Cuplikan Chapter ini
Ruang belakang rumah Omah terasa lebih sempit dari biasanya malam itu meski tak ada satu pun perabot yang berpindah tempat Mungkin karena enam pasang mata yang berkumpul mengelilingi tikar pandan itu semuanya menatap satu titik yang sama sebuah kotak kayu kecil bersegel lilin merah tergeletak di tengah lingkaran seperti bara api yang belum padam menunggu siapa yang berani menyentuhnya lebih duluPelita di sudut ruangan berdesis pelan nyalanya bergoyang setiap kali angin malam menyusup