Cuplikan Chapter ini
Desa Karang Turi tampak begitu rapuh di bawah terpaan angin malam yang menderu membawa debu musim kering Rumah-rumah panggung berjejer rapat dengan penerangan seadanya dari pelita minyak yang berkedip-kedip gelisah di balik jendela bambu Di balai utama desa aroma dupa bercampur dengan bau keringat dan ketegangan yang pekat memenuhi ruangan Para warga berkumpul dalam diam yang mencekam memandangi sosok Ki Lurah Wirasana yang terduduk lemas di atas kursi kayu jati tua sementara beberapa p