Cuplikan Chapter ini
Malam di desa pesisir nelayan itu terasa jauh lebih pekat dan sunyi dibandingkan dengan hiruk-pikuk Kota Senja Di sebuah beranda rumah panggung kayu sederhana yang menghadap langsung ke arah laut lepas angin malam menderu kencang membawa serta aroma garam deburan ombak yang menghantam karang dan dingin yang menusuk tulang Bara duduk bersila di atas kursi bambu tua menatap cangkir kopi hitam di tangannya yang sudah mendingin tanpa tersentuh sejak satu jam laluPria berambut agak beranta