Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Lantai semen gudang tua itu terasa sedingin es, namun tidak sedingin rasa hampa di dada Embun. Surat penyitaan rumah dan toko kuenya baru saja berstempel merah di atas meja. Di sudut lain, ponselnya bergetar, menampilkan pesan teks dari mantan tunangannya yang memilih pergi bersama modal usaha yang tersisa. Embun menatap telapak tangannya yang kasar karena jam kerja yang tidak manusiawi. Kenapa harus aku? Apa belum cukup semua ini? tanyanya pada sunyi. Air matanya jatuh, persis seperti tetesan embun yang rapuh. Namun, malam itu menjadi titik balik. Embun tidak membiarkan dirinya menangis hingga pagi. Ia bangkit, membasuh wajahnya dengan air dingin, dan mengambil sisa tepung serta oven kecil yang tidak ikut disita. "Jika mereka pikir ini adalah akhir dariku," bisik Embun pada kegelapan malam, "mereka salah. Aku adalah embun. Aku mungkin jatuh malam ini, tapi aku akan selalu kembali setiap fajar menyingsing."