Cuplikan Chapter ini
Hari pertama berlalu dengan harapan yang masih utuhSita berdiri di beranda sejak pagi menatap jalan setapak yang menghubungkan rumah Omah dengan pusat desa menunggu sosok berpeci hitam pudar yang katanya akan datang sore ini atau paling lambat besok pagi Sore itu berlalu tanpa satu pun bayangan yang muncul dari kejauhan hanya angin laut yang membawa aroma garam seperti biasa seolah tak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan Hari kedua harapan itu mulai retakMungkin dia sibuk gumam Ol