Cuplikan Chapter ini
Napas dingin beraroma tanah kuburan yang lembap itu berhembus tepat di tengkuk Rian Hawa dinginnya begitu menyengat seolah-olah sepotong es batu ditempelkan paksa ke kulit lehernya yang terbuka Bisikan parau itu bergema pelan namun sangat jernih di dalam gendang telinganya menyapu habis sisa-sisa keberanian yang masih ia milikiWaktu tiga puluh menitmu baru saja dimulaiRian menjerit histeris Ia secara refleks memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat mengayunkan tongsis beserta