Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Talak Untukku
Suka
Favorit
Bagikan
7. Bab 7 suasana baru
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Matahari bersinar terang, riuh suara burung berkicau dipagi hari , kami bersiap untuk kembali, Jingga enggan untuk bersiap, ia masih betah disini. 

"Ayo sayang kita pulang, Tante sudah izin sama Budhe Sonya ga enak, kalau harus libur lagi?" Rayuku pada gadis kecil yang lagi ngambek.

"Jingga betah disini hanya sama Papa juga sama ante, damai rasanya hidup Jingga Tante!" jawabnya sambil mengeluarkan air mata.

"Tante janji akan selalu ada buat Jingga, tapi kita pulang ya, tante harus kerja sayang."

"Hmm baiklah Tante."

Jingga ini dia sebenarnya ingin punya sahabat baru disisinya, kasian sekali anak ini, ia sebenarnya merindukan sosok ibunya kembali dalam pelukannya.

"Ayo sayang, biarkan Tante Lintang bekerja, kasian Tante lintang kalau dia dipecat dari kerjanya kita ga bisa lagi ketemu sama Tante gimana?" Rayu Papanya pada Jingga, hingga ia luluh oleh ucapan sang Papa.

"Iya Pa, Jingga nurut, tapi nanti sering main kerumah Jingga ya Tante!" jawabnya pada papanya.

"InsyaAllah sayang."

Kami memasuki mobil dan melaju membelah jalan Raya pantai dan kembali kerumah, masih didalam mobil bercanda tertawa menghilangkan sejenak penat yang selama ini menyiksa kami, kami adalah orang-orang yang butuh hibiran untuk menyembuhkan luka.

Mobil terparkir dihalaman rumah mini milik mba Sonya, aku turun dengan dibukakan pintu mobil oleh Mas Emil, aroma harum tubuhnya membuatku berdsbar tak menentu, selama hidupku aku baru merasakan debaran didadaku yang begitu aneh.

"Trimakasih banyak Lintang?" tanyanya Mas emil membuyarkan lamunanku.

"Sama-sama Mas aku yang seharusnya bertrimakasih untuk semuanya!" jawabku sambil melihat senyumanya Mas Emil.

"Kami pulang dulu ya?"

"Iya Mas, hati-hati!"

"Tante, Jingga pulang dulu ya."

"Iya sayang."

Hatiku berdetak tak karuan, apa yang terjadi dengan yang ada didalam tubuhku, aduh aku lupa harus siap-siap ke butik. Aku cepat-cepat mempersiapkan untuk kerja, 

"Assalamualaekum mbak Lintang."

"Waalaekum'salam baru pulang El, ayo cepat nanti telat lo!"

"Iya Mbak tunggu ya?"

Elsa baru pulang dari kampungnya semoga semua baik-baik saja, aku bergegas bersama Elsa berjalan menuju butik, semoga saja tidak telat.

"Bagaimana kondisi ibumu dikampung El?" tanyaku pada Elsa.

"Alhamdulillah mbak sudah boleh pulang!" jawab Elsa sambil tersenyum.2

"Syukurlah El."

Kami memasuki butik dan Alhamdulillah butik masih sepi, kami masuk dan menyiapkan apa yang seharusnya dikerjakan, Mbak Sonya mendekatiku dan mengucapkan trimaksih karena telah membantu keponakannya dalam lomba.

Sibuk sekali hari ini, banyak pembeli yang datang mungkin musim nikahan banyak sekali yang memesan baju kebaya, sudah waktunya aku kemusholla saatnya sholat zuhur.

Aku langkahkan kakiku menunggu sholat berjamaah, Selesai shalat berjamaah ada kajian bersama seorang ustad, aku mendengarkan ceramah beliau yaitu tentang, menuntut ilmu sepanjang hayat.

Manusia diciptakan Allah SWT untuk suatu tujuan yang besar dan misi yang penting yaitu beribadah kepada Allah SWT semata.

Pengertian ibadah sangatlah luas dan tidak hanya terbatas pada ritual-ritual khusus semata. Semua aktivitas manusia yang dilakukan dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah dan sejalan dengan Ridha-Nya maka ia termasuk ibadah. 

Oleh karena itu, supaya kita tahu aktivitas yang bernilai ibadah dan memperbanyaknya, maka kita harus mengetahui hukumnya yaitu dengan menuntut ilmu, Kewajiban menuntut ilmu tidak memandang batasan usia, melainkan seumur hidup. Sabda Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wasallam :

أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْْدِ (رواه مسلم)

 Artinya, _“Carilah ilmu itu sejak dari ayunan sampai masuk ke liang lahat”_(HR. Muslim)

Jadi, sesibuk apapun kita, yuuk semangat menuntut ilmu syar'i, sehingga kita bisa memperbanyak aktivitas yang bernilai ibadah dan terjauhkan dari kesia-siaan, setiap perbuatan di dunia yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

Bismillah semoga Aku tetap berada didalam lingkaran orang yang mencari ilmu, atau bisa dibilang tholabul Ilmi selagi masih diberi nafas kita masih bisa mencari ilmu yang bermanfaat, jam istirahatku masih sedikit lagi aku kembali kebutik dan memulai aktivitas sebagai kasir.

Langit berubah warna menjadi gelap aku dan Elsa keluar dari butik dan tatapanku tertuju pada laki-laki yang telah menalakku beberapa bulan yang lalu, ia menatapku tanpa kedip sungguh aku muak melihat lelaki itu.

"Lintang?" Sapanya tanpa aku menghiraukanya dan melangkah pergi.

"Lintang....Lintang Plis sebentar?" tanyanya lagi sambil berlari mengejarku.

"Lintang Maafkan aku, Aku yang salah tolong maafkan aku?" tanyanya seolah ingin jawaban dariku.

"Aku sudah memaafkanmu dan pergilah jangan ganggu hidupku!" jawabku sambil melangkah pergi.

Kenapa dia muncul lagi dalam hidupku, padahal dalam mimpikupun aku enggan bertemu, sepeetinya ada yang mau disampaikannya namun sudahlah mungkin saja ia juga sudah menekahi perempuan bernama Sekar itu.

Kulangkahkan kakiku cepat bersama Elsa, kebetulan diparkir ada Mas Emil dan kami masuk kedalam mobilnya.

"Mas kami nebeng ya plis?" tanyaku pada Mas Emiel.

"Iya baiklah Ayo saya Antar!" jawabnya tak mengerti, mungkin ia berfikir ada sesuatu padaku.

Hanya diam

Aku hanya memegang jemari Elsa, Elsa pun tak berani bicara padaku. Kami bertiga tak berucap satu katapun hingga kami sudah berada di Depan rumah kami.

Kami turun dari dalam mobil, Elsa melangkah duluan dan aku masih berada didepan Mas Emil yang membukakan pintu untukku.

"Trimakasih banyak Mas, buat tumpanganya?" Sapaku padanya dan dia hanya menunduk tanpa melihatku.

"Kamu menghindari lelaki itu!"  jawab Emil singkat seolah ingin mengetahui lelaki itu.

Deg

Apa, mas Emil melihat percakapana kami tadi kok ia tahu tentang lelaki itu.

"Iya Mas, dia mantan Suamiku yang telah menalakku." ucapku membuat dia sedikit kaget.

"Lelaki itu mantanmu?" tanyanya lagi dengan sorot mata yang berbeda.

"Ia dialah orangnya yang menanam luka dalam hatiku Mas!" jawabku apa adanya.

Seolah mengerti tentang luka yang sama dengan dirinya , mas Emil kembali lembut saat bicara padaku, entah apa aku tidak tahu yang jelas wajahnya kembali dalam kehangatan.

"Ini aku bawakan untuk makan Malam, Jingga yang membuatnya bersama mama, maaf ya jika rasanya Aneh." ucapnya sambil menyerhakan bingkisan itu untukku.

"Ya Allah Jingga, Trimakasih Mas buat semuanya, Aku janji akan memakannya."

"Baiklah Mas permisi dulu." ucapnya dan masuk kedalam mobilnya.

"Trimakasih Mas, hati-hati salam buat Jingga." ucapku pada Mas Emil dan hnya anggukan jawabannya ia berlalu pergi.

Aku masuk kedalam rumah dan membawa bingkisan masuk kedalam rumah, setelah aku berbenah diri aku kembali membuka bingkisan itu, ada nasi goreng dihiasi sangat cantik, nasi goreng rasanya sedikit aneh, tapi lumayan juga.

Aku makan bersama Elsa, ia hanya tertawa melihat tingkah Elsa yang nyengir merasakan nasi goreng.

"Mbak Cowok tampan tadi siapa?" tanyanya sambil menyantap nasi goreng.

"Itu mantanku, Suami yang selalu menyakitiku!" jawabku apa adanya.

"Hah, Mantan suami jadi mba Lintang."

"Iya, El dialah mantan suamiku."

"Elsa Fikir mba Lintang belum menikah?"

"Hmm masa iya."

Pov Emiel

Aku melihat gadis manis, polos bedada ditoko mbakku Sonya, wajah cantik dan polosnya membuatku tak. pernah bosan memandangnya, setiap kali aku berada dibutik aku terus memperhatikanya.

Banyak wanita yang mengejarku, bahkan menggodaku, namun lain dengan Gadis itu yang ternyata bernama Lintang, ia selalu diam, tak pernah terpikir olehku ingin setiap kali aku melihatnya.

Jingga pun mulai tertarik dengannya, kelembutannya membuat Jingga luluh olehnya, sikap iklasnya membuat jingga nyaman berada didekatnya.

Ia pun membantu Jingga ikut lomba puisi, perasaan haru membuat Jingga larut dalam dekapan gadis itu, gadis cantik yang disia-siakan Sang suami dengan skandal perselingkuhannya.

Kasian gadis itu harus menanggung beban diusia yang masih sangat muda. Jingga memenangkan Lomba aku melihatnya dari kejauhan, Lintang telah menyembuhkan Luka dihati Jingga.

Aku ditinggalkan istriku saat usia Jingga masih sangat kecil, hidup sosialitanya membuat ia tak pernah mengurus jingga, aku memergoki ia selingkuh dengan sahabat karibku Anton.

Luka itu masih membekas hingga sekarang wanita yang aku cintai bedmain hila dengan sahabatku sendiri, padahal aku sudah menututi semua kemauannya.

"Kau terlalu sibuk Emil aku membencimu?" tanyanya sambil emosi.

"Aku sibuk bekerja untuk anak Kita Viola!" jawabku Frustasi.

"Sudahlah aku nyaman bersama Anton aku pergi." ucapnya dan berlalu pergi hingga hari ini belum kembali.

Wanita itu meninggalkanku sendiri dengan Jingga dan memilih bersama kekasihnya, aku membenci wanita itu, wanita sosialita yang berani dan selingkuh dibelakangku.

Berbeda dengan lintang wanita sederhana yang juga polos penyayang, Jingga pun yang bukan darah dagingnya ia begitu menyayaginya, lalu dimana hati nurani seorang Ibu yang meninggalkan putrinya, ia bahkan tak pernah menemuinya walau hanya sedetik saja.

Next.....

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)