Cuplikan Chapter ini
Niat besar untuk pergi sejauh mungkin dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi dari desa transmigrasi itu ternyata barulah sebatas angan-angan kosong yang menggantung tinggi di atas awan Kenyataan hidup yang teramat pahit terus-menerus datang menampar wajah Ahmad Sadikin dengan sangat keras tanpa ampun membangunkannya secara paksa dari mimpi-mimpi indah tentang sebuah pelarian Langkah kakinya seolah-olah telah dirantai oleh besi tak kasat mata bernama takdir tepat di atas tanah merah