1. "Bu, bener nggak akan ikut?"
2. "Kalo lihat ibu kandung kamu, ibu suka merasa kesal. Pengen ... gimana gitu kalo bisa mah. Ibu percaya sama Dipta, Jang."
3. "Dipta berangkat. Mang Asep mau anterin ke terminal katanya."
4. "Ingat, jangan sampai emosi. Kontrol diri?"
5. "Ayo, Mang!"
6. "Kenapa nggak bawa koper?"
7. "Udah berangkat. Hati-hati di jalannya!"
8. "Astagfirullah, Nur. Pake baju yang bener!"
9. "Yang penting itu intinya ketutup jangan nggak pake baju sama sekali!"
10. "Ada apa?"
11. "Di mana rokok si A Bayu. Malam perasaan di meja?"
12. "Itu di depan TV!"
13. "Umi, anak-anak Teh Dwi nggak ada yang bener satu pun. Hancur lebur semuanya. Udah nggak betah Abi jujur aja, Mi,"
14. "Nggak semuanya, Abi,"
15. "Nggak semuanya gimana? Coba itu lihat kelima-limanya nggak ada yang mendingan."
16. "Ada, Bi. Satu anak yang belum hancur karena diporak-porandakan oleh angin puting beliung bernama Dwi Larasati,"
17. "Siapa memangnya, Mi?"
18. "Nanti juga Abi tahu. Kasih Umi waktu untuk di sini. Takut datang kasihan."
19. "Bu, beli kopi!"
20. "Apa kamu lihat- lihat!"
21. "Karena saya punya mata!"
22. "Besar nyali kamu. Orang mana kamu?!"
23. "Heh ... heh ... heh. Jangan ribut di depan warung saya. Pergi kamu Irpan!"
24. "Awas kamu!"
25. "Permisi. Tahu alamat ini, Pak?"
26. "Ohh, ini rumah saya. Ada keperluan apa?"
27. "Umi, siapa ini?"
28. "Ini yang Umi maksud satu anak yang belum hancur. Ini tujuan Umi nggak mau ke mana-mana, Bi. Nunggu keponakan datang kemari. Ya Allah, Pradipta. Bibi tahu dari tanda lahir ini. Makanya nggak segan-segan untuk mengenalkan diri!"
29. "Jadi benar ini rumah ...?"
30. "Ya, Mama Dwi tinggal di sini. Mau ketemu?"
31. "Kalo bisa."