Cuplikan Chapter ini
Angin malam berembus dingin membawa bau anyir darah yang menguap dari pelataran utama Perguruan Teratai Biru Di bawah naungan bulan sabit yang pucat pasi tegak sesosok pria paruh baya berjubah biru tua bersulam benang perak Wajahnya keras dihiasi bekas luka memanjang dari pelipis kiri hingga ke bawah rahang memberikan kesan bengis yang sulit disembunyikan Dialah Braja Biru Tetua tertinggi dari Cabang Selatan yang selama ini dianggap sebagai pelindung setia perguruan Namun malam ini