Cuplikan Chapter ini
Tunggul seekor gagak yang legam bulunya seolah mampu menelan cahaya malam melayang rendah dengan kepakan sayap yang berat Ia mendarat di atas atap rumah Adong yang terletak agak terpencil dari pos ronda Dari ketinggian itu matanya yang tajam mengawasi Didin yang berjalan santai menuju rumah tersebut Sang gagak kemudian memekik dua kali sebuah tanda yang membelah sunyiKAAKK KAAKKSoka yang masih berdiri mematung di samping pohon randu di seberang jalan depan pos ronda menoleh ke ara