Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Raga Tanpa Jiwa
Suka
Favorit
Bagikan
21. Scene 21

141. INT. DALAM TENDA KONTAINER – MALAM

Naya dan Gerry berbincang.

 

NAYA

Coba aja waktu itu gue nggak jadi berangkat kerja. Mungkin sekarang, gue ada dirumah. Jagain adik sama tante gue.

 

Naya bercerita ke Gerry dan Rita.

Gerry dan Rita nampak serius mendengarkan.

 

NAYA

Sebenarnya, pagi itu sebelum berangkat kerja, gue udah ngerasa nggak enak. Kayak, bakal ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu hal yang besar. Tapi gue coba hilangin perasaan itu. Gue nggak mau terlalu mikirin hal-hal yang belum pasti. Dan ternyata, perasaan gue bener. Gue dapet masalah yang sangat besar. Bahkan sekarang gue nggak tau keadaan adik sama tante gue(menahan sedih).


Gerry dan Rita terlihat sedih mendengarnya.

 

GERRY

Tapi Nay, meskipun lo dirumah waktu itu, gue rasa keadaan juga nggak bakal berubah.

 

NAYA

Iya, gue tau. Seenggaknya kalau gue tetep dirumah, gue bisa bareng-bareng sama tante dan adek gue.

 

Gerry sedikit merasa bersalah karena perkataannya.

 

NAYA

Gue cuma punya mereka berdua. Dan sekarang, gue nggak ada siapa-siapa lagi.

 

GERRY

Nay, sorry nih sebelumya. Kalau boleh tau, emang orang tua lo kemana?


NAYA

Mereka cerai. Pergi nggak tau kemana. Gue dan adek gue di titipin di rumah tante. Dua tahun setelahnya, gue mutusin buat cari kerja. Dan akhirnya, gue kerja di supermarket.

 

Naya sedikit meneteskan air mata.

Dia seakan sudah lelah dengan hidupnya.

Gerry coba memberi semangat.

 

GERRY

Tapi nih ya, gue salut sama lo. Bisa bertahan sampai sekarang dengan cerita lo itu. Gue yakin nggak gampang sih ngejalaninnya. Lo tenang aja, gue bakal jagain lo semampu gue. Lo bisa pegang janji gue.

 

NAYA

Yakin? Lo sendiri gimana?

 

RITA

Kak(Gerry), saranku mending kakak jagain diri kakak sendiri aja dulu. Jangan maksa buat jagain kak Naya. Nggak bakal bisa sih.

 

NAYA

Tuh, dengerin. Rita aja tau.

 

GERRY

Wah nih anak. Ikut-ikutan aja lu. Diem napa. Obrolan orang dewasa ini. Masih kecil juga.(Kesal).


RITA

Biarin. Emang bener kok.


GERRY

Eh Nay, kalo gue perhatiin, cerita hidup lo mirip kayak Doni sama Risma.

 

NAYA

Mirip gimana?

 

GERRY

Si Risma tinggal sama neneknya karena orang tuanya udah meninggal. Terus Doni, dia tinggal berdua cuma sama adeknya, juga karena orangtuanya meninggal. Mirip kan?

 

Naya sedikit terkejut mendengar cerita Gerry.

 

GERRY

Nggak tau gue gimana rasanya mereka ngejalani hidup tanpa orangtua. Gue sedih sih pas tau cerita mereka. Dan juga cerita lo barusan.

 

Gerry dan Naya mulai terlihat akrab.

Mereka terus mengobrol.

 

RITA

Kak.

 

NAYA

Iya?

 

RITA

Mau minta tolong sama kak Gerry.

 

GERRY

Apa lagi? Jangan aneh-aneh lu ya.

 

RITA

Iya enggak. Mmm, rotinya masih ada nggak? Pingin satu lagi.

 

GERRY

Astaga nih anak, nggak selesai-selesai soal roti. Gue ambilin sekarung nih ya. Habisin sendiri.

 

RITA

Ayolah kaak, ambilin. Pliiss.

 

NAYA

udah ambilin aja, kasihan.


Gerry menuruti keinginan Rita dengan sedikit kesal.

Dia pergi mengambil roti.


RITA

Makasih(tersenyum).


Naya tersenyum.

CUT TO

142. INT. DALAM LABORATORIUM - KOTA SEBRANG – MALAM

Profesor Indra, dokter Jihan dan beberapa ilmuwan di laboratorium kota sebrang masih berusaha mencari obat penawar dari virus zombi.

Profesor Indra nampak sangat serius dan berhati-hati.

Namun, lagi-lagi dia gagal.

Profesor Indra mulai sedikit frustasi.

Dokter Jihan melihat profesor Indra.

 

DOKTER JIHAN

Cairan kimia itu dibuat dengan tidak sengaja, wajar kalau sulit temukan obat penawarnya. Yang terpenting kita coba terus, masih ada waktu.(Coba memberi semangat).

 

Beberapa kali profesor Indra dan dokter Jihan gagal membuat obat penawar itu.

 

PROFESOR INDRA

Seandainya dulu saya nggak buat kesalahan, ini semua pasti nggak akan terjadi(merasa bersalah).

 

DOKTER JIHAN

Jangan terus nyalahin diri sendiri. Semua orang pernah buat kesalahan.

 

PROFESOR INDRA

Iya, tapi nggak sebesar ini.

 

Dokter Jihan merasa perkataan Profesor Indra ada benarnya.

Mereka kemudian lanjut membuat cairan obat untuk menghilangkan virus zombi ini.

CUT TO

FADE IN

143. EXT. PELABUHAN - KOTA MARAKAS – PAGI

Keadaan di pelabuhan masih aman.

Beberapa orang telah bangun.

Doni, Gerry, Risma, Naya dan Rita masih tertidur.

CUT TO

2 orang tentara sedang berkeliling memastikan semua area pelabuhan aman.

Mereka kemudian melihat mobil yang dikendarai oleh Niko terparkir di area pelabuhan samping gerbang depan.

 

TENTARA 1

Mobil siapa nih.

 

TENTARA 2

Biarin aja udah. Ayo lanjut.

 

Saat akan pergi, tentara 1 melihat seseorang didalam mobil.

 

TENTARA 1

Tunggu tunggu.

 

TENTARA 2

Apa lagi?

 

TENTARA 1

Itu. Didalem mobil.

 

TENTARA 2

Apaan?

 

TENTARA 1

Kayak ada orang.

 

Tentara 2 coba mengamati mobil itu.

 

TENTARA 2

Mana? Kagak ada apa-apa.

 

TENTARA 1

Itu. Tunggu sini bentar, biar gue lihat dulu.

 

TENTARA 2

Hei, udahlah jangan.

 

Tentara 1 mendekat ke mobil.

Tentara 2 mengikuti.

CUT TO

144. EXT. DEPAN TENDA KONTAINER

Nampak Gerry keluar dari kontainer dan terus memperhatikan area pelabuhan.

Dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu.

Doni, Rita, Risma dan Naya bangun.

Mereka kedepan kontainer.

Mereka melihat Gerry nampak sedang kebingungan.

 

DONI

Ger, ngapain?

 

GERRY

Eh, lu ngerasa ada yang aneh nggak?

 

DONI

Aneh gimana?

 

GERRY

Dari semalem, gue nggak lihat polisi yang kemarin selamatin kita. Masih inget nggak?

 

DONI

Polisi?

 

GERRY

Iya yang kemarin. Yang bawa kita kesini.

 

Doni mencoba mengingat.

Tak lama kemudian dia pun ingat.

 

DONI

Oh, polisi yang waktu itu. Niko?

 

GERRY

Naah iya, bener. Niko.

 

NAYA

Ngapain nyari dia?

 

GERRY

Nih, kunci mobilnya ada di depan tenda semalem. Kayaknya jatuh pas dia antar kita kesini. Mau gue balikin.

 

DONI

Biarin aja. Nanti juga dia kesini.


GERRY

Yaudahlah.

 

RITA

Kak, gimana kalau kita sekarang makan? Pasti udah pada laper.

 

GERRY

Astaga nih anak, dari kemarin makan mulu perasaan. Nggak bisa kenyang apa?


RITA

Kenapa sih, orang aku ngajak kak Risma, Kak Naya sama kak Doni. Nggak ada yang ngajak kak Gerry.

 

GERRY

Dih.


RITA

Dih.


RISMA

Udah udah. Malah berantem. Ayo kalau mau makan. Keburu kapalnya dateng.


RITA

Tuh, kak Risma mau.


GERRY

Yaudah sana.


RITA

Awas ya, jangan ikut!


Naya, Risma, Doni dan Rita pergi ke kontainer hijau.

Gerry mengikuti.


RITA

Nah kan ikut. Laper juga pasti.


Gerry coba menghiraukan Rita.

Namun, dia masih memikirkan Niko.

CUT TO(Depan kontainer hijau)

Doni, Naya, Gerry, Risma dan Rita duduk di sebuah tempat, sembari makan.

 

NAYA

Gue heran, kenapa bisa ada makanan disini. Padahal situasinya lagi kacau kayak gini.

 

RISMA

Denger-denger sih, semua makanan ini dari gedung walikota.

 

GERRY

Seriusan?? Pantes enak-enak.

 

RISMA

Waktu mereka merencanakan buat ke kota sebrang, walikota bawa semua makanan sama minuman. Buat jaga-jaga kayaknya.

 

DONI

Berarti kita beruntung. Coba waktu itu mereka nggak kepikiran bawa ini semua, kita disini cuma bisa tidur sambil nunggu kapal datang.

 

GERRY

Bakal susah sih. Oh iya, terus si pak walikota itu kemana sekarang?

 

RISMA

Kalo itu gue nggak tau.

 

Gerry nampak lahap.

Rita melihat Gerry makan dengan cepat.

 

RITA

Kak(Gerry).

 

GERRY

Apa? Kurang? Ambil sendiri.

 

RITA

Kalo makan itu pelan-pelan. Dinikmati gitu lo.

 

GERRY

Mulai bawel nih anak.

 

RITA

Ih, dikasih tau yang bener juga.

 

RISMA

Udah udah, makan. Malah pada berantem lagi.

 

Doni, Risma dan Naya tersenyum melihat kelakuan Gerry dan Rita.

CUT TO

145. EXT. PELABUHAN – PAGI

Tentara 1 mengetuk kaca mobil Niko.

Terlihat Niko tertidur dikursi belakang dengan wajahnya tertutup jaket.

 

TENTARA 1

Pak. Pak, bisa buka pintunya?

 

Tentara 2 mencoba buka pintu depan mobil.

Pintu terkunci.

Kemudian mencoba membuka pintu belakang.

Pintu belakang terbuka.

 

TENTARA 2

Pak...(Membuka jaket yang menutupi wajah Niko). Astaga!(Terkejut)

 

Wajah Niko sangat pucat dan terlihat sedang pingsan.

 

TENTARA 1

Dia, bukannya polisi yang waktu itu?

 

TENTARA 2

Mungkin. Hei, bangun bangun...(Menepuk pipi Niko). Pingsan ini kayaknya. Ayo bantu angkat, bawa ke tenda.

 

TENTARA 1

Iya iya.

 

Saat tentara 1 dan 2 akan mengangkat Niko, Niko bangun dan telah berubah menjadi zombi.

Niko menyerang tentara 2.

Dia menggigit lengan tentara 2.

Lalu dia menggigit pipi tentara 2 hingga kulitnya mengelupas.

Tentara 2 coba lepas dari cengkraman Niko.

 

TENTARA 1

Wah!(Terkejut)

 

TENTARA 2

Wooi! Aaa!!(Kesakitan)

 

Tentara 1 bersiap melepaskan tembakan.

Namun Niko dengan cepat menyerangnya.

Dia menggigit leher tentara 1

Kedua tentara itu terinfeksi dan dengan cepat berubah menjadi zombi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)