Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Talak Untukku
Suka
Favorit
Bagikan
10. Bab 10 lamaran Mas Emil
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Biarlah mbak Anggun menjadi membenciku semoga saja ucapanku akan membuatnya sadar, akan arti dari kata menghargai bukan memanfaatkan keadaan, kenapa harus ada hal semacam itu bahkan Bapakku tidak pernah mengajariku memanfaatkan orang lain.

"Tante Lintang, Jingga kangen." sapanya sambil berlari memelukku.

"Jingga, Tante juga kangen sekali." ucapku sambil menggendongnya.

"Tante hati ini Jingga dapat nilai 90?" tanyanya sedih.

"90 itu bagus banget lo sayang!" jawabku sambil mencium pipinya.

"Benarkah Tante." ucapnya sambil tak percaya.

"Iya sayang bagus belajar lagi biar dapat nilai 100 semangat ya." ucapku menyemangati Jingga.

"Iya Tante semangat."

Gadis kecil ini, ia begitu menyanyagiku. Aku harus bisa membuatnya bahagia, keberadaanya membuat hidupku jadi lebih berwarna. Hidup harus kita jalani apapun itu aku harus bersyukur.

Aku bercanda dan tertawa melihat tingkah lucu Jingga yang kian menjadi, gadis kecil ini mampu membuatku bahagia dengan cara sederhananya, ia memintaku untuk mengantarnya pulang, karena Papanya masih meeting diluar kota.

Selesai bekerja aku minta izin sama Elsa untuk mengantarkan Jingga bersama Mbak Sonya, mobil melaju melewati jalan Raya yang begitu padat. Hingga kami sudah sampai dirumah lelaki tampan itu.

Kami masuk disambut oleh Mama Ita, kami bercanda diruang tamu dan Jingga memintaku menemaninya untuk membuat masakan yang enak.

"Masak apa ya Tante, masak yang Enak tanpa ikan sama daging ?" tanyanya bingung sambil berfikir.

"Maunya apa sayang, goreng tempe saja atau bakwan jagung mau!" jawabku pada Jingga.

"Boleh Tante kayaknya enak tuh." ucapnya antusias senang.

"Oke Ayo kita buat."

Kami berdua menyiapkan sayur asem, sama goreng bakwan jagung dan tempe goreng juga sambal tomat, Jingga membantu memotong sayuran sedangkan aku membuat adonan bakwan jagung. Selang beberapa menit masakan sudah siap diatas meja.

Kami menikmati masakan yang sederhana, bersama Mama Ita juga mbak Sonya, mereka menyukai masakanku, Alhamdulillah masakan biasa namun serasa istimewa ucap mama Ita memuji masakanku.

Selesai makan Mas Emil belum juga pulang, aku minta izin pulang, Jingga menahanku tapi aku bilang jika Elsa tidak ada temannya dirumah, akirnya ia mengerti juga, kami melangkah pergi menuju halaman rumah, saat kami akan masuk mobil mbak Sonya, mobil MAs Emiel datang.

"Baru pulang Mas?" sapaku pada MAs Emil.

"Iya Lintang, ini baru selesai meetingnya langsung pulang!" jawab Mas Emil padaku.

"Emil Lintang Mau pulang, kamu yang antar atau Mbak yang antar?" tanya mbak Sonya membuatku menjadi Malu.

"Biar Emil yang antar Mbak!" jawabnya membuat jantungku berdetak.

Kami didalam satu mobil, hanya ada Aku dan Mas Emil, dadaku berdetak aku tak bisa menahan gejolak didalam dadaku, mobil mas Emil terparkir dijalan dan Dia mengajakku memasuki sebuah Kafe. Kami duduk berhadapan dua cangkir kopi panas mengepul didepan kami.

Hening

Hanya ada suara musik mengalun merdu

"Lintang, Maaf jika Mas lancang, Namun ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu?" tanya Mas Emil membuat jantungku berdetak lebih cepat.

"Iya Mas, ada apa!" Jawabku sambil ingin mengetahui apa yang akan diungkapkannya.

"Lintang, Maukah kamu menjadi Ibu untuk Jingga?" tanyanya lagi membuat aku menutup mulutku.

Diam

"Maukah kau menikah denganku?"

"I--In--Ini Serius Mas Emil!" tanyaku tak percaya.

"Iya Mas serius, Aku ingin kita hidup bersama."

"Lintang bersedia Mas Emil." ucapku membuat wajah mas Emil tersenyum bahagia.

Aku hanya bisa menggangguk yang artinnya iya, Dia begitu bahagia aku lihat, semoga saja ini untuk yang terakhir kalinya. Aku berharap Mas Emil akan memperlakukanku seperti wanita yang lainnya.

Mencintai dan dicintai tanpa ada skandal dan saling menyayagi,Mas Emil berjanji akan menjagaku. Semoga ini akan membuat kebahagiaan buat hidupku, juga hidup Jingga.

"Trimakasih sudah menerima lamaranku Lintang." sapa Mas Emil padaku.

"Sama-sama Mas, Aku hanya minta satu hal mas, Tetap setia!" jawabku jujur.

"InsyaAllah Lintang Mas janji." ucapnya meyakinkanku.

Kami berjalan keluar dan ia mengantarku sampai didepan Rumah, Ia mengucapkan salam dan berlalu pergi, Mobil yang ia tumpangi pergi hingga tak terlihat lagi.

Aku masuk kedalam, dan merapikan diriku, kulihat Elsa sudah tertidur, aku pun mengunci pintu kulihat badan tegap dari korden jendela, aku langsung mematikan lampu dan melihat dari dalam, ternyata ia adalah Mas Fajar, Sungguh aku harus bicara dengannya, agar ia tak lagi mengganguku.

Aku masuk ke dalam kamar, kurebahkan badanku diatas ranjang, wajah Mas Fajar terus membuatku berfikir, lebih baik menemuinya agar ia tak lagi berharap. Rasa cemas juga bahagia, cemas karena Fajar selalu menggangguku dam bahagia karena akan ada orang disisiku lagi Mas Emil.

Akan ada orang yang menemaniku hingga menua nanti, semoga saja ini untuk yang terakhir kalinnya, ya itulah harapanku memiliki keluarga yang seutuhnya, tanpa ada perselingkuhan, malam semakin sunyi hanya terdengar suara jagkrik, tak terasa aku sudah terlelap dalam mimpiku.

Pagi hari seperti biasa, kami melangkah menuju butik, lalu lalang kendaraan tak membuat kami bercanda berdua menikmati Pagi yang cerah, kami mau memasuki butik dan langkah kami terhenti saat Mas Fajar ada didepanku.

Aku melangkah mendekatinya, sementara Elsa tak tega meninggalkanku sendiri dengan Mantan suamiku itu, kuberi penjelasan lalu Elsa pergi meninggalkan kami, Mas Fajar tidak akan berhenti sebelum aku bicara padanya, Aku harus menyelesaikan hari ini juga.

"Silahkan bicara Mas?" tanyaku pada Mas Fajar.

"Aku mohon Lin, beri mas kesempatan untuk kembali lagi bersamaku!" jawabnya membuatku semakin membencinya.

"Apa alasan Sekar meninggalkanmu Mas?" tanyaku pada Mas Fajar aku ingin mengetahuinya.

"Sekar hanya memanfaatkanku untuk membalas dendam padamu Lin!"

"Balas dendam, maksudnya Mas?"

"Iya, Kakaknya frustasi karena kau meninggalkannya dan menikahiku!" 

Jawabanya Mas Fajar membuatku tidak mengerti, siapa laki-laki yang aku sakiti aku tidak pernah punya hubungan dengan lelaki kecuali teman dekat, atau lebih tepatnya sahabat

"Oh..." ucapku tanpa tau siapa kakaknya Sekar, sungguh ini membuatku bingung.

Apa yang harus aku katakan agar Mas Fajar tidak lagi menggangguku, Sifatnya tidak pernah berubah, apa yang ia inginkan harus ia dapatkan, namun tidak untuk kali ini Mas Fajar, Aku tidak akan memenuhi ambisimu itu.

"Mas Fajar sudahlah, Aku sudah memaafkanmu, tapi Maaf dan tolong jangan ganggu aku lagi?"

"Tapi lin."

"Aku akan menikah Mas, semoga Mas Fajar bahagia dan mendapatkan wanita yang sholeha, permisi."

Aku pergi meninggalkan Mas Fajar yang sedang duduk dilantai, tubuhnya lunglai dilantai Mall, aku harus kuat karena itu caranya agar dia tak lagi mengganguku lagi. Sebenarnya kasihan namun, ia terus menyakitiku saat pernikahan kami berlangsung.

Aku masuk dan mulai bekerja pikiranku jadi tidak tenang, siapa sebenarnya lelaki itu, namun sapa mbak Sonya mengagetkanku.

"Lintang, kata Emil ia melamarmu?" tanyanya Mbak Sonya serius.

"Iya Mbak Sonya!" jawabku malu juga resah.

"Sudah yakinlah, Emil bukan tipe menyakiti hati wanita."

"Baik Mbak, Lintang mengerti."

"Semoga bahagia ya?" serunya sambil tersenyum dan melangkah pergi.

Sudah Istrirahat seperti biasa aku bergegas kemusholla,ada seorang ibu-ibu menagis dipojokan ruang musholla, kasihan sekali beliau pasti ada masalah yang tak bisa ia pendam, mungkin beliau butuh orang untuk menuangkan perasaannya, aku menghampirinya dan bertanya pada beliau.

"Ibu bisa saya bantu kenapa ibu menangis?" tanyaku pada seorang Ibu yang menagis tersedu.

"Anak ibu Sinta meninggal saat ia melahirkan nak!" jawabnya sambil memelukku erat.

"Innaillahiwainnaillahirojiun sabar ya bu." ucapku menenagkanya.

"Sabar dan iklaskan putri ibu, kasian bayi mungilnya, ia membutuhkan kasih sayang Ibu."

"Iya Nak, ibu harus bangkit"

Ibu itu pamit untuk membeli Susu juga pakaian buat Cucunya, kasihan sekali semoga suami serta keluarganya kuat dan iklas menjalani takdir-NYA.

Aku kembali bekerja, hari ini butik lumayan Ramai, karena banyak sekali kebaya yang baru datang, namun fikiranku masih bingung, memikirkan siapa Kakak dari Sekar.

Aku sambil merapikan dan mencatat pakaian yang datang, pikiranku masih penasaran siapa kakak yang terluka saat aku tinggal menikah, satu satunya teman dan sahabat dekatku adalah Mas Haris, tapi Mas haris adalah anak tunggal ia tak punya adik, lalu siapa yang dimaksud Sekar?

Bersambung.....

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)