Cuplikan Chapter ini
Aiman duduk membisu di ujung ranjang asramanya Lampu redup menyorot separuh wajahnya yang tenggelam dalam bayangan Jari-jarinya mengepal lemah di atas lutut sementara pikirannya menari di antara kenangan dan kenyataan yang tak ingin ia lihat namun justru terungkap melalui kekuatan yang selama ini menjadi berkah sekaligus kutuk baginyaAiman mengingat jelas Genggaman singkat tangan Adinda di alun-alun itu Begitu ringan begitu hangat tetapi juga menjadi celah masuknya bayangan masa