Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
99. Ext. Halaman rumah - sore
Sebuah mobil sudah terparkir siap sedia dan Pak supir sedang menunggu di halaman rumah.
Cut to:
100. Ext/Int. Ruang tamu - sore
Tania duduk cemberut. Mamah sedang merias wajah dan Siti juga Randi membawakan koper-koper ke mobil.
Mamah
Kita hanya pergi sementara kok. Paling cuman dua atau tiga hari. Papah lagi butuh bantuan.
Tania
Kenapa aku gak boleh ikut?
Mamah
Papah sedang di tempat yang gak boleh dikunjungi anak kecil.
Tania
(Gusar)
Papah gak masuk rumah sakit lagi kan?A
Mamah terdiam sejenak. Ia memandang Tania lama sekali, kemudian menundukkan kepala.
Lalu tak lama Mamah membuka kedua tangan, tanpa bisa menutupi pelupuk matanya yang basah.
Mamah
(Lirih)
Gak, Nak. Papah gak masuk rumah sakit.
Tania
Jadi Papah kenapa, Mah? Aku boleh tahu kan?
Ia menatap Tania lagi dengan cukup lama sebelum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Mamah tersenyum dengan sangat manis. Randi masuk dan ikut duduk di ruang tamu.
Mamah
Mamah gak bisa jelasin, Nak. Mungkin kamu lebih baik tahunya dari Mas Randi saja, ya.
Mamah berdiri lalu memeluk kepala Tania sambil mencium keningnya.
Mamah
Sekarang Mamah harus ke Omah bentar, nitip pesan kalau kamu sama Mbak Siti di sini sendirian.
Mamah pergi keluar rumah meninggalkan Tania dan Randi.
Randi
Apa yang Tania ingin tahu.
Tania
Semuanya! Dan jangan bohongin aku lagi!
Randi
Kapan Mas bohongin Tania?
Tania
Semuanya bohong kan, Mas?
Gak pernah ada virus kan? Mas juga kepaksa ‘kan datang ke sini?
Randi
(Tertawa kecil)
Coba Tania inget-inget lagi, soal virus itu kan Mas sama sekali gak pernah ikut-ikutan dan Mas gak kepaksa kok buat dateng ke sini. Mas gak pernah kepaksa kalau buat Tania atau Mamah.
Tania
(Lemas)
Lalu ada apa sih, Mas? Papah kenapa?
Randi
Mas sebenarnya gak mau ngasih tahu kamu kayak gini.
Randi mengeluarkan telepon genggamnya dan memperlihatkan sebuah foto.
Randi
Tapi Mas pikir, kamu harus tahu.
Tania terkejut bukan main setelah melihat foto tersebut. Papah sedang mengenakan baju berwarna oranye. Seragam tahanan KPK.
Tania
Ini bohong kan, Mas?
Randi
(Menghela nafas panjang)
Ini sebabnya kenapa kita semua gak ada yang berani buat ngomong terang-terangan sama Tania.
Randi kembali memasukkan telepon genggam tersebut ke saku jaketnya.
Randi
Kita semua gak ada yang mau lihat Tania kecewa.
Tania
(Membentak)
Mas, aku harus ikut ke Jakarta! Aku harus ketemu Papah.
Randi
Gak boleh, Tania.
Tania
(Semakin keras membentak)
Kenapa? Jangan sampai bilang karena aku masih kecil, ya! Aku sudah bosan sama alasan itu.
Randi
(Lemas)
Karena Papah gak mau ketemu sama kamu.
Randi membelai rambut Tania lembut.
Randi
Papah tuh gak bisa liat Tania dulu. Tania tahu kan Papah sayang banget sama Tania. Jadi Papah gak bisa kalau Tania sampai lihat Papah kayak gitu.
Tania mengenyahkan tangan Mas Randi dari kepala.
Tania
Kalau Papah sayang sama aku. Papah gak mungkin sampai korupsi! Papah itu negarawan, dan negarawan itu gak boleh aneh-aneh. Apalagi sampai korupsi.
Randi
Negarawan? Tahu dari mana kamu kata itu.
Tania tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya seakan-akan tidak peduli pada pertanyaan tadi.
Randi menyandarkan tubuhnya, kembali menghela nafas panjang.
Randi
Mas sih gak tau apa Papah itu negarawan atau bukan. Tapi yang Mas tahu, Papah itu bukanlah koruptor.
Tania
Gimana Mas bisa tahu?
Randi
Mas yakin kalau Papah itu sayang banget sama Tania. Lebih dari apa pun juga. Jadi gak mungkin kalau dia bisa sampai korupsi yang pastinya bakal sangat ngecewain anak perempuannya ini.
Tania
Terus kenapa Papah bisa sampai ditangkep KPK? KPK pasti punya bukti kuat kalau sampai bisa nangkep Papah.
Randi
(Terkejut)
Bukti?
Randi tersenyum, menegakkan tubuh lalu melakukan kebiasaannya bila merasa gemas kepada adiknya. Mengacak-ngacak rambut Tania.
Randi
Kamu sudah pintar banget ya ternyata sekarang!
Tania
Kan aku udah bilang kalau aku ini bukan anak kecil lagi, Mas.
(Sambil mengenyahkan tangan Randi dari kepala)
Kita juga harus punya bukti kuat supaya bisa melepaskan Papah.
Randi
Itulah kenapa, Mamah dan Mas harus cepat ketemu sama Papah. Kita harus tahu hal yang sebenar-benarnya dari mulut Papah sendiri.
Randi kembali terdiam untuk menatap Tanua, kali ini lebih dalam dari sebelumnya.
Randi
Maafkan Mas ya, Tania.
Tania
Maaf kenapa?
Randi
Ya maafkan Mas sama Mamah. Maafkan semuanya lah.
Kembali disentuhkan tangan Randi pada wajah Tania. Tapi kali ini, Tania tidak mengenyahkan tangannya.
Randi
Selama ini kita semua masih anggap Tania itu seperti anak kecil yang gak tau apa-apa.
Tania tersenyum lesu kemudian menggenggam tangan yang sedang membelai lembut wajahnya.
Tania
Sudah lah, Mas. Sekarang gak usah pikirin hal itu. Sekarang kita harus pikirkan gimana caranya ngebuktiin kalau Papah itu gak bersalah.
Cut to:
101. Int. Kamar Tania - Malam
Tania tidur bersama Siti di ranjangnya. Siti sudah menutup matanya, Tania belum.
Siti
Tidur dong Tania.
Tania
Aku gak bisa tidur, Mbak. Mamah kok belum kasih kabar, ya?
Siti
Mamah ‘kan lagi fokus sama Papah dulu, Tania. Jadi kayaknya ndak akan sempet kasih kabar.
Tania
Coba Mbak cek lagi.
Siti mendesah, membuka matanya lalu mengambil telepon genggam yang selalu diselipkan di balik bantal setiap ia tidur. Mengutak-ngatik teleponnya itu sebentar, sedikit terganggu oleh cahaya yang keluar dari layarnya.
Siti
Tuh kan belum ada pesan masuk Tania.
Tania yang kecewa, menghembuskan napas panjang seperti biasa.
Tania
Aku sudah tahu rasanya jadi anak menteri. Tapi aku gak tahu gimana rasanya jadi anak koruptor.
Siti
(Menyela)
Hush! Tania ini ngomong apa toh?
Tania
Mbak Siti pastinya sudah tahu kan? Pasti Mbak Siti sudah tahu tentang ini sejak lama kan?
Siti
Papah itu orang jujur, Tania. Semua orang yang kenal Papah pasti tahu itu. Tania ndak boleh ngomong kayak gitu, ya.
Tania
Kayaknya Papah benar ya, Mbak? Papah gak mau kita semua terusik, itu sebabnya kita semua dikirim jauh-jauh ke sini. Kayaknya kemarin-kemarin Papah sudah tahu deh kalau dia bakal ditangkap KPK.
Siti
(Mengeluh)
Tania..Papah kan belum tentu bersalah.
Tania
(Yakin)
Mbak gak tahu, ya? KPK tuh sampai sekarang belum pernah nangkep orang yang gak bersalah.
Siti kembali terdiam sejenak, sejenak menarik napas, kemudian terdiam lagi. Terlihat ia sedang berpikir keras untuk mengatakan sesuatu kepada Tania
Siti
Tania dengar dari siapa itu?
Tania
Dari Papah!
KPK tuh gak pernah asal-asalan nangkep orang, Mbak.
Papah yang lebih tahu soal itu. Papah tuh kagum banget sebenarnya sama KPK.
Siti
Tetap saja, Tania. Mbak yakin Papah itu ndak mungkin korupsi.
Tania
Mbak ini tuh gimana sih? Kan aku sudah bilang kalo KPK itu gak pernah salah nangkap orang.
Siti
(Membujuk)
Tania, dengerkan Mbak coba. Tania paham kan kalau yang benar itu pasti menang?
Tania menganggukan kepala.
Siti
Jadi kalau kita yakin bahwa Papah itu benar, terus apa yang harus kita takutkan?
Tania bangun dan duduk.
Tania
Iya sih, Mbak. Tapi kan aku takut kalau Papah di penjara.
Siti
Tania, kita terus saja berdoa kalau itu ndak bakalan sampai terjadi. Tapi kalau itu harus terjadi, kita ndak boleh malu juga. Jalani saja.
Tania mengernyitkan alisnya, menatap Siti dengan aneh.
Siti tersenyum kemudian ikut bangun dan duduk di sebelah Tania.
Tania
Kok gitu sih?
Siti
Tania, banyak sekali orang benar yang harus masuk penjara.
Siti menghentikan ucapannya sejenak untuk menatap Tania yang sedang menunjukkan ekspresi penasaran.
Tania
Sebenarnya Mbak Siti tuh sekolahnya apa?
Siti kembali melukiskan senyumnya.
Siti
Mbak kuliah, Tania. Dulu memang Mbak hanya lulusan SMA. Tapi sejak kerja sama keluarganya Tania, Papah biayain kuliah Mbak Siti.
Tania
Kapan kuliahnya? Sudah lulus?
Siti
Sudah kok. Tahun lalu baru lulus. Kalau dulu Tania ingat, Mbak Siti yang sering main ke rumah teman, itu artinya Mbak sedang kuliah.
Siti membelai rambut Tania lagi.
Siti
Maafkan ya Tania. Mbak bohong terus ya sama kamu.
Tania
Gak apa-apa. Kalau sudah lulus, kenapa Mbak masih kerja di sini?
Siti hanya bisa menjawab dengan sebuah senyuman kecil.
Tania
Apa karena Mbak Siti merasa berhutang sama Papah?
Situ langsung menggelengkan kepalanya. Namun sebelum ia sempat menjawab pertanyaan tersebut, mereka berdua terkejut karena tiba-tiba saja ada yang sedang mengetuk pintu kamar.
Tania dan Siti bertatapan, menunggu sampai pintu kamar kembali diketuk.
Setelah ketukan yang kedua, Siti kemudian turun dari tempat tidur sambil berjalan mendekati pintu.
Tania yang tentu saja merasa takut, tidak ingin ditinggalkan sendiri di tempat tidur, segera ikut beranjak dan berjalan di belakang sambil memegang ujung bajunya erat-erat.
Siti mulai membuka pintu kamar.
Siti
Omah? Ada apa ya malam-malam begini?
Kok bisa masuk ya, rasanya tadi pintu depan sudah saya kunci?
Tania melongok dari balik tubuh Siti.
Tania
Bukan, Mbak. Itu bukan Omah.
Cut to :