141. INT. DALAM TENDA KONTAINER – MALAM
Naya dan Gerry berbincang.
NAYA
Coba aja waktu itu gue nggak jadi berangkat kerja. Mungkin sekarang, gue ada dirumah. Jagain adik sama tante gue.
Naya bercerita ke Gerry dan Rita.
Gerry dan Rita nampak serius mendengarkan.
NAYA
Sebenarnya, pagi itu sebelum berangkat kerja, gue udah ngerasa nggak enak. Kayak, bakal ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu hal yang besar. Tapi gue coba hilangin perasaan itu. Gue nggak mau terlalu mikirin hal-hal yang belum pasti. Dan ternyata, perasaan gue bener. Gue dapet masalah yang sangat besar. Bahkan sekarang gue nggak tau keadaan adik sama tante gue(menahan sedih).
Gerry dan Rita terlihat sedih mendengarnya.
GERRY
Tapi Nay, meskipun lo dirumah waktu itu, gue rasa keadaan juga nggak bakal berubah.
NAYA
Iya, gue tau. Seenggaknya kalau gue tetep dirumah, gue bisa bareng-bareng sama tante dan adek gue.
Gerry sedikit merasa bersalah karena perkataannya.
NAYA
Gue cuma punya mereka berdua. Dan sekarang, gue nggak ada siapa-siapa lagi.
GERRY
Nay, sorry nih sebelumya. Kalau boleh tau, emang orang tua lo kemana?
NAYA
Mereka cerai. Pergi nggak tau kemana. Gue dan adek gue di titipin di rumah tante. Dua tahun setelahnya, gue mutusin buat cari kerja. Dan akhirnya, gue kerja di supermarket.
Naya sedikit meneteskan air mata.
Dia seakan sudah lelah dengan hidupnya.
Gerry coba memberi semangat.
GERRY
Tapi nih ya, gue salut sama lo. Bisa bertahan sampai sekarang dengan cerita lo itu. Gue yakin nggak gampang sih ngejalaninnya. Lo tenang aja, gue bakal jagain lo semampu gue. Lo bisa pegang janji gue.
NAYA
Yakin? Lo sendiri gimana?
RITA
Kak(Gerry), saranku mending kakak jagain diri kakak sendiri aja dulu. Jangan maksa buat jagain kak Naya. Nggak bakal bisa sih.
NAYA
Tuh, dengerin. Rita aja tau.
GERRY
Wah nih anak. Ikut-ikutan aja lu. Diem napa. Obrolan orang dewasa ini. Masih kecil juga.(Kesal).
RITA
Biarin. Emang bener kok.
GERRY
Eh Nay, kalo gue perhatiin, cerita hidup lo mirip kayak Doni sama Risma.
NAYA
Mirip gimana?
GERRY
Si Risma tinggal sama neneknya karena orang tuanya udah meninggal. Terus Doni, dia tinggal berdua cuma sama adeknya, juga karena orangtuanya meninggal. Mirip kan?
Naya sedikit terkejut mendengar cerita Gerry.
GERRY
Nggak tau gue gimana rasanya mereka ngejalani hidup tanpa orangtua. Gue sedih sih pas tau cerita mereka. Dan juga cerita lo barusan.
Gerry dan Naya mulai terlihat akrab.
Mereka terus mengobrol.
RITA
Kak.
NAYA
Iya?
RITA
Mau minta tolong sama kak Gerry.
GERRY
Apa lagi? Jangan aneh-aneh lu ya.
RITA
Iya enggak. Mmm, rotinya masih ada nggak? Pingin satu lagi.
GERRY
Astaga nih anak, nggak selesai-selesai soal roti. Gue ambilin sekarung nih ya. Habisin sendiri.
RITA
Ayolah kaak, ambilin. Pliiss.
NAYA
udah ambilin aja, kasihan.
Gerry menuruti keinginan Rita dengan sedikit kesal.
Dia pergi mengambil roti.
RITA
Makasih(tersenyum).
Naya tersenyum.
CUT TO
142. INT. DALAM LABORATORIUM - KOTA SEBRANG – MALAM
Profesor Indra, dokter Jihan dan beberapa ilmuwan di laboratorium kota sebrang masih berusaha mencari obat penawar dari virus zombi.
Profesor Indra nampak sangat serius dan berhati-hati.
Namun, lagi-lagi dia gagal.
Profesor Indra mulai sedikit frustasi.
Dokter Jihan melihat profesor Indra.
DOKTER JIHAN
Cairan kimia itu dibuat dengan tidak sengaja, wajar kalau sulit temukan obat penawarnya. Yang terpenting kita coba terus, masih ada waktu.(Coba memberi semangat).
Beberapa kali profesor Indra dan dokter Jihan gagal membuat obat penawar itu.
PROFESOR INDRA
Seandainya dulu saya nggak buat kesalahan, ini semua pasti nggak akan terjadi(merasa bersalah).
DOKTER JIHAN
Jangan terus nyalahin diri sendiri. Semua orang pernah buat kesalahan.
PROFESOR INDRA
Iya, tapi nggak sebesar ini.
Dokter Jihan merasa perkataan Profesor Indra ada benarnya.
Mereka kemudian lanjut membuat cairan obat untuk menghilangkan virus zombi ini.
CUT TO
FADE IN
143. EXT. PELABUHAN - KOTA MARAKAS – PAGI
Keadaan di pelabuhan masih aman.
Beberapa orang telah bangun.
Doni, Gerry, Risma, Naya dan Rita masih tertidur.
CUT TO
2 orang tentara sedang berkeliling memastikan semua area pelabuhan aman.
Mereka kemudian melihat mobil yang dikendarai oleh Niko terparkir di area pelabuhan samping gerbang depan.
TENTARA 1
Mobil siapa nih.
TENTARA 2
Biarin aja udah. Ayo lanjut.
Saat akan pergi, tentara 1 melihat seseorang didalam mobil.
TENTARA 1
Tunggu tunggu.
TENTARA 2
Apa lagi?
TENTARA 1
Itu. Didalem mobil.
TENTARA 2
Apaan?
TENTARA 1
Kayak ada orang.
Tentara 2 coba mengamati mobil itu.
TENTARA 2
Mana? Kagak ada apa-apa.
TENTARA 1
Itu. Tunggu sini bentar, biar gue lihat dulu.
TENTARA 2
Hei, udahlah jangan.
Tentara 1 mendekat ke mobil.
Tentara 2 mengikuti.
CUT TO
144. EXT. DEPAN TENDA KONTAINER
Nampak Gerry keluar dari kontainer dan terus memperhatikan area pelabuhan.
Dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu.
Doni, Rita, Risma dan Naya bangun.
Mereka kedepan kontainer.
Mereka melihat Gerry nampak sedang kebingungan.
DONI
Ger, ngapain?
GERRY
Eh, lu ngerasa ada yang aneh nggak?
DONI
Aneh gimana?
GERRY
Dari semalem, gue nggak lihat polisi yang kemarin selamatin kita. Masih inget nggak?
DONI
Polisi?
GERRY
Iya yang kemarin. Yang bawa kita kesini.
Doni mencoba mengingat.
Tak lama kemudian dia pun ingat.
DONI
Oh, polisi yang waktu itu. Niko?
GERRY
Naah iya, bener. Niko.
NAYA
Ngapain nyari dia?
GERRY
Nih, kunci mobilnya ada di depan tenda semalem. Kayaknya jatuh pas dia antar kita kesini. Mau gue balikin.
DONI
Biarin aja. Nanti juga dia kesini.
GERRY
Yaudahlah.
RITA
Kak, gimana kalau kita sekarang makan? Pasti udah pada laper.
GERRY
Astaga nih anak, dari kemarin makan mulu perasaan. Nggak bisa kenyang apa?
RITA
Kenapa sih, orang aku ngajak kak Risma, Kak Naya sama kak Doni. Nggak ada yang ngajak kak Gerry.
GERRY
Dih.
RITA
Dih.
RISMA
Udah udah. Malah berantem. Ayo kalau mau makan. Keburu kapalnya dateng.
RITA
Tuh, kak Risma mau.
GERRY
Yaudah sana.
RITA
Awas ya, jangan ikut!
Naya, Risma, Doni dan Rita pergi ke kontainer hijau.
Gerry mengikuti.
RITA
Nah kan ikut. Laper juga pasti.
Gerry coba menghiraukan Rita.
Namun, dia masih memikirkan Niko.
CUT TO(Depan kontainer hijau)
Doni, Naya, Gerry, Risma dan Rita duduk di sebuah tempat, sembari makan.
NAYA
Gue heran, kenapa bisa ada makanan disini. Padahal situasinya lagi kacau kayak gini.
RISMA
Denger-denger sih, semua makanan ini dari gedung walikota.
GERRY
Seriusan?? Pantes enak-enak.
RISMA
Waktu mereka merencanakan buat ke kota sebrang, walikota bawa semua makanan sama minuman. Buat jaga-jaga kayaknya.
DONI
Berarti kita beruntung. Coba waktu itu mereka nggak kepikiran bawa ini semua, kita disini cuma bisa tidur sambil nunggu kapal datang.
GERRY
Bakal susah sih. Oh iya, terus si pak walikota itu kemana sekarang?
RISMA
Kalo itu gue nggak tau.
Gerry nampak lahap.
Rita melihat Gerry makan dengan cepat.
RITA
Kak(Gerry).
GERRY
Apa? Kurang? Ambil sendiri.
RITA
Kalo makan itu pelan-pelan. Dinikmati gitu lo.
GERRY
Mulai bawel nih anak.
RITA
Ih, dikasih tau yang bener juga.
RISMA
Udah udah, makan. Malah pada berantem lagi.
Doni, Risma dan Naya tersenyum melihat kelakuan Gerry dan Rita.
CUT TO
145. EXT. PELABUHAN – PAGI
Tentara 1 mengetuk kaca mobil Niko.
Terlihat Niko tertidur dikursi belakang dengan wajahnya tertutup jaket.
TENTARA 1
Pak. Pak, bisa buka pintunya?
Tentara 2 mencoba buka pintu depan mobil.
Pintu terkunci.
Kemudian mencoba membuka pintu belakang.
Pintu belakang terbuka.
TENTARA 2
Pak...(Membuka jaket yang menutupi wajah Niko). Astaga!(Terkejut)
Wajah Niko sangat pucat dan terlihat sedang pingsan.
TENTARA 1
Dia, bukannya polisi yang waktu itu?
TENTARA 2
Mungkin. Hei, bangun bangun...(Menepuk pipi Niko). Pingsan ini kayaknya. Ayo bantu angkat, bawa ke tenda.
TENTARA 1
Iya iya.
Saat tentara 1 dan 2 akan mengangkat Niko, Niko bangun dan telah berubah menjadi zombi.
Niko menyerang tentara 2.
Dia menggigit lengan tentara 2.
Lalu dia menggigit pipi tentara 2 hingga kulitnya mengelupas.
Tentara 2 coba lepas dari cengkraman Niko.
TENTARA 1
Wah!(Terkejut)
TENTARA 2
Wooi! Aaa!!(Kesakitan)
Tentara 1 bersiap melepaskan tembakan.
Namun Niko dengan cepat menyerangnya.
Dia menggigit leher tentara 1
Kedua tentara itu terinfeksi dan dengan cepat berubah menjadi zombi.