Cuplikan Chapter ini
Setelah kembali menapakkan kakinya di Riau dari perantauan Surabaya dengan membawa sejuta kekecewaan yang menggores batin roda hidup Ahmad Sadikin seolah kehilangan poros utamanya Ia memang telah kembali ke desa kembali ke pelukan rumah papan orang tuanya dan kembali menjalani aktivitas dari hari ke hari Namun kini hari-hari yang dilaluinya terasa berjalan jauh lebih berat pekat dan menyesakkan Beban itu bukan karena adanya tekanan fisik dari luar melainkan karena rasa hampa yang te