Novel yang menarik dibaca, karena me-rekonstruksi etnografis atas ingatan kolektif Jawa mengenai asal-usul kekuasaan Hastinapura dan pertikaian yang kelak melahirkan konflik Pandawa-Kurawa. Novel ini tidak sekadar mengulang lakon Mahabharata, tetapi melakukan semacam reinterpretasi mitologis terhadap genealogi kekuasaan melalui Palasara, Abiyasa, Pandu, dan Drestarasta. Narasi tentang Hastina menghadirkan konsep trah, wangsa, dan legitimasi genealogis yang sangat dekat dengan cara masyarakat Jawa memahami kesinambungan kekuasaan melalui garis keturunan. Menariknya, pewarisan takhta tidak semata-mata didasarkan pada prinsip anak sulung, melainkan melalui sayembara, sehingga kekuasaan tampil sebagai arena kontestasi legitimasi antara garis darah, kesaktian, dan kehendak kosmis. Dengan demikian, Awal Pertikaian dapat dinikmati sebagai thriller pewayangan yang menggabungkan genealogi kekuasaan, kosmologi Jawa, politik keraton, dan motif heroic quest dalam sebuah hikayat yang sarat konflik.