Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
CHAPTER 10: HIDUP
INT. KEPALA ARGA — TIDAK ADA WAKTU (VISUAL ABSTRAK)
Ruang hitam tanpa batas. Koridor tak berujung, dipenuhi pintu-pintu yang terbuka dan tertutup sendiri. Dari setiap pintu, gelombang suara berwujud cahaya biru dan ungu mengalir keluar, berpusar seperti badai. Bisikan. Jeritan. Doa. Kebohongan. Kota yang tak pernah tidur.
Arga berdiri di tengahnya, kecil, di antara pusaran itu. Di hadapannya, sebuah bayangan besar terbentuk dari ratusan wajah yang menyatu.
SUARA GELAP
Kau tak akan sanggup. Tak ada yang sanggup. Sejak di kereta itu kami memanggilmu untuk mendengar. Cukup mendengar. Jangan pernah bicara. Diamlah, dan kami akan diam juga.
ARGA
(pelan, mengerti)
Kalian cuma mau aku jadi telinga. Tanpa mulut.
Arga menarik napas, dan alih-alih menghitung, ia bicara. Suaranya bergetar. Untuk pertama kalinya ia bicara keras-keras tentang isi hatinya.
ARGA
Aku takut.
Satu gelombang di sekelilingnya meredup.
ARGA
Aku lelah. Aku lelah pura-pura baik-baik saja.
Gelombang kedua mereda. Bayangan besar itu bergetar.
ARGA
Aku kesepian. Bertahun-tahun. Dan aku memakai Kirana untuk lari dari itu.
Badai mengecil. Pintu-pintu di koridor menutup satu per satu, tenang, seperti kamar-kamar yang akhirnya ditinggalkan penghuninya.
Satu pintu tetap terbuka: pintu kecil yang berbau pasar. Di ambangnya berdiri ARGA KECIL (8), kedua tangan menutup mulut. Di belakangnya, IBU ARGA membisikkan kalimat yang sama yang ia dengar seumur hidup.
IBU ARGA (V.O., lembut)
"Sssh. Jangan bilang-bilang, ya, Nak."
Arga dewasa berlutut di depan anak itu dan perlahan menurunkan tangan kecilnya dari mulut.
ARGA
(lembut, mata basah)
Sekarang boleh. Kamu boleh bilang.
Anak kecil itu menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ia menarik napas dan bersuara. Pintu kecil itu menutup pelan.
SUARA GELAP
(lemah, gemetar)
Berhenti... kau tak boleh mengucapkannya...
ARGA
(mendekat, tenang)
Di awal, aku bertanya pada diriku sendiri: aku mau apa? Dan aku tidak bisa menjawab. Sekarang aku bisa.
Ia menatap bayangan itu tepat di tengah wajah-wajahnya.
ARGA
Aku mau hidup. Dengan semua suara ini. Dan aku mau mendengar suaraku sendiri di antaranya.
Bayangan itu mengerut, ratusan wajah menipis menjadi satu, dan satu itu menjadi suara seorang anak laki-laki, kecil, pelan, nyaris tak terdengar.
SUARA ANAK (V.O.)
"...terima kasih."
Cahaya putih menelan ruang itu.
INT. PERON BAWAH TANAH — FAJAR
Lilin-lilin padam menyisakan asap tipis. Cahaya subuh menembus celah langit-langit. Arga membuka mata di lantai beton. Kirana di sampingnya, membuka mata juga, dan matanya kembali menjadi matanya sendiri.
Di tepi spiral, Baskara berlutut, bahunya berguncang. Arga bangkit tertatih dan berjongkok di depannya.
ARGA
(lembut)
Ucapkan, Pak. Yang selama ini Bapak simpan.
Lama Baskara tak bisa bicara. Air matanya jatuh di kacamata bulatnya. Lalu ia bicara, patah-patah, seperti orang yang belajar berjalan lagi.
BASKARA
Aku takut. Aku takut anak-anak itu membenciku. Aku takut kalau aku mengaku gagal, semua yang kulakukan jadi sia-sia.
Keheningan turun, kali ini lembut. Kirana bangkit dengan susah payah dan duduk di samping Baskara. Ia menarik napas panjang. Ia menolak menghitung.
KIRANA
(suaranya bergetar, tapi jelas)
Aku takut jadi kosong. Aku takut, kalau dindingku runtuh, tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Ia mengulurkan tangan dan menghentikan ketukan jarinya, dan kali ini tidak memaksanya kembali. Sesuatu yang selama bertahun-tahun ditahan, terlepas.
EXT. PERON UTAMA STASIUN TUA — FAJAR
Matahari terbit di ujung rel. Merpati beterbangan di antara balok atap. Baskara berdiri di ujung peron dengan payung terlipat, bahunya tampak lebih ringan dari sebelumnya. Arga dan Kirana berdiri di dekatnya.
BASKARA
Raka masih hidup. Di sebuah panti di kota sebelah. Sudah sebelas tahun ia tidak bicara pada siapa pun.
ARGA
Mungkin ia hanya menunggu ada yang mau mendengar.
BASKARA
(mengangguk pelan)
Aku akan ke sana. Dan bicara. Semuanya, tanpa bersembunyi.
KIRANA
(pelan)
Pak. Terima kasih sudah menarikku dari jendela itu.
BASKARA
(matanya basah)
Dan maaf sudah mengurungmu.
KIRANA
Aku tahu.
Baskara meletakkan bungkusan kertas cokelat di bangku besi, lalu berjalan pergi menyusuri rel tanpa menoleh. Payungnya terlipat di tangan, tidak lagi diketukkan pada apa pun.
Kirana mengambil bungkusan itu, membukanya, dan menggigit roti cokelat di dalamnya. Ia mengunyah pelan, lalu tersenyum kecil. Arga dan Kirana duduk di bangku besi, berdampingan, tanpa jarak.
Di luar dinding stasiun, kota mulai bangun. Suara-suara masih ada, samar, seperti riak di kejauhan. Tapi Arga kini bisa memilih ke mana ia mendengarkan.
Ia menoleh ke Kirana. Dan untuk pertama kalinya, ia mendengar sesuatu dari sana. Bukan kekosongan, bukan dinding. Satu kalimat pendek, hangat, jernih.
KIRANA (V.O.)
"...aku di sini."
Arga tersenyum, matanya berkaca-kaca.
KIRANA
Kamu dengar sesuatu?
ARGA
Cuma satu kalimat.
KIRANA
Apa?
ARGA
Kamu bilang kamu di sini.
KIRANA
(tersenyum, pelan)
Aku memang di sini.
INT. KERETA KOTA — PAGI (JAM SIBUK)
Gerbong sesak seperti pada adegan pembuka. Bahu bertemu bahu. Arga berdiri terjepit di dekat pintu, dan tidak ada earphone di telinganya. Kirana berdiri di sampingnya, memegang pegangan yang sama.
Bisikan-bisikan kota masih ada. Kamera merekam wajah Arga, dan ia tidak menutup mata.
IBU yang sama dari adegan pembuka berdiri di depannya. Kali ini ia menatap Arga sambil tersenyum tulus.
IBU (V.O., hangat)
"...anak muda itu kelihatan jauh lebih baik sekarang. Syukurlah."
ARGA
(tersenyum, tulus)
Terima kasih, Bu.
IBU
(bingung, tersenyum)
Untuk apa, Nak?
ARGA
Untuk yang barusan.
ARGA (V.O.)
Dulu kukira aku harus membungkam dunia supaya bisa hidup. Ternyata cukup satu hal: berhenti membungkam diriku sendiri.
Kereta melaju keluar dari terowongan. Cahaya pagi menyapu wajah Arga dan Kirana.
FADE OUT.
TITLE CARD: MIND READER: HUSH
— TAMAT —