1. "Teh, kira-kira si Teteh akan punya anak nggak?"
2. "Nggak tahu, kenapa gitu, Yan?"
3. "Melihat sekarang Teh Ayu maju terus kaya raya. Kira-kira itu anak akan jadi ahli waris?"
4. "Emang mau ke siapa lagi kalo bukan ke anak itu?"
5. "Teteh mau ke si Ayi dulu sebentar. Mau ngambil Dipta!"
6. "Nggak nyangka Teh Ayu bisa tersenyum lepas gitu. Kelihatannya bahagia sekali. Padahal kalo warung untung besar nggak sampai segitunya,"
7. "Semenjak ada si Dipta jadi gitu, tuh,"
8. "Siapa yang nggak bahagia dikasih anak. Mana ganteng gitu. Itu harta yang utama melebihi uang dan apa pun!"
9. "Jang, anteng banget. Apa itu?"
10. "Nanti bapak beli lagi. Sama tokonya dibeli." "Yi, nggak rewel ini anak?"
11. "Nggak, biasa aja nggak pernah nangis. Anteng main sama si Ona main dari tadi. Udah kayak anak kembar!"
12. "Udah gede lagi ini anak. Perasaan baru kemarin, waktu berlalu begitu cepat."
13. "Pak, maki ke sini anak ini nggak mirip sama Neng Dwi. Sama sekali nggak,"
14. "Kayak bapaknya mungkin, Bu,"
15. "Bapaknya. Neng Dwi nggak pernah membahas siapa bapak anak ini. Cuma katanya kalo lihat si Dipta rasanya kesal, marah. Itu tanda labjr dari bapaknya katanya,"
16. "Ahh." "Mau siapa pun bapaknya, biarlah. Yang penting mah di kehidupan Dipta kita yang dikenal sebagai orang tuanya."