Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lintang bukanlah wanita biasa ia sangatlah istiwewa, aku begitu mengaguminya, ya Allah mungkinkah Ia bisa menjadi ibu dari anakku Jingga, menggantikan posisi viona dalam hati Jingga.
Aku melihat senyumnya, dan itu senyuman yang tulus untuk putriku, betapa aku terpesona saat melihat mengganti pakaian yang aku berikan, lintang sangatlah anggun dan cantik, wanita yang sangat polos.
Apakah lukanya Lintang bisa aku sembuhkan sedikit demi sedikit, saat bermain melempar bola dipantai Lintang hampir saja jatuh dan aku menarik tangannya hingga wajah kami hampir bersentuhan.
Dadaku bergemuruh detak jantungku berdetak tidak seperti biasanya, saat melihta iris bola mata indahnya, suara Jingga menyadarkanku, dengan cepat aku kembali menarik tangannya agar ia tak terjatuh.
"Trimkasih mas Emil untung Lintang tidak jatuh?" tanyanya sambil meremas ujung jilbabnya, ia begitu gugup.
"Iya sama-sama, hati-hati Lintang!" jawabku mungkin saja wajahku begitu memerah saat berdekatan dengannya.
"Iya Mas Maaf, Lintang ceroboh." Ucapnya sambil berlari kembali bersama Jingga kepantai.
Aku hanya terdiam melihat kebahagiaan mereka, Jingga memanggilku akhirnya aku mengikuti mereka berlari-lari, hingga kami lelah dan kembali ke villa aku menatap wajah sendu Lintang.
Dengan telaten ia menyuapi Jingga, bercerita hingga ia terlelap tidur dalam pangkuan wanita baik hati itu, wajah cantik tanpa polesan, terlihat cantik begitu alami.
Dalam hidupku selalu saja ada yang tidak setuju dengan pilihanku, pendapatku, atau sudut pandangku,karena mencintai viola adalah kesalahanku, dari awal aku sudah tahu sifatnya namun aku tetap saja menikahinnya.
Hidupnya yang gelamor membuat ia lebih suka diluar rumah dari pada didalam rumah, Saat ia pergi dari rumahku duniaku serasa hancur, namun kata mbak sonya Jingga membutuhkanku, akhirnya aku bangkit dan kembali menata hidupku yang terjatuh karena cinta.
Kini hidupku kembali berwarna saat bertemu lagi dengan Lintang gadis yang begitu sederhana, aku akan mengikuti kata hatiku, jangan sampai kehilangan apa yang harus kita lakukan.
Aku bersama Jingga membuat nasi special buat Lintang, kami memasak bersama
Meskipun rasanya tak karu-karuan namun Jingga kekeh mau memberikannya buat tante Lintang.
"Pa, sudah enak belum?" tanya Jingga padaku.
"Ko rasanya aneh ya Jingga!" jawabku sambil mencicipi nasi goreng.
"Enggak ko enak Pa, tinggal ditambah garam dan telur pasti enak." ucapnya sambil memberi garam dan telur lagi.
"Ya sudahlah, terserah Jingga." ucapku tanpa menyakiti hati Jingga.
Bagaimana jika Lintang sakit perut makan nasi gorengnya, aduh Jingga ada-ada saja sih, tapi dia semangat banget menghias masakannya didalam tempat nasi, ya mudah-mudahan Lintang Suka.
"Pa, sudah jadi Papa yang antar ya, soalnya Jingga ada tugas sekolah?" tanyanya semangat sambil menyerahkan kotak bingkisan padaku.
"baiklah, Papa yang antar!" jawabku pada Jingga sambil mencium pipiku dan berlalu kekamarnya.
Aku melaju membelah jalan Raya menuju butik, sampai diparkir aku turun dan aku naik keatas tak sengaja melihat Lintang dikejar sama lelaki tampan agak muda, hatiku serasa sesak, aku langsung kembali ke mobil dan saat Aku mau melangkah pergi ada ketukan dari luar.
Mereka masuk dan ikut pulang bersamaku, tak seperti biasanya Lintang bersikap aneh, ada apa sebenarnya siapa lelaki itu, apakah dia pacar Lintang sudahlah malas aku mengingatnya.
Mobil terus berjalan, hanya diam dan tak berselang lama mobil sudah terparkir didepan rumah, mereka turun dan sahabatnya sudah pergi namun Lintangasih berdiri didekatku saat aku.membukakan pintu untuknya.
Ternyata sama ia adalah lelaki yang melukai Lintang, aku merasa lega ada sedikit harapan aku kira ia adalah kekasihnya, kulajukan mobilku dengan perasaan yang luar biasa tenang.
Pov Lintang.
Kurebahkan Tubuhku diatas ranjang, bayangan lelaki itu terus menghantuiku, ada apa lagi ia kembali bukankah ia telah membuangku. Lelaki itu selalu ada akal untuk membujukku lalu meninggalkanku lagi tak ubahnya aku ini seperti sampah.
Malam mulai larut dalam kesunyian, aku berusaha untuk memejamkan mata namun tak juga aku tertidur, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 01:00 , aku kembali memeluk guling sambil mengucapkan takbir, hingga aku tak tahu aku sudah berada dalam alam mimpi.
Suara riuh burung beenyanyi aku terperanjat dan beringsut memgambil air wudhu, aku menjalankan kewajibanku, kupasrahkan hidupku hanya kepada Sang pencipta, aku bersiap untuk berangakat kebutik, aku nitip nasi sama Elsa dua porsi satu buat sarapan satunya lagi buat makan siang.
"Mbak Ayo sarapan, ini sudah siap?" Sapanya Elsa dan aku berjalan menghampirinya.
"Sepertinya Enak El!" jawabku sambil memakan sarapan pagi bersama Elsa.
Selesai kami kembali berjalan menuju butik, lalu lalang kendaraan membuatku semangat melangkah sebenarnya ada angkot namun kata Elsa enakan jalan kaki sambil melihat pemandangan gedung bertingkat.
Aku memasuki Maal dan sudah berdiri didepan lelaki itu lagi, apa maunya kenapa dia selalu ada dalam hidupku.
"Lintang bisa kita bicara sebentar plis Aku mohon?" tanyanya padaku.membuat aku semakin membencinya.
"Silahkan 5 menit dari sekarang!" jawabku singkat.
"Lintang Maafkan aku?"
"Aku sudah memaafkanmu!"
"Bisakah kita seperti dulu lagi." ucapnya tanpa beban dosa.
"Lalu bagaimana dengan kekasihmu sekar?"
"Aku sudah meninggalkannya.
Enak sekali dia bicara, tanpa ada rasa bersalah, tanpa beban, terbuat dari apa sih hatinya, belum puas menyakitiku beberapa bulan lalu.
"Kau sudah menjatuhkan Talak itu apa kau lupa?"
"Maaf Lintang, aku mohon."
"Jangan ganggu hidupku lagi, pergilah waktu lima menitmu sudah berakhir." ucapku dan melangkah pergi.
Keterlaluan sekali lelaki itu, Aku benar-benar Muak, sekian lama ia menyakitiku dengan mudahnya meminta maaf, tidak mungkin ia meninggalkan Sekar begitu saja, pasti ada sesuatu, aku sudah tak mau lagi berhubungan dengan keluarganya.
Aku tak bisa tenang, bagaimana nasibku jika ia terus saja mengganggu hidupku, bukankah dia dulu bilang ingin segera menikahi Sekar.
Beginilah hidup semua adalah rahasianya kita sebagai manusia hanya bisa berencana selebihnya hanya Allahlah yang menentukan.
[Assalamu'alaekum tante ada apa]
[Waalaekum'salam Lintang bagaimana kabarmu Nak]
[Alhamdulillah, Lintang sehat budhe]
[ini ada Surat dari pengadilan nak, putusan dari peeceeaian kalian ]
[Coba buka dan Vidio budhe biar Lintang tahu isinya]
[Baiklah Nak]
Selang beberapa menit, ia lalu mengirimkan vidio, sebuah lampiran yang mengatakan bahwa aku seorang janda, jadi proses perceraian itu sudah dilakukan, lalu apa maksudnya Fajar menggangguku lagi.
Apakah karena ingin mendapat kepercayaan dari Ibunya, ya mungkin saja mana betah Mas Fajar hidup tanpanuang pemberian Ibunya, sudahlah tak ada gunannya memikirkan hal itu lagi.
"Mbak Lintang, Ayo kita makan siang dulu?" sapanya membuyarkan lamunanku.
"Baiklah, Ayo!" jawabku sambil membawa bekal ke dalam ruangan makan.
Kami makan bergantian dan aku bersama Elsa makan dengan lauk yang sama, Elsa terlihat murung ada apa lagi dengannya, tidak seperti biasanya ia begitu, biasanya juga ceria.
"Kenapa murung begitu mukaknya, jadi jelek ah?" tanyaku padanya sambil memakan nasi.
"Adikku minta kiriman Uang mbak, padalah uangku hampir habis!" jawabnya dengan nada lemas.
"Sudah jangan sedih berapa butuhnya?"
"Rp 500 ribu mbak buat kontrol ibu dirumah sakit!"
"Nanti samapai Rumah aku pinjami."
"Beneran Mbak Lintang?"
"Iya sudah Ayo makan lagi!"
Ia langsung memelukku, entahlah namun aku kasian padanya setiap gajian harus dikirim pulang, kasian sekali nasibnya Elsa, mudah-mudahan ia mendapatkan lelaki yang bisa mengerti tentang keadakannya.
Ayahku memberikan tabungan yang sangat banyak, apa salahnya menolong ibunya Elsa.
Apa yang ada di dalam tabunganku, semua hanyalah pinjaman, Dengan ijin dan kasih sayang Allah
Jangan angkuh dan memandang tinggi kelangit Lintang, jika langkah kaki kita tetap berpijak di bumi, Saat kita bangga dengan sanjungan dan pujian kanan dan kiri, kita lupa ada tangan yang dahulunya membantu.
Saat ini hingga saat sebelum nyawa diambil, semoga amalan yang tidak seberapa, tidak akan terhenti dan akan terus bertambah waktu demi waktu..Itulah pesan terakhir beliau dalam chat di ponsel terakhir Bapakku untukku.
Next.....