34. INT. RUANG TENGAH - DALAM RUMAH RONI(Teman Rey) – SIANG
Orang tua Roni sedang tak ada dirumah.
Hanya ada Roni, Rey dan Putri.
Nampak Rey bersiap untuk pulang.
REY
Aku pulang dulu ya. Ngantuk.
PUTRI
Aku juga lah.
RONI
Oke. Besok main lagi gak?
REY
Boleh. Besok sore aku kesini. Habis pulang sekolah.
PUTRI
Aku nggak ikut dulu ya besok. Mau kerumah nenek.
Rey dan Putri kemudian keluar.
CUT TO(depan pintu rumah Roni)
Rey dan Putri seketika terkejut saat melihat keadaan diluar.
VIEW
Mereka melihat para zombi sedang memangsa warga.
Semua orang berlari ketakutan, berusaha menyelamatkan diri.
CUT TO
Beberapa zombi melihat Rey dan Putri.
Zombi-zombi itu langsung berlari kearah Rey dan Putri.
Sementara Rey dan Putri terdiam
Mereka terlihat sangat syok dan tak bisa bergerak.
CUT TO
REY
Mereka kenapa??
PUTRI
Nggak tau...(Mulai takut) Rey, aku takut.
Putri memegang tangan Rey dengan erat.
Tak lama datang seorang warga yang berusaha masuk ke dalam rumah Roni.
WARGA
Hei, jangan keluar! Ayo masuk!
Zombi kemudian menyerang warga itu.
WARGA
Aaa!(Terjatuh)
Zombi memangsa warga itu tepat didepan Rey dan Putri.
Rey dan Putri semakin syok.
WARGA
Cepat... Masuuk!(Sambil menahan sakit)
Rey langsung menarik tangan Putri dan mengajaknya kembali masuk kerumah Roni.
REY
Ayo masuk!
Rey menutup pintu dan menguncinya.
Beberapa zombi menggedor-gedor pintu.
CUT TO(dalam rumah Roni)
Roni tampak sedang membereskan mainannya.
Lalu dia bingung melihat Rey dan Putri yang kembali masuk kerumahnya.
Wajah mereka terlihat sangat ketakutan.
RONI
Loh, kalian nggak jadi pulang? Masih mau main?
REY
Tutup jendela!
Putri menutup jendela.
Roni nampak semakin bingung.
RONI
Eh eh, kenapa kok ditutup??
Rey menyuruh Roni melihat kearah jendela.
Roni kemudian mengintip dari jendela kearah luar.
VIEW(depan rumah Roni)
Dia melihat keadaan diluar yang sangat kacau.
Beberapa warga berlarian menghindari zombi-zombi.
Banyak darah dimana-mana.
CUT TO
RONI
Ha!(Terkejut dan mulai panik)... Mereka kenapa??
REY
Aku juga nggak tau. Aku sama Putri nggak jadi pulang karena itu.
PUTRI
Terus gimana ini?? Aku pingin pulang...(Takut)
Mereka berdiam di rumah Roni.
CUT TO
35. INT. DALAM RUMAH DONI
Pak Kardi masih berusaha menahan pintu agar zombi tidak masuk.
Dia kemudian teringat Rey yang masih ada di rumah Roni.
PAK KARDI
Astaga! Rey...(Panik). Harus jemput Rey ini.
Pak Kardi coba berfikir.
Disaat bersamaan, kaca rumah Doni pecah sebab tak kuat menahan segerombolan zombi yang berusaha masuk.
Beberapa zombi berhasil masuk.
Pak Kardi coba melawan sebisanya.
Dia melawan hanya menggunakan sebuah sapu.
PAK KARDI
Sini kalian! Sadar, sadar, sadaar!(Sembari memukul-mukul zombi dengan sapu).
Pak Kardi terus coba melawan zombi-zombi itu.
Lalu dia berlari kearah belakang rumah.
Zombi masih mengejarnya.
Bahkan zombi semakin banyak masuk kedalam rumah.
PAK KARDI
Waduuh, kok makin banyak ini...(Sambil memukul zombi-zombi yang mendekat)
Pak Kardi terus melawan.
Tenaganya semakin terkuras.
Pak Kardi mulai kuwalahan.
Dia tak sanggup lagi bertahan dan lengannya tergigit.
Beberapa zombi lain menerkamnya.
Pak Kardi tak selamat.
Dalam sekejap virus menyebar didalam tubuhnya.
CUT TO(Area desa Jayatra)
Zombi-zombi terus berlari ke segala arah.
Bahkan mereka berlari ke arah kota.
CUT TO
35. INT. DALAM KANTOR GURU ATAS
Profesor Richard duduk dilantai.
Dia nampak lelah setelah harus berlari dari kejaran zombi.
CUT TO(balik lemari)
Sementara Bu Jesika dan Rita masih bersembunyi di balik lemari.
RITA(berbisik)
Bu, itu siapa??(takut).
BU JESIKA(nada pelan)
Sstt... Jangan bersuara. Ibu cek dulu.
Bu Jesika mencoba sedikit mengintip.
Dia melihat Profesor Richard.
BU JESIKA
Profesor?
Profesor Richard terkejut.
Dia mengamati Bu Jesika.
Profesor Richard ingat dengan Bu Jesika.
PROFESOR RICHARD
Bu... Jesika?
Bu Jesika dan Rita menghampiri profesor Richard.
BU JESIKA
Ngapain disini? Keadaan disini lagi nggak baik-baik aja.
PROFESOR RICHARD
Iya, saya tau. Ini pasti akibat cairan kimia saya yang pecah.
BU JESIKA
Ha? Maksudnya?
PROFESOR RICHARD
Jadi, ada satu cairan kimia saya yang pecah tadi waktu saya cek di salah satu ruangan. Cairan itu sudah lama saya simpan disana. Dan harusnya, cairan itu dimusnahkan beberapa hari yang lalu. Tapi, karena ada berbagai alasan, pemusnahan itu dibatalkan.
Rita ingat kalau dia memecahkan satu botol berisi cairan kimia saat kunjungan ke lab.
BU JESIKA
Kenapa bisa pecah?
PROFESOR RICHARD
Saya juga nggak tau. Waktu saya lewat ruangan itu, pintunya udah kebuka. Dan ada tumpahan cairan kimia itu di lantai.
BU JESIKA
Harusnya kalau memang ruangan itu penting, dikunci. Jangan di biarin buka gitu aja dong(Kesal).
PROFESOR RICHARD
Ruangan itu selalu dikunci. Nggak sembarang orang bisa masuk. Mungkin aja ada yang lupa menguncinya tadi setelah masuk.
Profesor Richard ingat kalau tujuannya kesini karena dia merasa salah satu siswa SMA Jayatra lah yang memecahkan cairan kimia itu.
PROFESOR RICHARD
Oh iya, tujuan saya kesini sebenarnya mau bertanya ke semua siswa Bu Jesika yang tadi melakukan kunjungan ke lab saya. Mungkin salah satu dari mereka ada yang masuk ke ruangan itu dan nggak sengaja nyenggol botol cairan kimia itu.
Rita semakin cemas.
Bu Jesika menyangkal.
BU JESIKA
Nggak mungkin. Profesor lihat sendiri siswa-siswa saya mengikuti arahan dengan benar. Saya juga awasi mereka terus kok(Sedikit kesal). Bisa aja kan orang di lab yang jatuhin botol itu. Mereka yang lebih sering keluar masuk ruangan. Kenapa harus nyalahin siswa saya??(Tidak terima).
Profesor Richard merasa tidak enak menuduh murid Bu Jesika.
PROFESOR RICHARD.
Maaf, bukan bermaksud menuduh, saya cuma berasumsi. Memang, bisa juga ini karena orang di lab yang nggak sengaja nyenggol botol itu. Tapi, tujuan saya kesini cuma ingin menanyakan itu aja. Nggak ada maksud lain.
Rita tampak merasa bersalah.
Dia takut orang lain yang disalahkan karena ulahnya.
Rita akhirnya mengaku.
RITA
Saya! Saya yang, pecahin cairan itu(tertunduk lesu). Maaf(merasa bersalah)...
BU JESIKA
Rita, kamu jangan ngomong gitu. Nggak ada yang nuduh kamu kok(Menenangkan Rita).
RITA
Bu, saya yang masuk ke ruangan itu. Waktu itu Vino udah ngelarang saya, tapi saya nggak mau denger. Dan akhirnya, saya nggak sengaja pecahin botol itu. Saya yang salah(Menyesal dan kemudian menangis).
BU JESIKA
Rita...(Tidak menyangka, lalu memeluknya).
RITA
Bu, apa mungkin Vino sakit karena itu?
Profesor Richard mulai berfikir kalau Vino mungkin saja tak sengaja menyentuh cairan kimia itu.
PROFESOR RICHARD
Kalau boleh tau dimana Vino sekarang?
RITA
Tadi ada di UKS. Tapi, sekarang nggak tau dimana.
PROFESOR RICHARD
Saya rasa Vino pasti nggak sengaja nyentuh cairan itu waktu membersihkannya.
Bu JESIKA
Emangnya kenapa?
Profesor Richard menceritakan semuanya.
PROFESOR RICHARD
Dulu, saya sempat coba membuat obat untuk sebuah penyakit ganas bersama rekan saya, Indra. Singkat cerita, kita gagal. Lalu ada satu orang yang nggak sengaja terkena cairan itu. Beberapa menit setelahnya, dia berubah menjadi sangat agresif. Dia menyerang Indra secara membabi buta. Beruntung Indra sempat menghindar.
BU JESIKA
Terus, gimana keadaan orang itu sekarang?
PROFESOR RICHARD
Kami mengurungnya. Karena memang, akan berbahaya jika dia dilepas gitu aja. Satu tahun kemudian, orang itu tak kunjung sembuh. Beberapa kali saya gagal membuat obat penangkalnya. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk membunuh orang itu dengan memenggal kepalanya. Saya dan Indra merahasiakan kejadian ini berdua, sudah lama sekali sampai sekarang. Saya takut, Vino mengalami hal yang sama.
Rita ingat Vino tampak tak terkendali ketika di UKS.
Dia menyerang siapapun didekatnya.
RITA
Iya. Vino juga tiba-tiba nyerang semua siswa di UKS. Termasuk saya dan Bu Jesika.
BU JESIKA
Kalo emang cairan itu berbahaya, dibuang dong harusnya. Ngapain disimpen??
PROFESOR RICHARD
Nggak semudah itu membuang cairan kimia yang gagal. Resikonya terlalu besar. Perlu persiapan untuk melakukannya.
BU JESIKA
Terus gimana sekarang? Virusnya udah nyebar kemana-mana. Anda harus tanggung jawab.
PROFESOR RICHARD
Iya saya tau. Saya pasti tanggung jawab. Sekarang satu-satunya cara yang bisa saya lakukan, cuma membuat obat penangkalnya. Kalian mau bantu kan?
BU JESIKA
Mau bantu gimana? Kita aja nggak bisa keluar dari sini.
PROFESOR RICHARD
Bener juga. Saya coba pikirkan dulu.
Mereka masih terjebak di ruang guru atas.