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)