Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH
Suka
Favorit
Bagikan
#17
Chapter XVII: Bapakmu Meninggal
1. "Pak, jangan terlalu lama,"
2. "Biasa juga satu jam, Bu,"
3. "Ah, satu jam dari mana. Suka nangkring dulu sama bapak-bapak. Teng ... jam sepuluh baru pulang!"
4. "Sekarang tidak akan. Bapak juga agak capek. Mau istirahat. Ini nggak enak sama bapak-bapak udah ngundang!"
5. "Biasa di gedung serbaguna. Nggak ketemu gitu tadi?"
6. "Nggak, Bu,"
7. "Ganti bajunya. Ini ada kue putu ayu."
8. "Mang Ian, ada apa?"
9. "Pak, tega bapak mendahului ibu. Gimana nasib ibu sekarang. Menanggung rahasia besar sendirian!"
10. "Gimana ini, Yi. Saya nggak sanggup harus membongkar rahasia Dipta?"
11. "Berat begitu tadi. Kerasa nggak, A?"
12. "Berat karena bawa rahasia, Man,"
13. "Rahasia si Dipta?"
14. "Memangnya apalagi!"
15. "Masih belum dibongkar?"
16. "Waktu itu udah ngobrol sama Aa si Madi. Disuruh buru-buru jangan dinanti-nanti. Eh, lelet banget. Banyak mikir!"
17. "Terus, gimana soal hartanya?"
18. "Masih ada si Ayu. Masalahnya kalo semua diberikan kepada si Dipta? Bukam siapa-siapa anak itu. Cuma anak pungut, enak bener menang warisan!"
19. "Gimana, dong, masa si Dipta diusir. Tahu sendiri istri saya juga malah dimusuhin beberapa tahun kemarin sama si Teteh!"
20. "Pokoknya kita harus punya persiapan. Gimana caranya anak itu biar minggat dari rumah, dari keluarga ini!"
‹ SEBELUMNYA
Chapter XVI: Kami, Ibu dan Bapakmu
BERIKUTNYA ›
Chapter XVIII: Meninggalkan Misteri
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)