Cuplikan Chapter ini
Darah hangat mengalir membasahi bilah batu andesit altar merembes cepat ke celah-celah ukiran teratai yang berdebu Rasa sakit di bahu kanan Banyu bukan lagi sekadar rasa perih luka robek melainkan dorongan sengatan racun dingin yang menjalar cepat mengikuti alur pembuluh darah menuju jantungnya Ujung mata tombak besi hitam itu terbenam dalam mengunci tubuhnya ke permukaan altar sementara telapak kaki berlapis karut kulit milik Panglima Ki Rangga menekan dadanya tanpa belas kasihanBanyu