Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Raga Tanpa Jiwa
Suka
Favorit
Bagikan
20. Scene 20

SCENE 132. INT. DALAM KAPAL – MALAM

Pak Wijaya dan Hendri masih dalam perjalanan menuju pelabuhan Kota Marakas.

Mereka sedang berada di ruang kemudi.

Pak Wijaya baru saja mendapat telfon dari walikota tentang kabar terbaru dari virus di kota Marakas.

Dia nampak mulai resah.


PAK WIJAYA

Hen, barusan pak walikota telfon. Dia bilang kalo kita nggak boleh turun dari kapal. Jadi, nanti biar mereka(warga kota Marakas) yang naik sendiri. Kita nggak boleh bantu.

 

HENDRI

Kenapa pak?

 

PAK WIJAYA

Saya juga nggak tau pasti. Katanya, virus ini nyebar melalui gigitan.

 

HENDRI

Wah, jadi ngeri gini pak. Apa kita balik aja sekarang ya? Makin takut ini saya.

 

PAK WIJAYA

Nggak bisa gitu lah. Ini kan udah perintah dari walikota. Mana bisa kita batalin seenaknya sendiri. Aneh aja kamu ini.Orang-orang yang dipelabuhan itu masih aman. Belum kena virus ini. Makanya kita disuruh jemput.

 

HENDRI

Semoga aja mereka masih aman sampai kita datang pak.

 

PAK WIJAYA

Saya juga berharap gitu. Bentar-bentar... Berarti, ini(mengambil masker) udah nggak ada gunanya.

 

HENDRI

Bawa pulang lagi aja pak. Nggak ngebantu juga.

 

CUT TO

133. INT. DALAM GEDUNG WALIKOTA SEBRANG

Walikota sebrang bersiap menuju gedung presiden.

Presiden mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan terhadap masalah di kota Marakas.

CUT TO(depan gedung)

Profesor Indra dan Dokter Jihan coba kembali menemui walikota.


PROFESOR INDRA

Kenapa harus di hancurkan sih? Kita masih bisa cari solusi lain. Harusnya mereka(walikota dan lainnya) nggak terburu-buru kayak gini.


DOKTER JIHAN

Saya juga nggak setuju dengan keputusan itu. Tapi mau gimana lagi. Ini udah keputusan bersama.


PROFESOR INDRA

Pokoknya saya harus hentikan rencana itu. Gimana pun caranya.


Tak lama nampak walikota keluar dari gedung bersama beberapa anggotanya.

Profesor Indra dan Dokter Jihan menghampirinya.

 

PROFESOR INDRA

Pak.


Pengawal coba menahan profesor Indra.


WALIKOTA

Maaf, saya harus pergi.


PROFESOR INDRA

Pak, apa nggak bisa cari cara lain? Saya mohon jangan hancurkan kota Marakas.


WALIKOTA

Cuma ini satu-satunya cara memutus virus itu. Sebelum merambat ke kota lain. Termasuk kota Sebrang.


Profesor Indra masih tak setuju.


 WALIKOTA

Saya juga nggak mau keputusan presiden soal penghancuran kota Marakas bisa terealisasi. Tapi ini yang terbaik. Saya sudah pikirkan matang-matang.

 

Profesor Indra coba terus mencari cara.

 

PROFESOR INDRA

Pak, tolong, jangan hancurkan kota Marakas. Saya akan coba buat obat penawarnya. Saya janji akan temukan obat itu segera.


DOKTER JIHAN

Pak, tolong. Beri kita kesempatan. Nggak ada salahnya mencoba.

 

WALIKOTA

Bukan saya yang berhak memutuskan. Semuanya ada di tangan presiden. Saya cuma bisa mengulur waktu sedikit, sambil menunggu hasil dari kalian kalau memang kalian benar-benar serius temukan obat penawarnya. Tapi ingat, kalian harus cepat. Saya nggak bisa lama-lama menahan keputusan.

 

PROFESOR INDRA

(Lega). Pasti. Kita nggak akan lama. Terima kasih pak.

 

DOKTER JIHAN

Terima kasih.


Dokter Jihan dan Profesor Indra menemukan secercah harapan.

 

WALIKOTA

Semoga kalian cepat menemukan obat penawar itu. Saya tunggu kabar dari kalian.

 

Walikota pergi ke gedung presiden.

 

PROFESOR INDRA

Ada sempel dari virus itu di lab, bisa kita gunakan untuk buat obat penawarnya.

 

DOKTER JIHAN

Yasudah, kita buat sekarang. Waktu kita nggak banyak. Ayo.

 

Mereka berdua bergegas pergi ke lab untuk membuat obat penawar.

CUT TO

134. INT. DALAM MOBIL

Doni, Niko, Naya, Gerry dan Risma masih menuju pelabuhan.

Mereka semua terdiam tanpa ada obrolan.

Mereka tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.

 

NAYA

Pelabuhan masih jauh?

 

NIKO

Iya. Lumayan.

 

Risma masih teringat Tina dan Bobby.

 

DONI

Sebaiknya kalian Istirahat dulu. Nanti kalau udah sampai gue bangunin.

 

NIKO

Lihat keadaannya kayak gini, saya rasa kalian nggak akan mungkin bisa tidur(Teringat komandan Tio).

 

RISMA

Harusnya gue bisa selamatin Tina tadi. Tenapa kalian halangin gue? Tina pasti selamat kalau gue tolongin(Sedih dan kesal).

 

NAYA

Hei, Udahlah. Semuanya udah terjadi. Percuma lo marah-marah nggak jelas sekarang. Nggak akan ngerubah keadaan. Tina juga nggak bakal mau mati kayak gini. Tapi mau gimana lagi. Itu udah terjadi. Dan, gue yakin dia pasti ingin kita selamat. Jadi tolong, jangan buat kematian mereka sia-sia. Kita udah hampir sampai.

 

Rita memeluk Risma.

Dia mengusap air mata Risma.

 

NIKO

Berhenti.

 

DONI

Hm?

 

NIKO

Berhenti sebentar.

 

Doni menepikan mobil dengan wajah penasaran.

Nampak wajah Niko mulai pucat.

 

DONI

Kenapa?

 

NIKO

Biar saya yang nyetir, kamu pindah kesini. Saya yang diberi tugas komandan Tio untuk antar kalian sampai ke pelabuhan dengan selamat.

 

DONI

Oh. Ok.

 

Doni dan Niko bertukar tempat. 

Niko kemudian menjalankan mobil.

JUMP CUT TO

15 menit perjalanan.

Risma, Naya, Rita, Gerry dan Doni tidur.

Niko melipat lengan bajunya perlahan.

Dia melihat luka bekas gigitan di lengannya.

Luka itu semakin parah.

Niko sangat menyesal dengan keadaanya kini.

 

NIKO

Sial...(Berusaha kuat menahan Virus di tubuhya)

 

Niko mempercepat laju mobil agar cepat sampai pelabuhan.

Dia tak ingin berubah menjadi zombi di dalam mobil.

JUMP CUT TO

135. EXT. PELABUHAN - MALAM

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mereka sampai di pelabuhan.

Terlihat beberapa orang sedang melakukan kegiatan.

Mereka masih menunggu kedatangan kapal.

CUT TO

136. INT. DALAM MOBIL

Niko membangunkan Doni dan lainnya.

 

NIKO

Hei, bangun. Kita udah sampai.

 

Doni, Risma, Rita, Gerry dan Naya bangun.

Mereka turun dari mobil satu persatu.

CUT TO

137. PELABUHAN - TENDA SEMENTARA

Doni dan lainnya tampak begitu lega dan senang melihat banyak orang di pelabuhan.

 

NAYA

Masih banyak yang selamat rupanya(tersenyum lega).


GERRY

(Mengehal nafas). Pemandangan ini yang gue harapin. Ngelihat orang-orang yang belum terinfeksi berkumpul di satu tempat. Akhirnya kita selamat.


Risma masih syok.

Rita terus mendampinginya.


NIKO

Ikut saya. Saya carikan kalian tempat istirahat.


RITA

Ayo kak(Menggandeng tangan Risma)


Mereka berjalan.

 

RISMA

Andai Bobby, Tina, dan lainnya sekarang ada disini, mereka pasti senang.

 

DONI

Iya. Itu udah pasti. Tapi, aku yakin mereka bahagia lihat kita berhasil sampai ke pelabuhan sekarang.

 

GERRY

Yang terpenting pengorbanan mereka nggak kita sia-siain(teringat Bobby). Itu udah cukup buat mereka.


CUT TO (depan kontainer)

Rita teringat Bu Jesika.

Dia menatap ke langit.

 

RITA(V.O)

Bu, Rita udah sampai di pelabuhan(Wajah sedih). Rita baik-baik aja. Bu Jesika jangan khawatir ya disana.

 

Risma melihat Rita.

Dia menghampiri Rita dan menatap ke arah Rita.

 

RISMA

Rita. Kakak akan jagain kamu sampai kapan pun. Kakak janji nggak akan biarin kamu kenapa-napa. (Kemudian tersenyum)

 

RITA

Iya. Makasih kak(senyum).


Rita memeluk Risma. 

 

NIKO

Kalian istirahat disini. Besok kapal dari kota Sebrang datang.

 

DONI

Terima kasih, udah antar kita sampai sini. Komandan Tio pasti bangga lihat anda sekarang.

 

NIKO

(Tersenyum kecil). Saya tinggal dulu, selamat istirahat. Oh iya, untuk makan, kalian bisa ambil di kontainer hijau. Ada beberapa makanan disana. Permisi.

 

Niko kemudian pergi.

Tanpa disadari, kunci mobil yang dia bawa terjatuh.

Niko mulai merasa tidak enak badan.

Dia berjalan sedikit sempoyongan.

Wajah Niko mulai pucat.

Niko mencari kunci mobil.

Namun dia tak menemukannya.

Niko sudah tidak bisa menahan sakit dibadannya.

Dia pun bergegas menuju mobil.

CUT TO

138. INT. DALAM MOBIL

Niko masuk ke mobil dan mengunci pintu mobil dari dalam.

Virus di dalam tubuhnya mulai bereaksi.

CUT TO

139. EXT. PELABUHAN

Risma keluar dari kontainer.

Risma duduk di sebuah batu besar sambil menatap lautan yang luas.

Doni datang sambil membawa makanan.

Doni duduk disebelah Risma.

 

DONI

Nggak tidur?

 

RISMA

Enggak.

 

Doni memberikan sebuah makanan ke Risma.

 

DONI

Nih. Pasti laper.

 

RISMA

Makasih. (Menghela nafas)... Aku masih nggak percaya sama apa yang terjadi sekarang. Aku sempat berfikir kalau ini tuh cuma mimpi buruk. Tapi, ternyata ini beneran terjadi.

 

DONI

Aku juga sempat mikir gitu. Sayangnya ini bukan mimpi.

 

RISMA

Padahal, kita baru aja ketemu lagi setelah beberapa tahun. Malah jadi gini(sedih).

 

Doni pun merasakan kesedihan itu.

 

RISMA

Aku harap ini semua cepet selesai. Aku udah capek.

 

DONI

Semoga aja. Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu.

 

RISMA

Apa?

 

Doni mengeluarkan kalung dari saku.

 

DONI

Aku sebenarnya udah lama nyimpen ini, sejak kita masih sekolah. Dan sekarang, meski agak kurang pas waktunya, aku mau kasih ini ke kamu. Yaa nggak terlalu mahal sih, tapi semoga kamu suka.

 

RISMA

Ini, beneran buat aku??(Tidak menyangka)

 

DONI

Iya.

 

RISMA

Makasih ya(tersenyum)... Bagus kalungnya.

 

Risma sangat senang.

Dia langsung memakai kalung itu.

 

DONI

Sama-sama. (Lega Risma suka kalung itu).

 

Setelah itu Risma dan Doni makan.

CUT TO

Naya melihat Doni dan Risma tampak mesra.

Dia kemudian pergi.

CUT TO

140. INT. DALAM KONTAINER

Naya duduk di sebelah Rita.

Tak lama Gerry datang membawa 2 makanan.

Setelah itu dia duduk di sebelah Naya.

 

GERRY

Nay, ini gue bawain roti.

 

Naya hanya diam.

 

GERRY

Naya?

 

RITA

Kak, buat aku mana?

 

GERRY

Hm? Oh iya, lupa. Bentar-bentar.

 

Saat akan pergi mengambil roti, Naya menahan Gerry.

 

NAYA

Udah nggak usah. Jangan ambil lagi.

 

Naya mengambil roti yang diberi Gerry.

Dia kemudian memberikan roti itu ke Rita.

 

RITA

Makasih kak.

 

NAYA

Stok makanan disini nggak banyak, jangan ambil berlebihan.

 

GERRY

Iya gue juga tau. Tapi lo harus makan. Gue yakin lo laper. Nih, lo makan roti gue aja. Gue bisa ambil lagi.

 

NAYA

Gue masih kenyang. Makan aja. Lagian kita disini cuma semalam, besok udah pindah ke kota Sebrang.

  

GERRY

Iya sih. Tapi tetep Nay, kita harus makan.

 

RITA

Kak, sini rotinya kalo nggak mau. Buat aku aja.


GERRY

Enak bener nih bocah. Udah di kasih minta lagi.


RITA

Kak, aku tuh ya, lapeerr banget dari tadi. Nggak cukup kalo cuma dikasih 1 roti. Harusnya kakak paham lah. Sini, buat aku aja rotinya. Kakak kan bisa ambil lagi.


Gerry memakan roti itu satu suap.

 

GERRY

Yaah, udah habis(dengan roti masih didalam mulutnya)... Ambil sendiri ya. Tuh disana.

 

RITA

Kok dimakan siih.

 

GERRY

Lah kenapa. Orang punya gue.


RITA

Iih...(kesal dan mencubit Gerry). Ngeselin.


GERRY

Aduh, sakit dong.


RITA

Biarin.


Naya tersenyum melihat kelakuan Gerry dan Naya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)