Cuplikan Chapter ini
Pagi itu terasa seperti pagi-pagi lainnya di desa kecil tempat Bagas tinggal Udara masih dingin embun menempel di daun-daun dan jalanan belum terlalu ramai Bagas melangkah santai dengan kaos sederhana dan celana panjang yang sedikit pudar warnanya Ia tidak terburu-buru Tujuannya sudah jelassebuah warung kecil di ujung jalan yang selalu ia datangi hampir setiap hari Warung itu milik seorang wanita tua yang dipanggil semua orang dengan sebutan Mak Omah Tak ada yang benar-benar tahu na