Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Love From The Sea
Suka
Favorit
Bagikan
3. Pelarian (Scene18 - 25)

18 EXT. PEMANDANGAN LAUT DI SEKITAR RUMAH ATAS LAUT- SORE

ESTABLISHING SHOT

Garis cakrawala tampak mulai berwarna keemasan dengan matahari yang bulat hendak bersentuhan dengan garis lautan. Terlihat tanjung yang ditempati Asoka dan Rizal menambat perahu.

Asoka berdiri menatap laut lepas. Rambutnya tertiup angin. Rizal memandang wajah Asoka yang terlihat cerah dan bersiap menyanyikan lagi ciptaannya sendiri. Rizal mengikuti arah pandangan Asoka.

Asoka menghirup udara sambil memejamkan mata lalu dan menyanyi.

ASOKA

Hei matahari sore, sapaku dengan hangatmu...

Hei debur ombak, temaniku bernyanyi...

Oh malam, lelapkan aku di bawah sinar bulan

Alam yang indah dan tenang...aku senang bersamamu

Tanpa hiruk pikuk, tanpa keramaian...

Membuatku terlelap dalam mimpi dan harapan

Bahwa esok akan lebih cerah...

Esok akan lebih baik...

Karena Tuhan bersama kita, disini

Karena ku sini, tak biarkan kau sendiri...

Asoka bernyanyi lalu mendekati pintu Ali. Lalu bernyanyi kembali.

INSERT TO

Ali berdiri membelakangi dinding yang tepat berada di sebelah jendela super mini. Dia tersenyum. Lalu mengikat rambutnya dengan karet gelang. Saat lagu Asoka berhenti, Ali kembali diam dengan ekspresi datar.

ASOKA

Habiskan mangganya, Kak. Aku pulang.

Beat.

Asoka menatap bulatan matahari yang segera akan tenggelam. Dia melangkahkan kaki menuju anak tangga rumah yang ujungnya adalah perahu Rizal.

ALI (OS)

Besok, bawakan aku jerami dan tali kecil!

Asoka terdiam mendengar pesan Ali.

ASOKA

Baik, Kak

Asoka bergegas ke perahu. Bersama Rizal mendayung menuju daratan. Asoka kembali bernyanyi dengan wajah menghadap ke rumah hitam Ali. Rizal fokus mendayung menatap laut yang berwarna jingga.

FADE IN

ACT 2

Satu tahun kemudian.

19 EXT. PERAIRAN SEKITAR RUMAH ATAS LAUT ALI- PAGI

Ali, Asoka dan Rizal melompat dari rumah atas laut. Mereka tertawa dan saling melemparkan air. Ali menyelam. Diikuti Asoka dan Rizal. Tak lama mereka muncul kembali ke permukaan dengan wajah penuh tawa. Mereka lalu berenang di perairan.

20 EXT. TERAS RUMAH HITAM ATAS LAUT- SORE

Ali duduk di samping Asoka yang sedang mengupas mangga matang. Rizal duduk tepat di sebelahnya. Mereka bertiga menggantungkan kaki lalu menggoyang-goyangkan kaki dengan santai. Mereka memandang laut lepas. Asoka menoleh pada Ali yang tampak memandang langit.

ASOKA

Apa cita-citamu, Kak?

Ali diam. Rizal memandang lekat wajah sang kakak. Hening. Keduanya menunggu jawaban Ali.

ALI

Jika aku dapat pergi dari kampung ini dan mendapat kebebasanku, maka aku akan bahagia.(beat). Kalau Tuhan izinkan, aku ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain.

Ali tersenyum menatap Asoka dan Rizal. Lalu meraih mangga dari tangan Asoka dan menyuapi Asoka. Gadis itu terpana, menghentikan aktivitasnya mengupas mangga. Asoka tersenyum

ASOKA

Aku juga ingin pergi mengenal dunia di luar sana.(beat) Berkelana dan jadi orang sukses

Asoka menatap cakrawala. Rizal menatap sahabatnya yang tersenyum.

RIZAL

Apakah kalian tidak sayang orangtua?

Ali dan Asoka berpaling bersamaan ke arah Rizal.

ALI

Setiap orang punya tempat tersendiri di hati orang lain. Kalian juga punya tempat khusus di hatiku. Juga orangtuaku. Aku hanya ingin pergi. Kelak, aku akan kembali bersimpuh di hadapan orangtua setelah aku jadi anak berguna.

Ali menoleh pada Asoka dan Rizal.

ALI

Bisakah kalian membantuku?

Asoka menatap lekat wajah Ali.

ASOKA

Bagaimana kalau kita melarikan diri dari kampung ini, Kak Ali?

Rizal gelisah. Tangannya mengusap tengkuknya.

RIZAL

Kalian sudah gila? Asoka, apa kau tidak menyelesaikan SMP mu?

Dan,kenapa Kakak tidak menemui orangtua kita saja? Beritahu soal keadaan kakak sekarang?

Ali tersenyum kecil. Lalu berdiri dengan tetap menatap garis laut dan cakrawala.

ALI

Sebaiknya kalian pulang. (beat) Asoka, aku tidak mengajakmu. Semua terserah padamu.

Ali menoleh pada Asoka.

ALI

Pulanglah.

Asoka ikut berdiri. Dia memegang pergelangan tangan Ali.

ASOKA

Aku akan menemanimu, Kak. Kapan kau akan pergi?

Ali terdiam sejenak, sembari menatap Asoka.

ALI

Mungkin besok. Sekarang pulanglah. Hari mulai gelap.

Ali perlahan melepas tangan Asoka. Rizal ikut berdiri. Wajahnya sedikit cemberut.

RIZAL

Asoka, kau pulang tidak?

Rizal lalu menuruni anak tangga dan tiba di perahu. Asoka masih bersama Ali. Rizal masih berdiri di atas perahu menatap mereka.

RIZAL

(berteriak)

Asoka!!

Rizal sudah memegang dayung. Asoka turun dan naik ke perahu. Mengambil dayung di depan Rizal lalu menatap lekat pada Rizal. Lalu mendayung perahu perlahan.

INSERT TO

Ali melihat kepergian Asoka dan Rizal dari depan pintu rumah hitamnya. Hingga keduanya menjauh.

RIZAL

Apa kau mau nekad pergi, Soka?

Asoka mendayung tanpa menatap Rizal. Tapi melihat ke arah matahari yang akan terbenam. Lalu menatap serius pada Rizal.

ASOKA

Aku bisa pergi jika kau membantu kami untuk tidak bilang apapun ke orang kampung, terutama orangtuamu.

Rizal menghela napas panjang menatap gadis di hadapannya.

RIZAL (VO)

Bagaimana mungkin aku membiarkan kalian pergi? Mau jadi apa kelak? Siapa yang akan merawat dan mendidikmu? Aku tidak tahu bahaya apa yang ada di luar sana. Siapa yang akan melindungi kalian? Terutama kau Asoka.

FADE OUT

21 EXT. KAMPUNG NELAYAN - MALAM

Suasana kampung terlihat sepi. Rumah-rumah penduduk terang oleh lampu rumah. Hujan ringan turun. Jalanan kampung tampak sepi. Tiga sosok (Asoka, Ali, Rizal) berjalan pelan, mengendap-endap. Mereka menggunakan topi.

Mereka berjalan hingga ke perbatasan. Membawa tas di punggungnya masing-masing. Mereka lalu berhenti di area perbatasan. Terdapat beberapa mobil angkutan ikan terparkir. Ada beberapa orang sedang mengobrol sambil mengenakan sarung.

Asoka, Rizal dan Ali berhenti di dekat sebuah mobil pikap. Asoka menatap Rizal.

ASOKA

Terima kasih, Zal. Kelak kita akan bertemu.

Rizal balas memandang Asoka dalam. Tangannya memegang erat tali tas berisi makanan di tangan kanannya. Di samping Asoka, Ali berdiri menatap Rizal. Asoka mendekat, lalu menepuk pundak Rizal.

ASOKA

Aku dan Kak Ali berjanji akan datang menemuimu. Mungkin sepuluh tahun lagi. (beat) Jadi, tidak akan ada lagi Asoka yang akan selalu membuat berteriak karena aku memanjati pohon manggamu. (tertawa kecil)

Rizal tersenyum kecil. Matanya berkaca-kaca. Lalu mengacak rambut Asoka yang diikat satu. Asoka membiarkan Rizal. Rizal lalu menatap Ali. Dia mendekat dan mereka berhadapan dan saling tatap. Rizal memeluk Ali.

RIZAL

Cita-cita juga harus dibarengi kemauan dan ilmu, Kak.(bergumam)

Aku titip Asoka.

Ali mengangguk.(beat) Keduanya saling melepaskan pelukan.

RIZAL

Penuhi janji kalian

Asoka mengangguk. Ali hanya diam menatap lekat wajah Rizal.

DISSOLVE TO

22 EXT. MOBIL PIKAP - MALAM

Ali menoleh pada Asoka yang memandang jalan yang terlewati oleh mobil. Ali mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

ALI

Soka, ambil ini.

Ali mengambil tangan Asoka dan meletakkan kalung dengan liontin jerami berbentuk kuda laut di sana. Asoka menatap ke kalung lalu tersenyum senang.

Asoka mengenakan kalung itu di lehernya. Mengamati liontin, lalu menatap Ali tersenyum.

ASOKA

Terima kasih, Kak.

Ali mengangguk. Tangannya membetulkan jaket Asoka yang kedodoran.

CUT TO

23 INT. RUMAH ASOKA - RUANG TAMU- MALAM

Ibu dan bapak Asoka duduk di ruang tamu. Di depannya, dua kakak Asoka terlihat gelisah. Bapak berdiri. Wajahnya tegang, tangannya mengepal. Matanya menatap tajam pada istrinya.

BAPAK

Anak itu benar-benar nakal. Pergi dari kampung begitu saja. Mau jadi apa dia?!

Di meja ada sepucuk surat yang ditulis Asoka. Ibu meraih surat itu dengan tangan gemetar. Bapak dan anak-anaknya ikut menyaksikan ibu membacanya.

ASOKA (OS)

Maaf, Asoka mau pergi mencari pengalaman dan ilmu. Jadi, Ibu, Bapak, kakak tidak usah cemas. Karena pasti aku akan kembali dan membuat kalian bangga. Asoka akan bangun rumah yang bagus untuk kita kelak. Emmuah, buat Ibu, Bapak dan kakakku tersayang. Doakan Asoka. Bunga kecil mu yang nakal ini.

Ibu Asoka menangis. Kedua anaknya mengusap punggung Ibu. Bapak terduduk sambil menggeleng-geleng kepala. Dia meremas pelipisnya. Lalu mengusap wajahnya lalu menatap istrinya.

IBU

Doakan Asoka, Pak

CUT TO

24 INT RUMAH RIZAL/ALI - RUANG KELUARGA - MALAM

Bapak Rizal terdiam di sudut ruang. Wajahnya mengeras. Rizal berdiri di depannya. Mukanya ditekuk. Tidak mengangkat wajah menatap bapaknya.

RIZAL

Maafkan saya, Pak.

Rizal meremas kedua tangannya. Bapak menggebrak meja dengan keras. Membuat Rizal, dan ibunya yang sedang berdiri dekat Rizal terkejut. Bapak masih diam.

IBU

Kenapa kau tidak bilang pada kami soal kakakmu?

RIZAL

Bapak dan ibu tidak akan percaya kalau Kak Ali benar-benar tidak gila seperti yang kalian kira. (beat) Kakakku normal, Bu, Bapak.

Rizal menatap bapak dan ibunya. Kening bapak berkerut. Bapak dan ibu saling pandang. Lalu menoleh bersamaan menatap Rizal.

BAPAK

Aku khawatir dia akan mencelakai orang.

IBU

Dia pergi bersama siapa?

RIZAl

(pelan)

Asoka, Bu

BAPAK & IBU

Apa?!

Bapak dan Ibu menatap tajam pada Rizal yang menunduk.

RIZAL

Iya, Bu, Pak. (beat) Ibu tak usah khawatir. Asoka akan aman bersama Kak Ali. Kakakku baik-baik saja.

BAPAK

Anak itu...

Kedua orangtua itu saling pandang lalu menghela napas panjang.

25 INT. KAMAR RIZAL - MALAM

Rizal berdiri menatap langit dari jendela kamarnya. Dia mengulurkan tangan merasakan embusan angin. Hujan sudah mulai reda. Sekeliling kamarnya ditempeli poster pemain bola. Di dekat jendela ada lemari pakaian yang mulai rusak pintunya. Kaca di pintu lemari juga mulai kusam.

Di bagian lain, ada meja yang cukup untuk belajar. Ada beberapa tumpukan buku di sana. Rizal berjalan mendekat lemari. Ada dua foto tertempel di sana. Matanya menatap fotonya bersama Ali tertempel di sana. Tersenyum.

Tatapannya beralih ke foto lainnya. Fotonya bersama Asoka mengenakan pakaian Sekolah Dasar. Rizal mengusap wajah Asoka di foto itu. Tatapannya sendu sarat kesedihan.

FADE IN

Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar