Cuplikan Chapter ini
Aiman menatap papan strategi yang mulai penuh dengan catatan dan benang-benang penghubung di ruang briefing markas tim Wajah-wajah serius mengelilinginya Abian dengan tangan bersilang dan rahang mengeras Darius mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja Rayhan memelototi layar laptop sementara Leo meski masih menyelipkan candaan kali ini terlihat sedikit lebih serius dari biasanyaLetnan Adnan berdiri di depan mereka Kita masih belum punya alasan kuat buat menahan Doni Mahendra Kita butuh