Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Raga Tanpa Jiwa
Suka
Favorit
Bagikan
23. Scene 23

152. INT DALAM LABORATORIUM - KOTA SEBRANG – SORE(15.00)

Profesor Indra dan Dokter Jihan masih belum berhasil membuat obat penawar untuk menghilangkan virus zombi.


DOKTER JIHAN

Prof. Saya rasa, waktu kita udah habis.


Profesor Indra hanya terdiam.

Dia terus fokus.


DOKTER JIHAN

Mereka(presiden dan lainnya) pasti sudah bersiap mengebom kota Marakas sekarang.


Walikota mendatangi laboratorium.

Dia menemui Dokter Jihan dan Profesor Indra.


DOKTER JIHAN

Pak.(Terkejut).


Raut wajahnya tampak seperti menyesal.


WALIKOTA

Maaf. Saya nggak bisa ulur waktu lagi. Semua sudah sepakat untuk menghancurkan kota Marakas malam nanti.


Dokter Jihan sedikit terkejut.

Profesor Indra membanting semua cairan kimia didekatnya.

Dia terduduk lesu dilantai.

Profesor Indra menangis teringat Richard.

Dokter Jihan coba menenangkan.


WALIKOTA

Sebaiknya kalian istirahat. Kalian sudah bekerja keras. Percayalah ini yang terbaik buat semua. Saya harap kalian mengerti.


Walikota kemudian pergi.

Dokter Jihan turut sedih melihat keputusan presiden.


DOKTER JIHAN

Kita udah coba. Mungkin benar ini jalan satu-satunya.


Coba terus menenangkan Profesor Indra.


DOKTER JIHAN

Maaf saya gagal bantu anda buat obat penawar itu.


PROFESOR INDRA

Nggak papa. Makasih.


Mereka tertunduk lesu.


FLASHBACK

24 jam yang lalu...(Kemarin)

(Int. Dalam gedung presiden - sore)

Semua sedang membahas masalah virus di kota Marakas.


PRESIDEN

Hari ini, saya ingin menyampaikan keputusan soal kota Marakas. Setelah saya coba memikirkan hal ini lebih dalam, saya sudah ambil keputusan kalau malam nanti, kota Marakas akan dihancurkan. Pasukan pengebom akan segera dikerahkan ke kota Marakas.


Beberapa walikota sedikit tak setuju.


WALIKOTA JATI

Pak, apa nggak ada cara lain? Ini terlalu kejam.


WALIKOTA GRAHA

Ini sudah keputusan yang terbaik, anda(walikota Jati) harus setuju.


Bersitegang terjadi diantara mereka.

Walikota Sebrang tampak ingin menyampaikan tentang Profesor Richard yang masih coba membuat obat penawar.

Namun dia ragu.


PRESIDEN

Semuanya tolong diam. Dengarkan saya dulu.


Semua walikota perlahan diam.


PRESIDEN

Saya juga nggak senang dengan keputusan yang saya ambil ini. Tapi saya juga memikirkan kota-kota yang lain. Kalian pasti nggak mau virus itu menghancurkan kota kalian. Iya kan?? Jadi tolong, dukung rencana ini. Demi kebaikan semuanya.


Semua walikota mulai berfikir itu ada benarnya.


PRESIDEN

Kalau memang ada ide yang lain, silahkan. Saya pasti akan pertimbangkan. Silahkan kalian usulkan disini. Saya beri waktu.


Mereka semua hening.

Tak ada yang memberi saran lain.

Walikota sebrang tampak hanya diam.

Dia tak memberitahu soal profesor Indra.


PRESIDEN

Mana? Nggak ada yang bisa kasih saran lain? Kita pakai keputusan ini. Rapat selesai.


Akhirnya pengeboman kota Marakas menjadi keputusan bersama.

PRESIDEN meninggalkan ruangan.

END FLASHBACK


CUT TO 

153. EXT. PELABUHAN – SORE

Kapal pak Wijaya dan Hendri hampir sampai di pelabuhan.

Mereka terkejut melihat keadaan pelabuhan yang sudah kacau.

Hendri menatap kearah pelabuhan dengan wajah tidak percaya.


PAK WIJAYA

Hen, kayaknya omonganmu bener... Mereka semua udah terinfeksi.


HENDRI

Terus gimana sekarang pak?? Nggak mungkin kita kesana.


PAK WIJAYA 

Hentikan kapalnya, kita pantau dari sini. kalau ada orang, baru kita mendekat.


HENDRI

Iya pak. Saya setuju.


PAK WIJAYA

Oh iya, bunyikan bel sekali. Biar mereka tau kalau kita sudah datang.


HENDRI

Apa nggak bahaya pak??


PAK WIJAYA

Udah bunyikan sekarang.


Bel kapal dibunyikan oleh Hendri.

CUT TO(pelabuhan)

Para zombi terlihat coba mendekat ke kapal.

Namun mereka tak bisa melewati air.

Zombi-zombi tertahan di pinggir pelabuhan.

CUT TO

154. INT. DALAM TENDA KONTAINER 

Doni dan Risma mendengar bunyi bel kapal.

Mereka sangat lega kapal itu benar-benar datang.

Risma membangunkan Gerry, Rita dan Naya yang tertidur.


RISMA

Hei hei... Bangun bangun, kapal udah datang!


Gerry, Naya dan Rita bangun.

Mereka tampak langsung bersemangat.


RITA

Beneran kak??


RISMA

Iya. Kita selamat Rita.(Memeluk Rita).


Rita dan Risma lega.


NAYA

Kalian yakin itu kapalnya??


DONI

Gue sama Risma denger bel kapal barusan. Itu pasti mereka.


Naya coba percaya.


GERRY

Terus, gimana caranya kita keluar? Banyak zombi didepan.


DONI

Gue cek dulu. Siapa tau ada peluang buat kita ke kapal.


Doni mengintip dari cela pintu kontainer yang sedikit terbuka.

VIEW(pelabuhan)

Segerombolan zombi masih berada di area pelabuhan.

Terlihat kapal sudah sampai dan berhenti agak jauh dari pelabuhan.

Beberapa zombi sedang berada di tepi laut berusaha menuju kapal.

CUT BACK TO(Dalam kontainer)


RISMA

Gimana Don? Aman?


DONI

Mereka(zombi) masih ada di depan. Nggak ada jalan buat kita keluar.


Mereka semua bingung harus bagaimana.


RITA

Kak, kita harus keluar. Kalo nggak kapalnya nanti keburu pergi(cemas).


Doni sempat melihat ada beberapa batu didepan kontainer.

Dia teringat cara yang dipakai Naya saat berhasil mengalihkan zombi dengan melempar kaleng waktu itu.


DONI

Ada satu cara buat kita bisa ke kapal.


GERRY

Gimana??


DONI

Nay, lo inget waktu lo nyuruh gue alihin zombi-zombi dengan kaleng? Itu berhasil kan? Gue rasa bisa kita coba lagi. Di depan, ada beberapa batu yang bisa kita gunakan. Gimana??


NAYA

(Menghela nafas). Kita coba. Semoga berhasil(sedikit ragu).


Gerry dan Doni perlahan keluar dari kontainer mengambil batu-batu di depan tenda.

CUT TO(Depan kontainer)

Dengan hati-hati Gerry dan Doni mengambil batu-batu itu.

Mereka berhasil mengumpulkan beberapa batu.

Setelah itu mereka berdua kembali masuk kedalam kontainer.

CUT BACK TO(Dalam kontainer)


DONI

Sekarang, kita bagi tugas. Ger, lo ke kontainer merah, ajak orang-orang ke tepi pelabuhan. Risma sama Rita, kalian coba buat kapal mendekat ke pelabuhan. Kalian cari cara apapun. Dan Naya, lo ke kontainer kuning, ajak orang-orang pergi ke tepi pelabuhan.


NAYA

Terus, lo?


DONI

Gue yang pancing mereka(zombi). Gue pastiian mereka(zombi) menjauh dari pelabuhan. Setelah itu kalian bisa lakukan tugas kalian. Ingat, jangan ada yang keluar dari sini sebelum gue berhasil alihkan mereka(zombi), paham?


NAYA

Ya. Tenang aja.


RISMA

Don, gue rasa ini terlalu berisiko. Apa nggak ada cara lain?


Risma khawatir terhadap Doni


DONI

Risma, kamu tenang aja. Kita pasti berhasil. Ini harus kita lakukan untuk bisa masuk ke kapal. Aku bakal lakuin apapun asalkan kamu sama yang lainnya bisa selamat. (Lalu tersenyum kecil).


Doni mencoba menenangkan Risma.

Risma masih berat membiarkan Doni memancing zombi-zombi itu.


DONI

Yaudah, gue keluar dulu. Kalian siap-siap.


Doni bersiap keluar.

Risma menahan Doni


RISMA

Hati-hati...(Memeluk Doni)


Doni terkejut Risma memeluknya.

Betapa bahagianya Doni saat ini, meski dia akan lakukan hal berbahaya.

Naya sedikit tak nyaman melihat itu.

Doni kemudian keluar perlahan.

Dia memebawa beberapa batu di sakunya.

Lalu dia mengendap-endap pergi ke gerbang pelabuhan depan.

CUT TO

155. EXT. SAMPING GERBANG PELABUHAN

Doni mencari tempat yang aman.

Setelah itu dia mencari sesuatu yang berbunyi ketika dia lempari batu.

Terlihat sebuah besi yang telah berkarat di seberang gerbang masuk pelabuhan.

Doni mulai melempar batu-batu itu ke besi yang berkarat.


'suara batu membentur besi cukup keras'


CUT TO

Para zombi mendengarnya dan langsung mengikuti suara tiang yang terbentur batu itu.

CUT BACK TO

Doni kemudian lari ke belakang semak-semak untuk sembunyi.

Beberapa zombi mulai keluar dari area pelabuhan.

Doni kembali melempar batu ke besi.

Zombi-zombi lainnya mengikuti suara itu dan menjauh dari pelabuhan.

CUT TO

156. INT. DALAM KONTAINER

Gerry, Rita, Risma dan Naya bersiap menjalankan rencana mereka.

Naya mengintip kearah luar.

Doni telah berhasil memancing zombi-zombi menjauh dari pelabuhan.


NAYA

Udah aman. Kalian siap?


GERRY

(Mengehela nafas). Oke. Gue siap.


RISMA

Rita, sini. Kamu pegang tangan kakak terus. Jangan dilepas.


RITA

Iya kak(sedikit takut).


Naya, Gerry, Risma dan Rita keluar dari kontainer.

Mereka menjalankan rencana.

CUT TO

157. EXT. DEPAN KONTAINER MERAH

Gerry memanggil orang didalam kontainer untuk keluar.

Gerry mengetuk pintu kontainer.


GERRY

Hei... hei. 


Seseorang mengintip.


GERRY

Kapal udah dateng, ayo keluar.


20 orang didalam kontainer itu masih tak percaya.

Mereka hanya menatap Gerry dan tak mau keluar.

Gerry bingung.

CUT TO

Sementara Risma dan Rita berusaha melambaikan tangan ke arah kapal.


RISMA

Hei...(Suara pelan)


Mereka tidak bisa bersuara kencang.

Pak Wijaya dan Hendri tak menyadarinya.


RISMA

Kayaknya, mereka nggak lihat. Ini terlalu jauh.


RITA

Kita coba terus kak, mereka pasti lihat nanti.


Risma dan Rita terus melambaikan tangan.

Tak lama Naya datang.

Dia berhasil membawa 15 orang, yang diantaranya ada 5 tentara dan 2 polisi.


NAYA(Berbisik)

Risma, mana kapalnya??


RISMA

Mereka nggak lihat. Susah manggilnya. Kejauhan.


NAYA

Sial.


Mereka terus berusaha melambaikan tangan untuk memanggil pak Wijaya dan Hendri


NAYA

Nggak bisa kita kayak gini terus. Harus cari cara lain.


Mereka semua nampak bingung.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)