Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Part4
"Lin, Panggilnya jangan Bu, ga enak Mbak saja? Toh semua karyawan juga memanggil saya Mbak?" tanya mbak Sonya padaku.
"Baiklah Mbak Sonya!" jawabku sambil tersenyum.
"Mbak, lihat di Ktp, status kamu sudah menikah ya Lin? Maaf ya kalau mba banyak nanya." ucap Mbak sonya padaku dengan sorot mata penasaran.
Aduh, harus jawab apa aku, haruskah aku bicara yang sesungguhnya, namun ga ada juga manfaatnya berbohong. Pada akhirnya mereka juga akan tahu tentang kisah hidupku.
"Lin?"
"Eh iya Mbak!"
"Ga dijawab?" tanyanya lagi dengan sorot penasaran.
"Iya Mbak, sebenarnya lintang ditalak sama suami Lintang beberapa bulan yang lalu Mbak!"
"Oh maaf ya Lintang, kau jadi sedih kan." ucapnya merasa serba salah.
"Tidak apa-apa mbak, kan semuanya memang kenyataan.
"Sabar ya Lintang, kamu pasti bisa melewatinya."
"Iya Mbak, ucapku sambil mengecek baju yang datang.
Kenyataan bahwa hidupku telah hancur, nyatanya sampai sekarang aku baik-baik saja, dan aku senang bisa memiliki sahabat juga teman yang selalu mendukungku, apakah wanita yang jadi korban tentang bagaimana perasaannya.
Kenapa Mas Fajar tidak menolak soal perjodohan kami, kalau dia tak menyukaiku kenapa ia juga meniduriku, mengapa harus ada luka membekas yang ia tinggalkan untukku.
"Hallo Tante Lintang?" Sapa Jingga membuyarkan lamunanku.
"Iya Jingga, sudah disini saja, tidak sekolah kah hari ini!" jawabku pada gadis cantik Jingga.
"Gimana sih Tante, Lupa, kalau hari ini hari minggu!"
Saking sibuknya bekerja aku bahkan lupa jika hari ini hari minggu, Ayo lintang kamu harus semangatt.
"Ya Allah, Maaf Jingga Tante lupa."
"Hmm, ga asyik ah Tante."
"Hu'um Tante jadi pelupa ya," ucapku disambut gelak tawa pada gadis itu.
Seakan dunia sedang berpihak padaku gadis itu makin hari makin menyukaiku, kami sering bercanda tertawa, kadang ia memberi pertanyaan yang membuatku tertawa, hingga aku melupakan kenagan pahit bersama keluarga Mas Fajar.
Gadis kecil itu kesepian karena ternyata ayahnya seorang duda, Jingga cerita padaku jika dirinya sudah lama tak mengetahui wajah ibunya, maka dari itu ia kesepian dirumah, ia ingin mempunyai teman banyak, makanya ia sering kebutik, ternyata sama sepertiku ingin mencari hiburan.
Kurebahkan diriku diatas ranjang yang ukurannya Mini, gelisah memandang Akun sosial media mas Fajar yang menggandeng mesra kekasihnya Sekar. Ponselku berdering
Terlihat chat masuk dari budhe.
[Lintang ada surat panggilan dari pengadilan untukmu]
Deg
[Baiklah budhe trimakasih]
[Ingat pesan budhe, jangan banyak pikiran fokus, makan jangan telat]
[Iya Budhe Lintang akan berusaha]
Akhirnya, kami akan berpisah. Yang aku sesalkan adalah kenapa ia tak melakukannya dulu, keluarganya memanfaatkanku, aku seorang istrk namun seperti pembantu, malam semakin larut hingga aku tertidur dalam keheningan malam.
Matahari sudah menampakkan sinarnya, aku bergegas bersiap diri untuk kebutik, dan Elsa yang masih dikamarnya keluar dengan mata sembab.
"Ada apa El, kok sedih gitu?" tanyaku penasaran pada Elsa.
"Mbak Lintang, tolong kasih tahu Mbak Sonya ya, aku harus pulang ibu kambuh dan sekarang dirawat dirumah sakit!" jawabnya sambil gemetar memelukku.
"iya nanti aku sampaikan, yang sabar ya semoga Ibumu segera sembuh." ucapku menyemangatinnya.
Sungguh aku pernah berada di titik yang sama seperti Elsa, ditinggal Ibuku saat usiaku masih belia.
"Trimakasih Mbak, Aku berangkat dulu ya?"
"Baiklah, hati-hati!"
Aku mengantar Elsa mencari Bus kota, selesai mengantar aku bergegas
berangkat kerja, kulangkahkan kakiku menuju butik, berjalan di keramaian pagi hari yang sejuk, ramai lalu lalang kendaraan dan orang berjalan memulai aktivitasnya bekerja demi sesuap nasi.
Tak terasa Aku sudah berada dibutik tempatku bekerja, aku masuk dan seperti biasa aku mukai bekerja kumasuki ruangan Mbak Sonya, aaku sudah memintakan izin untuk Elsa pada Mbak Sonya.
Lelaki itu datang lagi, wajah yang tampan Ramah juga begitu menyayangi putrinya. Mas Emiel seorang duda, tak terasa ada debaran yang ada didalam tubuhku.
"Aduh bagaimana ini Mbak, Jingga sehabis sepulang sekolah mengunci kamarnya didalam rumah, Aku takut mbak?" tanya Emiel pada mbak Sonya.
"Lo memang kenapa, Apa Jingga bertengkar sama temannya Mil!" jawab mbak Sonya pada adiknya.
"Tidak tahu mbak, bahkan sampai jam segini ia belum juga makan, Emiel takut mbak." ucap Emiel sambil mengusap rambutnya dengan kasar.
"Begini saja bukannya Jingga dekat sama Lintang, kita minta tolong saja sama lintang siapa tahu berhasil."
Deg
Apa yang mereka bicarakan, tanganku sedikit bergetar mendengar percakapan mereka, tapi, kasihan juga aku mengerti bagaimana derita gadis kecil itu.
"Lintang bisa tolong Emiel, untuk menenagkan Jingga?" tanya Mbak Sonya padaku.
"Kenapa dengan Jingga Mbak!" jawabku yang sudah mengetahui arah pembicaraan mbak Sonya.
"Mbak juga tidak tahu, Tolonglah Lintang plis."
"Hmm baiklah mbak."
Aku berada didalam satu mobil Degan lelaki tampan disebelahku, aku diam, hanya meremas ujung jilbabku dan menatap pemandangan diluar mobil, aku cemas memikirkan keadaan Jingga, apa mungkin Jingga bertengkar sama temannya, tapi kayaknya tidak.
Gadis seusia Jingga sama seperti Tiara anak dari mbak Anggun, biasanya Aku yang selalu menenagkannya saat ada masalah, semoga Jingga ga berbuat macam-macam.
"Lintang?"
"Iya Mas Emiel!"
"Saya minta tolong bujuk Jingga, agar mau makan?" tanya mas Emiel padaku.
"InsyaAllah Mas akan Lintang usahakan membujuknya.
"Hmm Trimksih,"
Mobil terparkir dihalaman rumah yang dua kali lipat besar dari rumah mertuaku dulu, Rumah yang elegan dan mewah, aku sampai takjub melihatnya, subhanallah bagus sekali rumahnya.
Mas Emiel mengajakku masuk kedalam, dan benar saja rumahnya sangat bagus dan indah, ya Allah baru aku lihat rumah sebagus ini, kemana kamarnya Jingga rumah yang banyak sekali kamar.
"Nak, bagaimana Jingga juga belum mau keluar?" Tanya wanita paruh baya itu pada Anaknya.
"Ma, kenalin ini Lintang, Siapa tahu bisa menenagkan Jingga!" jawab Emiel pada Mamanya.
"Nak Lintang, Tolonglah Jingga Mama takut terjadi apa-apa sama Jingga?" ucap wanita paruh baya itu padaku dwngan wajah memelasnya.
"Baik Bu, InsyaAllah.
Beliau mengajak aku kekamarnya, kamar yang begitu besar dari luar, tak berkedip aku melihat desain dari rumah mewah ini.
Asalamu'alaekum... Jingga Ayo buka pintunya sayang ini Tante Lintang,, Tok--tok sayang Jingga, Ada tante disini sayang.
Dan selang beberapa menit pintu dibuka, jika langsung memelukku.
"Tante jingga, ini benar tante datang kerumahku?" sapanya senang sambil memelukku.
"Iya sayang ini Tante, Ada apa sayang jangan sedih dong!" jawabku pada gadis yang ada dalam pelukanku.
Diam
"Sayang, Ayolah bukankah kita teman, teman harus saling bantu kan?" godaku padanya dan Jingga sedikit tersenyum.
"Tante, Jingga bingung?" tanyanya Ragu padaku.
"Bingung kenapa coba bilang sama Tante sayang, siapa tahu Tante bisa bantu!" jawabku meyakinkannya.
"Benar Tante akan membantu?"
Jingga sedikit terbuka, kasihan sekali gadis kecil ini, ia butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
"Tante, sebenarnya besuk ada lomba sisekolah Jingga?"
"Hhmm terus!"
"Ada lomba Ibu dan Anak." ucapnya sambil menunduk.
"Jingga menganggap tante apa? Teman kan, sesama teman kan harus saling membantu?"
"Jadi Tante Lintang mau membantuku!"
"iya sayang.
Jingga langsung memelukku, aku melihat Mas Emiel diluar kamar dang mengangkat jempol nya, sungguh ia memerlukan kasih sayang seorang Ibu.
"Bener Tante mau membantu Jingga buat lomba?"
"Boleh tapi ada syaratnya, Kita masak lalu makan bersama gimana jingga mau!" jawabku pada Jingga.
Jingga minta dibikinin, Soto Ayam. Tak perlu waktu lama aku dibantu Jingga memasak, Jingga membantu mengiris bawang prei dan tomat, selang beberapa menit soto sudah siap dimeja makan.
"Trimakasih ya Tante sudah mau memasak untuk kami, Enak sekali Tante?"
"Sama-sama sayang ayo dihabiskan!"
Sang nenek juga Ayahnya Emiel tersenyum, melihat Jingga kembali ceria, sesekali pandangan Mas Emiel menatapku, Aku izin pulang karena hari sudah larut malam, namun Jingga meminta izin agar aku menginap untuk malam ini.
Apa yang harus aku lakukan, sementara Mamanya Mas Emiel pun memintaku untuk tinggal, Akhirnya aku menuruti permintaan Jingga menginap dirumah mewah ini.
Jingga sudah tertidur aku menyelimutinya, aku keluar kamar dan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Trimkasih Lintang sudah membantu Jingga?" tanya seseorang yang ada dibelakangku.
"Sama-sama Mas!" jawabku yang ternyata dia adalah Mas Emiel.
"Kata Mbak Sonya kamu pisah ya sama suamimu?" tanyanya seolah ingin mengetahui jawabanku.
"Lebih tepatnya ditalak Mas Emiel, bahkan aku belum tahu putusan pengadilannya bagaimana!" jawabku membuatnya kaget.
Ia seolah enggan bertanya lagi, kulihat dari sorot matanya ada segudang pertanyaan yang ingin ia utarakan, namun ia utungkan mumhkin Dia tahu jika tidak ingin melihatku terluka lebih dalam jika.menginhgat masa laluku.
"Bagaimana besuk,apakah aku boleh Mas, izin sama Mbak Sonya libur?"
"Iya biar aku yang bilang, kamu tinggal, Fokus temani Jingga.
"Baiklah Mas, permisi," Ucapku berlalu pergi meninggalkannya dengan segudang pertanyaan yang ingin Mas Emiel tahu tentang kisahku.
Next.......