Cuplikan Chapter ini
Kabut aneh yang dingin menggantung di atas hamparan permadani hijau kebun teh Bau pucuk daun teh yang segar menguap digantikan oleh aroma anyir karat dan belerang yang dibawa oleh ribuan napas para DanavaDi celah gua Anggara menahan napasnya yang masih terasa panas Guratan perak Aksara Kanuragan di telapak tangan kanannya terus berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang berpacu liar Di sampingnya Michiru mencengkeram erat lengan jaket Anggara matanya membelalak tak percaya menata