SCENE 132. INT. DALAM KAPAL – MALAM
Pak Wijaya dan Hendri masih dalam perjalanan menuju pelabuhan Kota Marakas.
Mereka sedang berada di ruang kemudi.
Pak Wijaya baru saja mendapat telfon dari walikota tentang kabar terbaru dari virus di kota Marakas.
Dia nampak mulai resah.
PAK WIJAYA
Hen, barusan pak walikota telfon. Dia bilang kalo kita nggak boleh turun dari kapal. Jadi, nanti biar mereka(warga kota Marakas) yang naik sendiri. Kita nggak boleh bantu.
HENDRI
Kenapa pak?
PAK WIJAYA
Saya juga nggak tau pasti. Katanya, virus ini nyebar melalui gigitan.
HENDRI
Wah, jadi ngeri gini pak. Apa kita balik aja sekarang ya? Makin takut ini saya.
PAK WIJAYA
Nggak bisa gitu lah. Ini kan udah perintah dari walikota. Mana bisa kita batalin seenaknya sendiri. Aneh aja kamu ini.Orang-orang yang dipelabuhan itu masih aman. Belum kena virus ini. Makanya kita disuruh jemput.
HENDRI
Semoga aja mereka masih aman sampai kita datang pak.
PAK WIJAYA
Saya juga berharap gitu. Bentar-bentar... Berarti, ini(mengambil masker) udah nggak ada gunanya.
HENDRI
Bawa pulang lagi aja pak. Nggak ngebantu juga.
CUT TO
133. INT. DALAM GEDUNG WALIKOTA SEBRANG
Walikota sebrang bersiap menuju gedung presiden.
Presiden mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan terhadap masalah di kota Marakas.
CUT TO(depan gedung)
Profesor Indra dan Dokter Jihan coba kembali menemui walikota.
PROFESOR INDRA
Kenapa harus di hancurkan sih? Kita masih bisa cari solusi lain. Harusnya mereka(walikota dan lainnya) nggak terburu-buru kayak gini.
DOKTER JIHAN
Saya juga nggak setuju dengan keputusan itu. Tapi mau gimana lagi. Ini udah keputusan bersama.
PROFESOR INDRA
Pokoknya saya harus hentikan rencana itu. Gimana pun caranya.
Tak lama nampak walikota keluar dari gedung bersama beberapa anggotanya.
Profesor Indra dan Dokter Jihan menghampirinya.
PROFESOR INDRA
Pak.
Pengawal coba menahan profesor Indra.
WALIKOTA
Maaf, saya harus pergi.
PROFESOR INDRA
Pak, apa nggak bisa cari cara lain? Saya mohon jangan hancurkan kota Marakas.
WALIKOTA
Cuma ini satu-satunya cara memutus virus itu. Sebelum merambat ke kota lain. Termasuk kota Sebrang.
Profesor Indra masih tak setuju.
WALIKOTA
Saya juga nggak mau keputusan presiden soal penghancuran kota Marakas bisa terealisasi. Tapi ini yang terbaik. Saya sudah pikirkan matang-matang.
Profesor Indra coba terus mencari cara.
PROFESOR INDRA
Pak, tolong, jangan hancurkan kota Marakas. Saya akan coba buat obat penawarnya. Saya janji akan temukan obat itu segera.
DOKTER JIHAN
Pak, tolong. Beri kita kesempatan. Nggak ada salahnya mencoba.
WALIKOTA
Bukan saya yang berhak memutuskan. Semuanya ada di tangan presiden. Saya cuma bisa mengulur waktu sedikit, sambil menunggu hasil dari kalian kalau memang kalian benar-benar serius temukan obat penawarnya. Tapi ingat, kalian harus cepat. Saya nggak bisa lama-lama menahan keputusan.
PROFESOR INDRA
(Lega). Pasti. Kita nggak akan lama. Terima kasih pak.
DOKTER JIHAN
Terima kasih.
Dokter Jihan dan Profesor Indra menemukan secercah harapan.
WALIKOTA
Semoga kalian cepat menemukan obat penawar itu. Saya tunggu kabar dari kalian.
Walikota pergi ke gedung presiden.
PROFESOR INDRA
Ada sempel dari virus itu di lab, bisa kita gunakan untuk buat obat penawarnya.
DOKTER JIHAN
Yasudah, kita buat sekarang. Waktu kita nggak banyak. Ayo.
Mereka berdua bergegas pergi ke lab untuk membuat obat penawar.
CUT TO
134. INT. DALAM MOBIL
Doni, Niko, Naya, Gerry dan Risma masih menuju pelabuhan.
Mereka semua terdiam tanpa ada obrolan.
Mereka tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
NAYA
Pelabuhan masih jauh?
NIKO
Iya. Lumayan.
Risma masih teringat Tina dan Bobby.
DONI
Sebaiknya kalian Istirahat dulu. Nanti kalau udah sampai gue bangunin.
NIKO
Lihat keadaannya kayak gini, saya rasa kalian nggak akan mungkin bisa tidur(Teringat komandan Tio).
RISMA
Harusnya gue bisa selamatin Tina tadi. Tenapa kalian halangin gue? Tina pasti selamat kalau gue tolongin(Sedih dan kesal).
NAYA
Hei, Udahlah. Semuanya udah terjadi. Percuma lo marah-marah nggak jelas sekarang. Nggak akan ngerubah keadaan. Tina juga nggak bakal mau mati kayak gini. Tapi mau gimana lagi. Itu udah terjadi. Dan, gue yakin dia pasti ingin kita selamat. Jadi tolong, jangan buat kematian mereka sia-sia. Kita udah hampir sampai.
Rita memeluk Risma.
Dia mengusap air mata Risma.
NIKO
Berhenti.
DONI
Hm?
NIKO
Berhenti sebentar.
Doni menepikan mobil dengan wajah penasaran.
Nampak wajah Niko mulai pucat.
DONI
Kenapa?
NIKO
Biar saya yang nyetir, kamu pindah kesini. Saya yang diberi tugas komandan Tio untuk antar kalian sampai ke pelabuhan dengan selamat.
DONI
Oh. Ok.
Doni dan Niko bertukar tempat.
Niko kemudian menjalankan mobil.
JUMP CUT TO
15 menit perjalanan.
Risma, Naya, Rita, Gerry dan Doni tidur.
Niko melipat lengan bajunya perlahan.
Dia melihat luka bekas gigitan di lengannya.
Luka itu semakin parah.
Niko sangat menyesal dengan keadaanya kini.
NIKO
Sial...(Berusaha kuat menahan Virus di tubuhya)
Niko mempercepat laju mobil agar cepat sampai pelabuhan.
Dia tak ingin berubah menjadi zombi di dalam mobil.
JUMP CUT TO
135. EXT. PELABUHAN - MALAM
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mereka sampai di pelabuhan.
Terlihat beberapa orang sedang melakukan kegiatan.
Mereka masih menunggu kedatangan kapal.
CUT TO
136. INT. DALAM MOBIL
Niko membangunkan Doni dan lainnya.
NIKO
Hei, bangun. Kita udah sampai.
Doni, Risma, Rita, Gerry dan Naya bangun.
Mereka turun dari mobil satu persatu.
CUT TO
137. PELABUHAN - TENDA SEMENTARA
Doni dan lainnya tampak begitu lega dan senang melihat banyak orang di pelabuhan.
NAYA
Masih banyak yang selamat rupanya(tersenyum lega).
GERRY
(Mengehal nafas). Pemandangan ini yang gue harapin. Ngelihat orang-orang yang belum terinfeksi berkumpul di satu tempat. Akhirnya kita selamat.
Risma masih syok.
Rita terus mendampinginya.
NIKO
Ikut saya. Saya carikan kalian tempat istirahat.
RITA
Ayo kak(Menggandeng tangan Risma)
Mereka berjalan.
RISMA
Andai Bobby, Tina, dan lainnya sekarang ada disini, mereka pasti senang.
DONI
Iya. Itu udah pasti. Tapi, aku yakin mereka bahagia lihat kita berhasil sampai ke pelabuhan sekarang.
GERRY
Yang terpenting pengorbanan mereka nggak kita sia-siain(teringat Bobby). Itu udah cukup buat mereka.
CUT TO (depan kontainer)
Rita teringat Bu Jesika.
Dia menatap ke langit.
RITA(V.O)
Bu, Rita udah sampai di pelabuhan(Wajah sedih). Rita baik-baik aja. Bu Jesika jangan khawatir ya disana.
Risma melihat Rita.
Dia menghampiri Rita dan menatap ke arah Rita.
RISMA
Rita. Kakak akan jagain kamu sampai kapan pun. Kakak janji nggak akan biarin kamu kenapa-napa. (Kemudian tersenyum)
RITA
Iya. Makasih kak(senyum).
Rita memeluk Risma.
NIKO
Kalian istirahat disini. Besok kapal dari kota Sebrang datang.
DONI
Terima kasih, udah antar kita sampai sini. Komandan Tio pasti bangga lihat anda sekarang.
NIKO
(Tersenyum kecil). Saya tinggal dulu, selamat istirahat. Oh iya, untuk makan, kalian bisa ambil di kontainer hijau. Ada beberapa makanan disana. Permisi.
Niko kemudian pergi.
Tanpa disadari, kunci mobil yang dia bawa terjatuh.
Niko mulai merasa tidak enak badan.
Dia berjalan sedikit sempoyongan.
Wajah Niko mulai pucat.
Niko mencari kunci mobil.
Namun dia tak menemukannya.
Niko sudah tidak bisa menahan sakit dibadannya.
Dia pun bergegas menuju mobil.
CUT TO
138. INT. DALAM MOBIL
Niko masuk ke mobil dan mengunci pintu mobil dari dalam.
Virus di dalam tubuhnya mulai bereaksi.
CUT TO
139. EXT. PELABUHAN
Risma keluar dari kontainer.
Risma duduk di sebuah batu besar sambil menatap lautan yang luas.
Doni datang sambil membawa makanan.
Doni duduk disebelah Risma.
DONI
Nggak tidur?
RISMA
Enggak.
Doni memberikan sebuah makanan ke Risma.
DONI
Nih. Pasti laper.
RISMA
Makasih. (Menghela nafas)... Aku masih nggak percaya sama apa yang terjadi sekarang. Aku sempat berfikir kalau ini tuh cuma mimpi buruk. Tapi, ternyata ini beneran terjadi.
DONI
Aku juga sempat mikir gitu. Sayangnya ini bukan mimpi.
RISMA
Padahal, kita baru aja ketemu lagi setelah beberapa tahun. Malah jadi gini(sedih).
Doni pun merasakan kesedihan itu.
RISMA
Aku harap ini semua cepet selesai. Aku udah capek.
DONI
Semoga aja. Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu.
RISMA
Apa?
Doni mengeluarkan kalung dari saku.
DONI
Aku sebenarnya udah lama nyimpen ini, sejak kita masih sekolah. Dan sekarang, meski agak kurang pas waktunya, aku mau kasih ini ke kamu. Yaa nggak terlalu mahal sih, tapi semoga kamu suka.
RISMA
Ini, beneran buat aku??(Tidak menyangka)
DONI
Iya.
RISMA
Makasih ya(tersenyum)... Bagus kalungnya.
Risma sangat senang.
Dia langsung memakai kalung itu.
DONI
Sama-sama. (Lega Risma suka kalung itu).
Setelah itu Risma dan Doni makan.
CUT TO
Naya melihat Doni dan Risma tampak mesra.
Dia kemudian pergi.
CUT TO
140. INT. DALAM KONTAINER
Naya duduk di sebelah Rita.
Tak lama Gerry datang membawa 2 makanan.
Setelah itu dia duduk di sebelah Naya.
GERRY
Nay, ini gue bawain roti.
Naya hanya diam.
GERRY
Naya?
RITA
Kak, buat aku mana?
GERRY
Hm? Oh iya, lupa. Bentar-bentar.
Saat akan pergi mengambil roti, Naya menahan Gerry.
NAYA
Udah nggak usah. Jangan ambil lagi.
Naya mengambil roti yang diberi Gerry.
Dia kemudian memberikan roti itu ke Rita.
RITA
Makasih kak.
NAYA
Stok makanan disini nggak banyak, jangan ambil berlebihan.
GERRY
Iya gue juga tau. Tapi lo harus makan. Gue yakin lo laper. Nih, lo makan roti gue aja. Gue bisa ambil lagi.
NAYA
Gue masih kenyang. Makan aja. Lagian kita disini cuma semalam, besok udah pindah ke kota Sebrang.
GERRY
Iya sih. Tapi tetep Nay, kita harus makan.
RITA
Kak, sini rotinya kalo nggak mau. Buat aku aja.
GERRY
Enak bener nih bocah. Udah di kasih minta lagi.
RITA
Kak, aku tuh ya, lapeerr banget dari tadi. Nggak cukup kalo cuma dikasih 1 roti. Harusnya kakak paham lah. Sini, buat aku aja rotinya. Kakak kan bisa ambil lagi.
Gerry memakan roti itu satu suap.
GERRY
Yaah, udah habis(dengan roti masih didalam mulutnya)... Ambil sendiri ya. Tuh disana.
RITA
Kok dimakan siih.
GERRY
Lah kenapa. Orang punya gue.
RITA
Iih...(kesal dan mencubit Gerry). Ngeselin.
GERRY
Aduh, sakit dong.
RITA
Biarin.
Naya tersenyum melihat kelakuan Gerry dan Naya.