Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Suara adzan bergema Aku segera bangun dan tubuhku begitu berat, ternyata tangan Jingga yang melingkar diatas dadaku, Aku pelan-pelan membuang tangannya dan beringsut menuju kamar mandi.
Segera Aku mengambil air wudhu dan langsung menunaikan kewajibanku, selesai itu Aku membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan untuk keluarga disini, setelah beberapa menit sarapan siap diatas meja nasi goreng telur, ayam dan sosis.
Aku bergegas membantu Jingga untuk menyiapkan pakaian, serta membantu Jingga memakai baju seragam sekolah, rambut panjang Jingga yang lembut, aku dikepang menjadi cantik, Jingga sangat suka lalu mencium pipiku.
Kita sarapan bersama dimeja makan, lagi-lagi Jingga dan Mamanya Emiel, memuji masakannu yang katanya lezat,tidak tahu dengan Emiel ia menghabiskan makanan yang dipiring tanpa sepetah kata, selesai sarapan mama Emil memberikanku sebuah bungkusan, beliau menyuruhku untuk memakai baju pemberiannya.
Aku memasuki kamar Jingga, dan menggambil baju baru yang dibelikan Mamanya Emiel, Aku mengambil baju yang simpel dengan jilbab senada dengan polesan kecil diwajahku, dan memakai lipglos membuat tampilanku mungkin menjadi enerjik dan menarik.
"Tante lintang, MasyaAllah cantik sekali." sapa Jingga yang takjub melihatku.
"Trimakasih sayang! Jawabku sambil menahan rasa malu.
Terlihat Emiel masih sibuk menerima telepon dari rekan kerjanya, ia membalikkan badan dan melihatku terdiam begitu lama, Entah pikiran apa yang ada dibenak mas Emiel,
Aku menggandeng Jingga menuju mobil, ku memasukkan tangan kedalam kantong Rokku, Aku begitu khawatir, dan gugup.
Disepanjng perjalanan aku bercanda, tertawa bersama Jingga, Jingga terlihat sangat semangat sekali, terlihat Emiel tersenyum melihat kami, dari spion kaca mobil, keakrabanku dan anaknya mungkin saja membuat Emiel bahagia, mobil sudah berada di gerbang sekolah.
Aku masuk menggandeng Jingga, lomba pasangan ibu dan anak sudah berkumpul dilapangan, mereka sudah siap-siap mengikuti lomba, tangan Jingga dingin, mungkin ia gugup karena perlombaan ini, ternyata lombanya tentang puisi ibu dan anak. Dan banyak lagi lomba yang lainnya.
Naskahnya pun langsung diberi waktu Lima belas menit untuk membuatnya, aduh bisa ga ya? Takut membuat Jingga kecewa, Bismilahirohmanirohim semoga bisa.
"Jingga, ini puisi soal ibu dan anak jadi kita buat antara mama atau..?" tanyaku langsung dipotong sama Jingga.
"Iya tentang Tante dan Jingga!" jawabnya tegas, Jingga sambil menggenggam tanganku erat.
"Baiklah, Tapi yakin nanti memanggil Tante dipuisi.!"
"Yakin Tante."
Kami menunggu juri memanggil, Jingga terlihat gugup saat satu persatu temannya telah dipanggil, dan Jingga masih dengan tangan dinginnya. Tibalah giliran kami maju keatas panggung.
Sahabat kecilku Jingga
Mungkin Aku bukanlah
Orang yang mengandung
Dan melahirkanmu
Namun Aku sagatlah menyayangimu
tak harus Dengan melahirkanmu
Untuk menyayangi juga mencintai
Wahai sahabatku Jingga
Jiwaku menyayaimu
semampuku aku akan menjagamu
Dan berada disisimu selamanya
Ibuku
Aku merindukanmu
Namun tak pernah
Sekalipun aku melihat wajahmu
Aku ingin ada dipelukanmu
Namun hanya ada dalam mimpiku
Engkau meninggalkanku
Begitu lama sangat lama
Sahabatku tante Lintang
Mungkin engkau bukanlah
Orang yang telah melahirkanku
Namun sayangmu kepadaku
Tidak ada ujungnya
Engkau menyayagiku melebihi
Orang yang melahirkanku
I love you sahabatku
Engkau menggantikan sosok
Yang selama ini Jingga Rindukan
Jingga memelukku dengan erat, aku mengerti suasana hatinya karena itu terjadi pada diriku sendiri, suara Riuh tepuk tangan menggema di sudut ruangan sekolah, menyadarkan kami.
Aku melihat sekilas Mas Emiel berada disini, namun mungkin saja hanya halusinasiku saja, bukanya tadi Dia naik mobilnya dan menjauh, tanpa perlu terluka aku hanya menginginkan gadis kecil ini tersenyum.
"Tante, trimakasih ya?" sapa Jingga sambil memeluk tubuhku aku yakin ia sedang menangis.
"Sayang, Tante akan selalu ada untukmu!" jawabku sambil mengelap pipinya yang basah.
"Hari ini Jingga bahagia Tante?"
"Tante juga bahagia punya teman sepinter Jingga!"
"Kalau kalah gimana tan?"
"Setiap lomba pasti ada yang menang dan kalah sayang, tapi kita kan sudah berusaha, jadi yang penting kita bahagia oke!" lirihku menyemangatinya.
Susah senang pasti akan ku lalui. Setelah itu semua pasti akan baik baik saja, Begitulah cara sederhanaku mencintai kehidupan, yang sudah dihadirkan oleh sang pencipta.
Saatnya menunggu yang paling mendebarkan, dimana pemenang lomba akan diumumkan, kulihat wajah Jingga yang tadi masih sama gelisah, namun sekarang berubah ceria, aku memberitahunya bahwa meskipun nanti kalah namun Jingga tetap jadi pemenang dihatiku juga Ayah Emiel.
"Baiklah acara pengumuman hari ini akan diumumkan dan pemenang, juara tiga adalah
Ferlita bersama Mama shella, silahkan maju kedepan, dan juara ke tiga adalah Dafa dan mama Tari, silahkan maju keatas panggung."
jingga sedikit kecewa, namanya pun belum juga dipanggil, aku menggenggam tangannya, menyemangatinya, kasiahan sekali Jingga ini ia sama sepertiku nasibnya.
"Dan juara satu dimenagkan olehhhh...Jingga dan Tante Lintang, Silahkan juara satu dimohon maju kedepan." ucap lantang salah satu tim juri memanggil nama kami.
Aku dan Jingga berpelukan, sungguh entah mengapa aku begitu menyayaginya, kami maju kedepan dan pilala pun sudah ada di tangan Jingga, ia begitu bahagia. Kami turun dan duduk dibangku sambil menikmati suguhan tari-tarian dari pada murid.
"Tante Jingga ga tau harus ngomong apa, yang jelas trimakasih buat semuanya?" Lirih Jingga sambil menggenggam erat tanganku.
"sama-sama sayang ayo kita pulang!" jawabku sambil melangkah pergi ke tempat parkir sekolah.
Dan ternyata benar, ada Mas Emiel diparkiran jadi yang tadi itu bener aku ga halusinasi, Mas Erik memeluk erat tubuh putri semata wayang nya, wajah bahagia terpancar didalam benak mereka berdua.
Hatiku berdetak tak karuan, aku merasakan bahagia atau entahlah, melihat mereka bahagia aku merasa jiwakupun menjadi dingin, seperti itulah ungkapan hatiku yang tak bisa aku ungkapkan.
"Tante ayo masuk?" ajak Jingga menarik tanganku yang lagi memeriksa ponselku.
"Iya sayang!" Aku masuk mobil sambil memasukkan ponsel kedalam tas kecilku.
Bahagia mungkin saja sangatlah sederhana yaitu menyenangkan hati orang lain, itulah diriku selalu senang jika meliahat orang lain bahagia, namun entah bagimana takdirku sendiri lukaku begitu dalam.
Jingga lelah ia tertidur dalam pangkuanku, Emil menatapku dari kaca spion mobilnya. Aku hanya bisa diam menatap Jalanan, hidup ini tak ubahnya seperti roda, berputar dan berhenti di tempat yang sama, seperti halnya diriku yang tak tahu harus berhenti dimana.
"Lintang, Trimakasih banyak ya sudah membantu Jingga?" tanyanya membuat aku kaget.
"Iya Mas, sama-sama Mas!" Jawabku sambil menatap matanya yang tajam.
"Sebagai hadiah kita jalan-jalan ya kevilla?" ucapnya membuatku tak mengerti.
Ke villa, ya Allah Mas Emiel berlebihan, aku hanya sedikit membantu putrinya dan Dia membelikanku banyak hadiah, Bahkan baju yang aku pakai ini harganya mungkin gajianku satu bulan.
"Mas, sudahlah jangan berlebihan, lintang tidak enak, Lintang iklas Mas membantu Jingga!" jawabku gugup disertai debaran yang entah selama ini baru aku rasakan.
"Tidak Lintang kamu berhak mendapatkannya, percalah Jingga juga pasti akan senang.
"Hhmm baiklah, terserah Mas saja," jawabku sambil memeriksa ponsel milikku.
Sudah hampir 6 bulan aku meninggalkan Rumah Fajar dan sudah 4 bulan surat gugatan itu entah bagaimana akhirnya aku belum mengetahuinya, karena tak sekalipun aku mendatangi pengadilan agama.
Perlakuan mereka benar-benar memperlakukanku seperti pembantu, rasa sakit yang aku alami, ditambah Mas Fajar yang tak menganggapku ada, Masih dalam ingatanku, ketika budhe bercerita padaku tentang kambuh ya Bapak.
Kilas balik
"Lin, kata terakhir Bapakmu katanya ia melihat suamimu bersama wanita lain didalam mobil, saat bapakmu kekota mengurus hasil panenannya." cerita budhe padaku sehari setelah Bapakku meninggal.
"Benarkah budhe, jadi bapak sudah mengetahuinya!" jawabku penuh amarah.
"iya lintang."
"Bener-bener Mas Fajar"!
Kilas balik off
"Lintang...ayo sudah sampai turun?" tanya Mas Emiel membuyarkan lamunanku.
"Iya Mas!"
"Biarkan aku yang menggendong Jingga." ucapnya sambil menggendong putri kesayangannya.
Kami masuk dan Subhanallah, indah banget, ini benar- benar luar biasa sebuah Vila diatas dan ketika melihat kebawah ada pantai yang begitu indahnya, ini aku serasa mimpi berada ditempat yang begitu menakjubkan.
Next.....