Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Akulah Lintang, wanita yang tidak diharapkan oleh suamiku sendiri, setahun pernikahan kami, suamiku masih saja tidak menganggapku ada, Aku hanya seperti bayang-bayang semu baginya.
"Trimakasih lin, setidaknya kau mengurusku dengan sangat baik?" tanyanya dengan Angkuh suamiku berucap.
"Maksudnya Mas apa!"
"Kau wanita yang tak kuinginkan, kau tau persis, pernikahan kita hanya sandiwara."
Bagaikan disambar petir siang bolong, tubuhku lunglai kelantai, apa yang diucapkan suamiku seperti tamparan keras buatku, bagaimana bisa diusia pernikahanku yang sudah satu tahun, ia baru mengatakan ini
padaku.
"kau tidak pantas menjadi istriku, Sekar lah yang layak menjadi istriku, dia cantik tidak sepertimu kumel" ucapnya didepanku.
"Selama ini, Mas baru mengatakan ini padaku, apa dosaku hingga kau menghukumku seperti ini." sergahku pada lelaki yang telah memberikanku gelar sebagai istri sagu tahun yang lalu.
Senja mulai menguning pertanda petang akan tiba saat malam berganti pagi dan seterusnya, begitu juga dengan kisah lukaku yang butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, Aku perempuan yang terluka, inilah mungkin kisah hidupku, tersakiti.
Terdengar Suara adzan bergema, aku terbangun dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang hamba, Aku berjalan menuju dapur dan menyiapkan sarapan pagi, Dua piring Nasi goreng sosis dan telur ceplok sudah tersedia dimeja makan.
Mas fajar, menyantap nasi goreng hingga habis tak tersisa, aku beranjak lalu membersihkan bekas piring lalu mencucinya, setelah itu, ia pamit untuk berangkat kerja, Aku kembali membersihkan rumah, ia pun pergi bekerja tanpa berpamitan padaku.
Sehina inikah aku, hingga suamiku tidak menginkanku,siapa perempuan yang bernama Sekar, yang bisa merebut hati suamiku itu.
"Tante, Tiara berangkat sekolah dulu ya?" pamit Tiara saat aku sibuk sedang membersihkan kamar mandi.
"Iya sayang, ayo Tante antar!
Kunyalakan motor metic kesayangan dan mengantar Tiara menuju sekolahnya, sampai digerbang sekolah aku langsung kembali kerumah.
Udara sangat dingin, membuat cuaca sedang tidak bersahabat denganku, badanku serasa lemas, tak bertenaga, kubaringkan tubuhku diranjang kamar tidurku. Gerimis membasahi kota ini hingga aku kembali terjaga dalam mimpiku.
"Tante sakit?" Tanya Tiara, sambil memberiku secangkir teh hangat di atas meja.
Lo ko sudah pulang, siapa yang menjemputnya, karena ketiduran aku jadi ga bisa menjemput Tiara, kata Tiara ia diantar oleh pak guru Galang yang menjadi tetangga kami.
"Iya sayang, Sepertinya Tante masuk angin!" jawab Tiara sambil memijit leherku.
"Cepat sembuh Tan, Aku mau les dulu." lirih Tiara padaku.
"Iya sayang hati-hati."
Rasa bahagia yang aku rasakan saat ini selama, memiliki keponakan begitu baik, Aku berharap semua akan baik-baik saja. Dan suamiku bisa berubah.
Malam semakin larut namun suamiku tak kunjung pulang juga, aku menunggu hingga jam sudah terlalu malam, aku beringsut kekamar dan berusaha tertidur, Apupun terlelap dalam kehenigan malam.
Kubuka gawaiku, namun tak juga pesan atau chat masuk, hhmm scandalnya dengan Sekar membuatnya menjadi gilla. Ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Assalamu'alaekum.
"Waalaekum'salam Bu." Sapaku pada Ibu mertuaku.
"Gimana nak, kabarnya?" sergahnya berdiri sambil membuka tempat saji makanan dimeja, Ibu sepertinya sudah selesai dari luar kota.
Wanita ini yang dulu menjodohkanku, karena ia dulu sahabat dari Ayahku, aku menurut saja karena hanya itu alasan aku untuk patuh sama Bapakku.
"Alhamdulillah baik Bu!" lirihku sambil dengan cepat aku mengusap air mataku.
"Ibu tahu kau selalu terluka oleh perbuatan Fajar, apa ia masih kasar padamu?"
Diam, hanya terdengar suara gunting yang kupakai untuk memotong kain, Haruskah aku menjawab pertanyaan yang menyakitkan ini.
"Lintang...?"
"Eh-- iya Ma-sih Bu!" jawabku keceplosan.
"Ayo anterin Ibu belanja, biar kamu tidak stess begitu dirumah terus?"
"Baik Bu..!"
Mobil Ibu melaju membelah jalan Raya, kami bercanda dan tertawa mendengar cerita lucu Tiara, mobil masih berjalan hingga pemandangan pun terlihat dengan jelas dari dalam mobil, Tiara adalah anak dari kakak iparku mbak Anggun.
Kami membeli beberapa bahan dapur dan kebutuhan sembako, selesai memilih Mama mengajakku kekasir, terdengar suara Tiara mengetahui pamannya, berjalan dengan perempuan cantik dan seksi. mamapun mengetahui kelakuan anaknya.
Saat Aku melihat wajah wanita itu tubuhku berguncang wanita itu begitu cantik, Seolah dunia berhenti berputar seperdetik, air mataku luluh lantah, luka yang ia berikan padaku begitu menyakitkan.
Selama hidup dengannya aku bahkan lupa bagaimana berdandan aku hanya mengurusi pekerjaan Rumah dan menjemput tiara, hari-hariku selalu bahagia dan sekarang hancur dalam hitungan detik, ketika mengetahui scandal suamiku.
Lihat saja ia bergelayut manja dilengan suamiku, ya Robb kuatkan aku menghadapi ini demi Tiara. Gunjingan para tetangga yang mengatakan, selalu memergoki Mas Fajar ternyata benar.
Ternyata cinta dan lukaku hanya seharga sabun colek, selama ini tak ada Cinta untukku hanya ada Luka, yang tersisa hanya hampa, Aku harus bangkit dan bertahan.
Begitu menyakitkan, jika mengingat ia pergi dengan selingkuhannya, bukannya Meeting, adakah yang bisa menggantikan luka yang aku alami cemooh dan gunjingan para tetangga selalu menghantuiku.
Apapun ujianku, aku harus yakin, Allah tahu yang terbaik untukku, aku hanya bisa menghela nafas panjangnya, berusaha membaringkan tubuhku dikeheningan malam, kata-kata Mas Fajar selalu mengganggu tidurku, Malam mulai larut, iringi doa agar harapan tak pernah luput.
Bismillah allahumma ahya wa bismika amuut.
Kupasrahan diri ini kepada-Nya, apakah mata bisa terbuka atau justru ada maut yang menjemput. Maka bersyukurlah.
Seperti biasa pagi hari kusiapkan sarapan, aku bergegas mencuci pakaian, satu persatu bju kumasukkan kemesin cuci, betapa terkejutnya aku melihat banyak lipstik dibaju suamiku.
Apakah aku akan bertahan dengan hati yang terus terluka seperti ini, ataukah aku harus bertahan, namun bertahan untuk apa anak saja akupun belum punya, bagaimana bisa ia pun hanya beberapa kali menyentuhku.
"Lin, Apa kamu masih mau mempertahankan Rumah tangga kita yang hambar ini?"
Tanyanya padaku sambil ia berjalan dan duduk memakai sepatunya.
Diam..... Tak kuhiraukan ucapannya Mas Fajar, yang bertanya padaku. Pertanyaanya begitu menyakitkan.
"Lin,,, Aku mohon setidaknya biarkan Aku menikahi sekar?"
Aku hanya diam, hanya terdengar suara Air kran saat aku mencuci piring.
"Lin apa kau tak punya telinga?" tanyanya lagi mengagetkanku.
"Terserah Mas saja, gimana baiknya?"
Jawabku sambil mengelap tanganku yang masih basah, dan menata piring dalam rak, dadaku serasa sesak mendengar ucapannya.
"Dasar wanita egois, sampai kapan kau membelengguku dengan ikatan pernikahan ini, sampai kapan kau akan mengikatku dalam pernikahan ini?"
Prannggg.........
Suara piring yang jatuh saat aku pegang, sungguh sakit sesakit-sakitnya ucapan suamiku, kenapa ia jadi kasar seperti ini, bahkan perkataan pedas pun sekarang terlontar dari bibirnya sendiri.
Dia pergi dengan perasaan yang sulit aku bayangkan, marah, kecewa, benci, itulah yang mungkin ia pikirkan padaku sekarang, seperti orang yang lagi kasmaran, ia lupa jika aku juga seorang wanita yang punya perasaan.
"Tante, Anter Tiara les dong Mama lagi ga bisa anter? Tolongnya padaku untuk mengantarkannya.
"Baiklah....!"
Aku selalu menuruti semua perintah keluarganya, tetap saja masih kurang, dari bersih-bersih rumah, masak hingga ngepel, cuci baju. Ya Allah berapa aku ini seperti, istri rasa pembantu saja.
Next......