Cuplikan Chapter ini
Langkah kaki Ahmad Sadikin kembali membawa tubuhnya yang dirundung lelah luar biasa melintasi daun pintu rumah papan di desanya Kegagalan kedua di Surabaya mulai dari menjadi buruh pabrik yang eksploitatif hingga terdampar sebagai pemilah rongsokan yang berdebu sempat menggoreskan luka yang teramat dalam pada harga dirinya sebagai seorang pemuda terdidik Namun pelukan bersahaja tanpa penghakiman dari Pak Joko dan Ibu Ratna selalu saja menjadi penawar paling mujarab bagi segala rupa lebam