Cuplikan Chapter ini
Uap panas belerang dari dasar Kawah Sileri menyengat hidung Banyu bercampur dengan bau tengik darah kering dan aroma kayu cendana tua yang lapuk Di atas altar teratai Batu Wilis melayang anggun memancarkan pendar cahaya biru kobalt yang berdenyut lembut bagai ritme detak jantung Namun kehangatan pusaka itu kini terhalang oleh bayangan hitam yang berdiri tegap di hadapannyaPanglima Ki RanggaPria yang selama ini dipercaya oleh Kyai Kolodete sebagai benteng pertahanan tanah Dieng itu ber