Cuplikan Chapter ini
Hawa di dalam lorong bawah tanah itu semakin pekat oleh aroma yang menyerupai campuran gaharu dan kapur barus Anggara berdiri di depan pintu gerbang batu berbentuk lingkaran Lengan kanannya yang mati rasa kini bergetar lebih hebat seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk dari dalam sumsum tulangnya memaksa energi Kanuragan yang membeku di bawah kulitnya untuk kembali bergolakAnggara tunggu Fauzan melangkah meletakkan tangan kanannya yang sehat di bahu kiri Anggara Mat