Cuplikan Chapter ini
Getaran di bawah lantai kayu itu perlahan surut menyisakan keheningan yang mencekam dan aroma tanah basah yang kian menyengat Mbah Danu berdiri mematung di ambang pintu tongkat kayunya yang tergeletak di lantai tak berani ia pungut kembali Matanya yang kabur menatap Banyu dengan campuran rasa takjub dan teror yang amat sangatSumpah Wilis bisik Mbah Danu suaranya parau bergetar Perjanjian darah antara penguasa gaib Dieng dengan para pembuka tanah di era Kyai Kolodete Leluhurmu tidak