Cuplikan Chapter ini
Arimbi duduk di ruang tamu rumahnya yang sepi tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin Udara malam terasa semakin dingin dan pikirannya melayang pada segala hal yang terjadi selama pernikahannya dengan Hans Arimbi menyadari bahwa mereka berdua seperti dua orang asing yang berjalan di jalan yang sama tetapi dengan tujuan yang sangat berbedaArimbi menutup matanya ia merasa terjebak dalam perangkap kendali yang terus-menerus ditegakkan oleh Hans baik secara halus maupun langsun