Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Raga Tanpa Jiwa
Suka
Favorit
Bagikan
25. Scene 25

166. EXT. BAGIAN DEPAN KAPAL 

Pak Wijaya sedang mengobrol dengan Doni, Risma, Naya dan Rita.


PAK WIJAYA

Ini, salah satu kapal terbesar di kota Sebrang. Ada 2 sekoci di samping, buat jaga-jaga kalau seandainya terjadi sesuatu. Tapi, cuma muat untuk 5 orang setiap sekoci. Dan belum pernah dipakai. Mungkin karena alasan itu kapal ini dikirim kesini buat bantu penyelamatan.


Doni mendengar cerita pak Wijaya dengan pikirannya yang masih tak karuan.


DONI

Andai teman-teman saya ada disini sekarang, pasti mereka senang.


Pak Wijaya memahami kesedihan Doni dan lainnya.


PAK WIJAYA

Mereka pasti lega sekarang, lihat kalian sudah selamat.(Menepuk pundak Doni).


Tak lama, terdengar kegaduhan di bagian dalam kapal.

Rita melihat orang-orang berlarian didalam.


RITA

Kak, itu orang-orang kenapa??(Sedikit takut).


Naya mencoba masuk untuk mengecek.

Namun, 2 orang tiba-tiba keluar ke bagian depan kapal dengan wajah ketakutan.

Naya dan lainnya terkejut.


RISMA

Pak... Kenapa pak!?


ORANG 1

Didalam...(Nafas terengah-engah) Didalam, ada yang terinfeksi!(Ketakutan).


Doni dan lainnya terkejut.


PAK WIJAYA 

(Mulai panik). Astaga. Kok bisa mereka naik kesini.


ORANG 1

Kita lompat aja. Bahaya disini...!


Orang 1 melompat ke air.


RISMA

Pak, jangan pak!


Pak Wijaya dan lainnya coba masuk kedalam.

CUT TO

167. INT. DALAM KAPAL 

Keadaan sudah kacau.

Beberapa orang telah menjadi zombi.


DONI

(Menghela nafas). Kenapa lagi ini...


PAK WIJAYA

Hei, lari ke depan kapal! Cepat!


Orang-orang berlari ke bagian depan kapal.

Mereka tampak panik dan bingung harus melakukan apa.


ORANG 1

Sekarang kemana?? Nggak mungkin kita disini.


Doni ingat soal sekoci.


DONI

Pak, sekocinya...


PAK WIJAYA

Ada disamping kapal. Ayo, bantu turunkan.


CUT TO

168. EXT. BAGIAN SAMPING KAPAL

Pak Wijaya dan Doni mencoba melepas tali sekoci.

Sekoci terlepas.


PAK WIJAYA

Suruh semuanya ke sini. Sekarang!


CUT TO

Doni menyuruh semuanya pindah ke sekoci.

Orang-orang saling mendahului untuk bisa pindah ke sekoci.

Situasi semakin kacau.


PAK WIJAYA

Hei(Doni), inget, 1 Sekoci cuma muat 5 orang. Nggak bisa lebih.


Doni bingung harus menaikkan siapa saja ke dalam sekoci.

Zombi mulai keluar ke bagian depan kapal.

Doni dan Pak Wijaya berusaha menahan pintu.

Semuanya bergegas pindah ke sekoci.

CUT TO


RISMA

Rita, kamu pindah ke sekoci dulu.


RITA

Enggak enggak. Kakak harus ikut.


RISMA

Kakak harus bantu yang lain dulu. Rita(memegang pipi Rita sembari menatapnya), kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Jadi tolong ikutin kata kakak, ya? Kamu naik ke sekoci dulu. Nanti kakak nyusul.


Dengan berat hati Rita pergi menuju sekoci.

CUT TO

Pak Wijaya ingat Hendri masih di ruang kemudi.

Pak Wijaya berteriak.


PAK WIJAYA

Hendrii, Hendri! Cepat keluar!!


CUT TO 

169. INT. RUANG KEMUDI 

Beberapa zombi masuk ke ruang kemudi.

Hendri sangat panik.

Hendri memecahkan kaca kapal.

Hendri berusaha turun ke bagian depan kapal.

Usaha Hendri gagal.

Dia ditarik oleh beberapa zombi.


HENDRI

Pak, paak... Toloong...!(Panik)


Hendri tidak selamat.

CUT TO

170. BAGIAN DEPAN KAPAL

Dua zombi melompat keluar dari ruang kemudi ke bagian depan kapal.

Zombi jatuh tepat di hadapan Rita.

Rita terkejut.

Zombi menyerang Rita.

Rita berusaha menghindar.

Naya datang, lalu menendang zombi itu.

Saat Naya bersiap menembak, satu zombi lainnya menyerang Naya.

Lengan Naya tergigit.

Naya mendorong dan menendang zombi.

Rita membantu melawan.


NAYA

Sial!


RITA

Kak...


NAYA

Rita, naik sekoci. Sekarang.


Risma menghampiri Rita.


RISMA

Rita. Nay...(Melihat tangan Naya tergigit)


NAYA

Bawa Rita pergi. Gue tahan mereka(zombi).


Risma meneteskan air mata.


RISMA

Nay...(Tak sanggup meninggalkan Naya)


RITA

Kak Naya...(Sedih)


NAYA

Rita, kamu harus selamat.


Rita memeluk Naya.

Begitupun Risma yang langusng menangis sembari memeluk Naya.


NAYA

Maaf, gue nggak bisa ikut ke kota Sebrang. Senang bisa kenal sama kalian, dan yang lain(meneteskan air mata).


Risma dan Rita kemudian pergi ke sekoci.

Naya tidak ingin dirinya menjadi zombi.

Dia membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hidupnya.

Dia bersiap menembak dirinya sendiri dengan senapan yang masih tersisa 1 peluru.

Naya menghela nafas panjang.

Dia menodongkan senapan kearah kepalanya.

Dan akhirnya Naya tewas.

CUT TO

Risma melihat Naya.


RISMA

Naya!(Tidak percaya)


Risma memeluk Rita.

Dia kembali harus melihat satu temannya tewas.

Lalu setelah itu, dia berusaha turun ke sekoci dengan Rita.

Namun, saat turun menuju sekoci, Risma melihat Doni sedang menahan pintu ke bagian depan kapal agar zombi terkurung didalam kapal.


RISMA

Donii, ayo cepat!


CUT TO

DONI

Kamu pergi dulu sama Rita. Nanti aku nyusul.


Pak Wijaya masih mengkhawatirkan Hendri.

Pak Wijaya terus memanggil Hendri.

Dia tidak mengetahui jika Hendri telah tewas.


PAK WIJAYA

Hendrii...(Cemas).


Risma dan Rita telah berada di sekoci.

Sekoci telah penuh.


PAK WIJAYA

Sekoci sudah penuh, kita nggak bisa ikut kesana.


DONI

Biarkan mereka pergi. Mereka harus selamat.


Pak Wijaya merasa omongan Doni benar.


PAK WIJAYA

Iya, mereka harus selamat. Ini tujuan saya kesini, buat selamatin mereka.


DONI

Terima kasih sudah datang.


CUT TO

171. EXT. SEKOCI


RISMA

Doni... Don, cepet naik. Ngapain masih disitu!?


CUT TO

Doni hanya diam.

Dia menatap Risma dengan senyuman.

CUT BACK TO


RISMA

Donii!


CUT TO


DONI

Rismaa, maaf aku cuma bisa jagain kamu sampai sini(sedih). Kamu harus hidup. Jangan buat semuanya sia-sia.


CUT BACK TO


RISMA

Doni, Don! Doni...(Menangis)


Risma berusaha turun dari sekoci.

Rita menahan Risma.

Beberapa orang coba menenangkan Risma.


RITA

Kak, jangan...(Meneteskan air mata)


RISMA

Donii...(Menangis)


Rita memeluk Risma.

CUT TO(Kapal)

Doni menenteskan air mata.

Sekoci 1 pergi.

Tak lama kemudian, sekoci 2 pergi.


DONI

Sekarang, gimana?


PAK WIJAYA

Mereka(menatap kearah Risma dan lainnya) udah menjauh dari kapal. Hitungan ke 3, kita lepas pintunya. Saya harus ke ruang kemudi.


DONI

Saya rasa, akan sulit naik kesana.


PAK WIJAYA

Saya harus belokkan kapal ini. Di sebelah sana ada batu karang besar. Kamu pasti tau apa yang saya maksud. Dan saya juga harus pastikan Hendri sudah naik ke sekoci.


Doni memahami maksud pak Wijaya.


DONI

Baiklah. Saya bantu.


Pak Wijaya bermaksud menabrakkan kapal ke batu karang.


PAK WIJAYA

Ingat, hitungan ke tiga kita lepas. 1... 2... 3.


Pak Wijaya dan Doni berlari menjauh dari pintu.

Zombi berhamburan keluar ke bagian depan kapal.

Kaki Doni tergigit.

Pak Wijaya membantu Doni.

Dia menendang zombi itu.

Mereka berusaha naik ke bagian ruang kemudi.


PAK WIJAYA

Hei, nanti kita lompat sebelum kapal menabrak karang.


DONI

Iya.


PAK WIJAYA

Semoga kita masih bisa selamat.(Tersenyum kecil).


Mereka berusaha naik ke ruang kemudi dengan melewati zombi-zombi itu.

Doni mencoba melindungi Pak Wijaya.

Sebab dia telah terinfeksi.

Bahkan dia kembali terkena gigitan zombi beberapa kali saat melindungi pak Wijaya.

CUT TO

172. INT. DALAM KAPAL - RUANG KEMUDI

Pak Wijaya langsung terdiam.

Dia melihat Hendri sudah menjadi zombi.

Hendri menatap pak Wijaya dengan wajahnya yang menyeramkan.

Pak Wijaya tidak menyangka.


PAK WIJAYA

Hendri(tidak percaya)... Maaf.


Hendri menyerang pak Wijaya.

Doni menarik Hendri dan mendorongnya hingga jatuh ke bawah bagian depan kapal.


DONI

Pak, belokkan kapal sekarang.


Pak Wijaya masih terdiam.

Doni melihat kapal semakin menjauh dari batu karang.

Dia takut kapal tak sempat berbelok dan mendekat ke sekoci.


DONI

Pak! Cepat belokkan sekarang!


Pak Wijaya kemudian membelokkan kapal.

Doni lega.

Doni duduk.

Dia melihat kakinya yang tergigit.

Pak Wijaya duduk di sebelah Doni.


DONI

Harusnya anda lompat sekarang. Mungkin masih bisa selamat. Saya sudah terinfeksi(menunjukkan luka gigitan di kakinya).


PAK WIJAYA

Hendri tewas karena saya. Saya sudah janji akan bawa bia pulang dengan selamat.(Merasa bersalah). Dan, saya gagal.


Zombi-zombi mulai memasuki ruang kemudi, lalu menyerang Pak Wijaya dan Doni.

Mereka berdua tidak selamat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)