Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Biarkan saja Anggun, lumayan kan kita tidak bayarin pembantu dirumah ini, sudah ada Lintang yang membereskan semuanya?" Seru kakak iparku Wulan yang bicara sama kakak iparku satunya Anggun.
"Iya sih Mbak, coba antar jemput tiara, kalau pake jasa ojek online sudah berapa saja!" Ucap mereka sambil tertawa, mereka mempermainkanku, ya Allah andai saja bapakku tidak berpesan padaku, untuk selalu menyayangi keluarga dari suamiku, mungkin aku tak semenderita ini.
Mereka tak sadar jika aku mendengarkan ucapan mereka, dirumah ini hanya Tiara dan Ibu meetuaku yang baik padaku. Untuk apa aku bertahn dirumah mewah ini, penghuninya banyak, dan ga semua menyukaiku.
"Lin, hari ini budhe yang dari jogya mau mampir kesini masak yang banyak ya?" Suruh kakak iparku Mbak Wulan padaku sambil berdandan menor didepanku.
"Kamu itu wulan, bukannya bantuin adikmu Lintang, malah menyuruhnya terus, sana bantuin?" Suruh Ibu pada Mbak Wulan, yang aku tahu pasti ibu membelaku.
Kuiris kentang juga wortel, ponselku berbunyi, dan kulihat bapak yang menghubungiku.
[Nak, pukanglah sebentar saja, Bapak Rindu]
[Baik Ayah kalau tidak besuk lusa ya]
[Iya Nak, Bapak tunggu]
Tamunya sudah datang, Aku menyiapkan minuman teh hangat juga cemilan kue yang kubuat, mereka berkumpul dan bercanda bersama, terdengar suara mobil Mas Fajar memasuki ruang parkir.
Aku berjalan dan membukakan pintu, deg...... Ia bersama perempuan sekar itu, ia masuk tanpa menghiraukan aku yang ada didepannya, seperti pecahan kaca itulah gambaran hatiku saat ini.
"Lo, Siapa ini Fajar cantik sekali?" Tanya Mbak Anggun yang serasa suka adiknya punya scandal dengan perempuan itu.
Aku hanya berdiri mematung, dan tak beranjak dari tempatku berdiri.
"Dia Sekar, pacarnya Fajar Mbak Anggun!" jawabnya suamiku bangga, tanpa dosa menjawab pertanyaan mbaknya.
"Cantik sekali, tidak seperti istrimu yang selalu pake kerudung kampungan."
Deg...bagaikan disambar petir mendengar ucapan mereka menyindirku.ya Allah kuatkanlah aku.
Aku langsung pergi menuju dapur, berderai air mataku, aku harus kuat demi bapak, kecuali dia suamiku yang menyuruhku pergi dari rumah ini.
Aku membawa minuman untuk mereka, saat aku membawa minuman serasa ada yang menarik jilbabku hingga juznya, mendarat dibaju Sekar, dan tak menunggu lama suamiku marah besar.
"Dasar perempuan tak tahu diri, sengaja ya menumpahkan minuman di baju Sekar?" seru Mas Fajar sambil melotot kearahku.
"Ma-maaf Aku tidak sengaja!" lirihku sambil memegang baju sekar lalu ditangkis olehnya.
"Lintang az Zahra....Aku Fajar mahendra ku berikan Talak untukmu? Dengan sombongnya ia bicara.
Sudah kuduga pasti lambat laun ini pasti ia ucapkan, sebuah talak utukku sudah kuterima. Ya Allah inikah jalan aku terbebas dari belenggu pernikahanku selama ini.
"Yang menalak Lintang, pintu terbuka silahkan keluar dari rumah ini, jangan berharap mendapatkan sepeserpun harta Ibu?" ucap lantang wanita paruh baya yang selalu menyayagiku.
"Ta-tapi Bu...!" Ucap Fajar sambil bersimpuh dikaki ibunya.
"Perlu kalian ingat Ibu bisa berhasil seperti ini karena Ayahnya Lintang, menjual kebunnya untuk diberikan kepada Ibu, jadi yang melanggar perintahku silahkan keluar sekarang...Pergi!" Seru Ibu mertuaku sambil berjalan dan memelukku.
"Tapi Ibu Maafkan Fajar?"
"Pergi atau kusuruh satpam mengusirmu!"
Mas Fajar berlalu bersama kekasihnya sekar entah bagaimana nasibnya tanpa bantuan dari Ibunya.
Hening....Diam.... Semua saudara, budhe yang dari jogja juga kakak iparku tak berani bicara, Ibu mertuaku begitu emosi, tidak pernah aku melihat, beliau semarah ini.
"Sayang plis Ibu mohon, tetaplah tinggal bersama kami?" tanya ibu sambil memelukku erat.
"Tidak Ibu, lintang sudah ditalak dan lintang masih punya Bapak, lintang harus pergi!"
"Tapi Nak....!"
"Lintang akan baik-baik saja ibu."
Ada sisi lega didalam hatiku, setidaknya beban dihatiku berkurang. Selamat tinggal rumah mewah namun begitu banyak luka. Ibu meetuaku tidak tau jika aku diperbudak oleh kakak-kakak iparku.
Aku merapikan bajuku didalam koper dan Aku berharap Bapakku mau menerima putrinya yang telah gagal mempertahankan pernikahan yang beliau inginkan.
Kuturuni tangga, dan gawai kumasukkan dalam Tas, Aku menuju Ruang keluarga dan berpamitan dengan keluargaku, aku melangkah menghampiri mereka.
"Mbak Wulan, Mbak Anggun, lintang pamit?" Sapaku yang tak dihiraukan oleh keduanya.
Tidak ada yang menahanku, budhe juga terlihat biasa saja. Hmm ya sudahlah.
"Tante.... Tolong jangan Tinggalin Tiara!" pinta gadis kecil itu padaku.
"Nanti kapan-kapan kita bisa bertemu lagi sayang!" jawabku pada gadis kecil yang memelukku erat, ia tahu jika hanya aku yang mengerti tentang keadaannya.
"Nak, tidak bisakah dirubah keputusanmu?" permintaan Ibu padaku.
"Ibu, sebuah pernikahan tidak akan pernah bisa bahagia jika didalamnya hanya ada kekerasan, Aku hanya istri yang tak diharapkan Bu!"
Diam
Hening, hanya terdengar suara langkahku pergi meninggalkan rumah itu. Rumah yang selama ini menyiksaku lahir dan batin, Aku menaiki taxsi online dan mobil terus berjalan di aspal yang mengepul terkena Roda.
Taxsi terparkir didepan Rumah Bapakku, terlihat banyak orang berkerumun didalam rumahku, ya Allah ada apa lagi ini. Aku berlari memasuki dan masuk ke dalam rumah, ya Allah ada apa ini? Apa yang terjadi. Dan pandanganku menjadi gelap.
Setelah berapa saat aku siuman ternyata ayahku sudah Tiada, bagaimana ini ya Allah kenapa engkau membedi cobaan untukku begitu berat. Ada beberapa tetangga yang menenangkanku.
Bapak maafkan Aku, Aku yang memandikan jenazahnya, Sungguh Engkau telah merampas orang-orang yang aku sayangi. Hingga tubuh Bapakku dimakamkan aku hanya bisa Diam menatap tubuhnya yang dibungkus kain kafan.
Aku duduk dikursi sendirian ditemani tetangga, juga budhe ku yang datang dari luar pulau jawa, tak sengaja pulang dan ada pas saat terakhir Ayah, beliau menyerahkan sebuah kotak untukku, kotak yang berisi surat penting juga beberapa uang yang banyak.
"Apa pesen Bapak Budhe?" tanyaku pada budhe Fitri yang lagi memasak untukku.
"Bapakmu hanya pesen agar kamu taat pada Allah dan bahagia Lin!" jawab Budhe yang lagi berada di dekatku.
Maafkan aku Bapak, bahkan aku tidak bahagia, Aku terluka Bapak. Aku menderita.
"Lin, Budhe yang akan mengurus Rumah ini ya? Pakdhe mu juga sudah tiada Budhe Ga tahu harus kemana lagi?"
"Kapanpun, Rumah ini terbuka buat Budhe!"
"Terimakasih, Lintang."
"Iya sama-sama budhe."
Kubaringkan tubuhku dikamar kesukaanku, masih sama rapi dan bersih, Ayah selalu membayar orang buat bersihin rumah ini, Rasanya beban di pundakku dihantam batu beton yang sangat berat.
Bagaimana tidak suami yang begitu aku sayangi ternyata ia selingkuh di belakangku, aku ini seperti wanita yang hina saja, diabaikan Suami, tidak punya apa-apa. Bahkan Bapak yang paling aku sayang pun meninggalkanku.
Kubuka Gawaiku, kulihat wajah suamiku di media sosial miliknnya yang bergelayut manja dengan kekasihnya, inikah kesalahanku terlalu mencintainya. Hingga aku semenderita ini.
Satu bulan setelah kepergian ayahku, Aku pamit sama Budhe untuk bekerja, aku sudah bosan dirumah hanya makan dan tidur.
"Budhe, Lintang mau bekerja lagi?" lirihku pada budheku.
"Iya nak, Biar budhe yang jaga Rumahnya, hati-hati dan sering sering pulang nengokin budhemu ini?"
"Iya budhe."
Aku menaiki Taxsi online, dan menuju alamat yang sudah menerimaku bekerja, dari situs online, Alhamdulillah disebuah mall, sebuah butik baju kebaya, Aku diterima sebagai kasir di butik tersebut.
Aku memasuki sebuah Butik dan masuk kedalam, ada wawancara untukku, dadaku serasa degdegan mendengar namaku dipanggil.
"Permisi?" sapaku pada yang punya butik ternyata seorang Pria.
"Silahkan Duduk!" jawabnya sambil menyuruhku duduk.
"Sudah diberitahu ya soal pakaian juga make up, harus Rapi dan berikan senyum termanismu."
"Baik Pak mengerti!"
"Baiklah silahakn keluar, ambil bajumu di Sita dan selamat bekerja?"
"Terimakasih Pak, Alhamdulillah."
Mbak Sita membantuku memakai make up naturalnya, aku kaget lihat wajahku sendiri di cermin ternyata aku cantik juga ya. Saatnya Aku bangkit dari keterpurukan.
Cantik, menarik, dan baik hati itulah diriku yang sekarang, tidak seperti dulu dekil, kumel pantas saja Mas Fajar menolakku.
Bersambung.....