Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku menghela nafas panjangku, sambil mengambil ponsel diatas nakas didalam kamar tempat tidurku, aku keluar membawa uang lima Ratus ribu, kuberikan kepada teman dekatku.
"El, ini uangnya buat ibumu?" aku sambil memberikan uang itu pada Elsa.
"Trimakasih Mbak Lintang, insyaAllah gajian aku bayar!" jawabnya padaku dengan nada sendu.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, itu uang buat Ibu kamu aku iklas tidak usah diganti."
"Mbak Lintang kenapa begitu, Elsa jadi ga enak."
"Uang itu buat ibu kamu El bukan buat kamu, tapi nanti kalau pinjam lagi harus ganti ya?"
"Ya Allah trimakasih kau telah memberikanku sahabat yang baik hati." ucapnya sambil menagis dan memelukku begitu erat.
Kami dihalaman belakang dekat bunga ukuran mini, namun sangat nyaman buat mengobrol dan menikmati suasana malam hari, terlihat bintang bertaburan diatas langit, kami mengobrol hingga malam sudah semakin larut.
Kuraih ponsel diatas Nakas dan ada beberapa panggilan tak terjawab untukku dari Mas Emil, ada apa ya kok tumen banyak sekali panggilan, kulihat pangilanya 2 jam yang lalu, ya Allah aku lupa jika aku bercanda sama Elsa jadi lupa tidak bawa ponsel.
Apa coba aku chat saja ya, mudah-mudahan Mas Emil belum tidur, semoga saja belum tertidur namun ini sudah malam, aoa besuk saja aku chat, tapi aku penasaran jangan-jangan terjadi apa-apa sama Jingga.
[Mas Emil, Maaf tadi lagi duduk dibelakng Rumah sama Elsa]
Read
Read Doang ga dibalas hmmm
Sedang mengetik........
Aku tersenyum bahagia menunggu balasanya
[Tadi Jingga ingin Vidio call]
[Oh, iya Mas Maaf]
Kok aku jadi sedih ya, hanya Jingga yang merindukanku.
[selamat istirahat, sudah malam tidurlah]
[Mas juga, selamat istirahat]
Kukembalikan ponsel diatas nakas, hatiku merasa Bahagia atau tidak entahlah, Aku rebahkan tubuhku diatas Ranjang, kupandangi langit-langit kamar yang bercat putih, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi besuk, aku tak tahu babagimana nasibku kedepannya.
Langit berubah warna menjadi terang pertanda pagi sudah tiba, Aku merasakan perasaan yang entahlah hari ini aku agak demam, perasaan tidak enak dan semua perasaan tak enak menjadi satu.
Tak enak sama Mbak Sonya jika harus libur kerja lagi, kemarin sudah libur dua hari, kusibakkan selimut dan beringsut kekamar mandi, menjalani aktivitas pagi hari seperti biasanya, Aku dan Elsa berangkat kerja, namun aku meminta Elsa untuk menaiki taksi.
"Mbak Lintang kenapa, kok berbeda mukanya?" tanya Elsa padaku sambil menempelkan tangannya dikeningku.
"Tidak tahu Elsa, kayaknya Mbak lagi ga enak badan !" jawabku membuat Elsa kaget.
"Kalau ga enak badan kenapa masuk mbak, harusnya istirahat dirumah saja." ucap Elsa terlihat khawatir.
"ga enak El, mbak juga libur saat kamu pulang kampung."
"Iya, tapi ini Mbak demam lo?" tanyanya Elsa yang begitu khawatir.
"Sudah gapapa El biar mbak kerja saja!" jawabku pada Elsa membuat Elsa tak mengerti.
Kami sampai dibutik, dan bekerja seperti biasanya, Mbak Sonya memintaku untuk mengecek barang yang datang, keringat dingin keluar dari tubuhku, aku harus kuat.
Semoga saja bisa kuat sampai sore nanti.
Elsa datang membawa sepotong Roti, air mineral dan obat untukku, aku turuti permintaanya untuk meminum obat,aku berharap setelah minum obat ini badanku bisa sedikit sehat. Benar saja badanku sedikit bugar.
Kulangkahkan kakiku menuju Musholla, aku mengambil air wudhu dan menjalankan kewajibanku, Aku masih bersandar dimusholla tak terasa aku tertidur, tak terasa waktu sudah menunjukkan saatnya masuk, aku bergegas menuju butik.
"Lintang, kalau sakit kenapa masuk, harusnya istirahat dirumah?" tanya Mbak Sonya padaku cemas.
"Tidak apa-apa Mbak, maaf mbak Sonya Lintang ketiduran dimusholla!" jawabku mengalihkan pembicaraan.
"Sudah sana pulang istirahat?"
"Tapi Mbak Sonya!"
"Sudah jangan ngeyel."
Pas ketepatan Mas Emil datang dan mbak Sonya memintanya untuk mengantarkanku.
Badanku semakin lemas, akupun tertidur dijok mobil depan milik Mas Emiel, tak terasa aku terbangun dan aku sudah berada di poliklinik, dan Mas Emiel menungguiku sambil tertidur.
Ya Allah laki-laki ini, begitu baik juga perhatian, Aku ingin memegang rambutnya, namun aku tak berani menyentuhnya, Aku memperhatikan wajahnya, dewasa hidung mancung tampan sekali kenapa juga ia harus mengalami luka yang sama denganku.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku, aku susah merasa lebih baik lagi, hatiku merasa sudah sedikit tenang, semoga saja cuma kelelahan bukan penyakit yang serius, Mas Emil terbangun dan tersenyum padaku.
"Mas Emil, trimakasih sudah menjagaku?" sapaku pada Mas Emiel yang masih tetap duduk diposisinya.
"Sama-sama, tadi kamu deman tinggi makanya aku bawa kesini!" jawabnya sambil memegang keningku yang sudah tak demam lagi.
Dokter dan Suster masuk dan mencopot infusnya, dan membolehkan Aku untuk pulang, dokter bilang hanya kecapean dan jangan tidur terlalu malam, itu memang sering kulakukan tak bisa tidur jika malam tiba.
"Boleh pulang, dan ingat jaga kondisi tubuhnya ya, jangan tidur larut malam." pesan dokter untukku
"Baiklah dokter, trimakasih." ucapku pada sang Dokter.
Kami bergegas pulang kerumah, sementara ada wajah terlihat lega, ketika aku baik-baik saja, Mas Emil kebaikanmu membuatku jadi salah tingkah, wajah itu yang membuat hatiku selalu nyaman ketika melihatnya.
Trimakasih setidaknya ada yang peduli denganku, mobil melaju dengan kecepatan sedang, mobil terparkir dihalaman rumah yang aku tempati, Mas Emil menuntunku memasuki kamar, wajah teduh itu kembali aku lihat sedekat ini.
Dadaku kembali berdetak tak karuan, wajahnya begitu dekat denganku, aku hanya bisa diam, tak dapat aku sembunyikan perasaanku yang tak menentu.
"Trimakasih buat semuanya Mas, Lintang ga tahu kalau tidak ada Mas Emil?" Sapaku membuatnya terdiam dan duduk disampingku.
"Sudahlah yang terpenting kamu sehat, ingat jangan tidur larut malam!" jawabnya sambil menarik selimut dan menutupi tubuhku.
"Baiklah Mas."
"Mas pulang dulu kalau ada apa-apa telepon Mas saja!"
"Iya Mas Trimakasih."
Ia lalu pergi hingga tubuhnya tak terlihat lagi dibalik pintu kamar, Elsa masuk kedalam dan memelukku, ia begitu khawatir, ia juga mengatakan jika Mas Fajar mencariku, gara-hara Mas Fajar aku jadi drop karena susah tidur.
Dugaanku benar, fajar masih ingin mendapatkanku lagi dan ia pasti punya rencana, kemana perginya sekar? pasti Sekar meninggalkannya, hingga dia berusaha mengejarku lagi.
Entahlah, Aku terdiam banyak masalah yang belum terselesaikan, namun aku tak pernah berhenti beesyukur keluar dari rumah Ibu mertua yang begitu menyiksa,
Lintang tolong setrikain bajuku..
Lintang tolong masak untukku...
Lintang tolong pel lantainya licin..
Lintang dan lintang....
Sekuat apapun mereka memperlakukanku, namun ada Allah yang Maha tahu hingga dengan sendirinya aku keluar dari rumah itu, rumah yang selalu membuatku tak berhenti bekerja pagi hingga sore, belum lagi perlakuan kasar Mas Fajar.
Matahari sudah menamoakkan sinarnya, badanku sudah ringan dan aku sudah kembali sehat, kulangkahkan kakiku menuju butik bersama Elsa, kami masuk dan ada suara yang memanggilku dari belakang.
"Lintang, kembalilah kerumah kami?" Sapa suara perempuan yang berada dibelakangku.
"Oh Mbak Wulan, untuk apa Mbak bukankah adikmu sudah menalakku apa mbak wulan lupa!" jawabku sambil meremas ujung jilbabku.
"Fajar sudah putus dengan Sekar, lintang."
"Terus, bukannya Mas Fajar sudah bukan lagi suamiku."
"Kami semua merindukanmu Lintang, kembalilah?" tanyanya lagi padaku tanpa ada rasa bersalah.
"Kembali untuk apa, untuk bisa mbak Wulan suruh-suruh, dan memanfaatkan aku dirumah itu!" jawabku sekenanya aku sengaja membuatnya marah.
"Lintang sudah berani kamu sama Mbak." ucapnya dengan nada tinggi.
"Saya bicara yang sebenarnya Mbak dan jangan ganggu hidupku lagi permisi saya mau bekerja." ucapku sambil meninggalkannya.
Tak mengerti dengan jalan pikirannya, mereka, hanya ingin manfaatin aku saja, aku harus berani menghadapi keluarga Mas Fajar, toh aku bukan siapa-siapanya lagi. Hidupku harus bangkit, tak harus terpuruk lagi seperti yang telah berlalu.
Allah tidak menyegerakan sesuatu, kecuali itu yang terbaik untukku. Allah tidak melambat-lambatkan sesuatu, kecuali itu memang yang terbaik untukku. Allah tidak menghadirkan ujian dan musibah, kecuali itu untuk kebaikanku sendiri.
Aku tidak akan lagi bersedih yang berlarut-larut, karena Allah itu Maha Baik. karena Allah itu tau yang terbaik untukku,
Semoga Aku senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun itu, maka itulah yang terbaik untukku, maju dan mengahadapainya.
Bersambung.....