Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. KAMAR KOS ARGA — PAGI
Arga terbangun dengan napas tersengal. Bisikan tetangga, bisikan jalan, bisikan seluruh kota menghantamnya sekaligus, lebih keras dari sebelumnya. Berhari-hari tidur tenang membuat kepalanya seperti kulit yang baru sembuh, dan kini disayat lagi.
Ia menutup telinga dengan bantal. Tidak berguna. Matanya melirik jam: 05.40. Ia belum sempat ke stasiun tadi malam karena lembur.
ARGA
(bergumam pada diri sendiri)
Aku cuma butuh satu malam lagi. Cuma satu.
INT. GUDANG ARSIP BAWAH TANAH — SIANG
Arga menjatuhkan setumpuk map. Kertas berhamburan di lantai. Dimas berjongkok membantu memungutnya, kali ini tanpa canggung.
DIMAS
Kemarin lo seger, hari ini kayak mayat hidup. Lo nemu tempat sepi itu, kan? Di mana sih?
ARGA
Stasiun Lama.
Dimas berhenti memunguti kertas. Ia menoleh ke peta di dinding, ke titik yang dilingkari pensil.
DIMAS
Yang ditutup tahun sembilan delapan? Gue pernah baca arsipnya. Di sebelahnya dulu ada sekolah kecil, ikut ditutup. Katanya anak-anak di sana suka ngomong sendiri, kayak ada yang nyahut.
Arga terdiam. Kertas di tangannya bergetar sedikit.
INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — MALAM
Arga tiba hampir berlari. Bangku besi kosong. Merpati-merpati bergerak gelisah di balok atap. Ia menunggu satu jam. Dua jam. Kesunyian stasiun mulai terasa lain: tipis, seperti kain yang menahan air.
SOUND DESIGN: Di ujung pendengaran, sangat samar, sebuah bisikan berlapis-lapis muncul.
Suara Gelap (V.O., berlapis, jauh)
"...Kirana..."
Arga menoleh cepat. Tidak ada siapa pun.
Langkah kaki dari lorong. Kirana muncul, jaketnya basah, lingkar hitam di bawah matanya lebih dalam dari biasanya, dan tangannya gemetar. Kesunyian stasiun menebal kembali begitu ia tiba. Arga menghela napas panjang, lega seperti orang yang baru mendapat oksigen.
ARGA
Kamu ke mana? Aku pikir...
Seekor merpati tiba-tiba menepak sayap dan terbang dari balok atap. Suara itu keras dalam senyap.
Kirana tersentak hebat. Buku sketsanya jatuh, kedua tangannya menutup telinga, tubuhnya meringkuk. Napasnya pendek-pendek. Dari dekat, ia tampak jauh lebih rapuh.
ARGA
Kirana? Hei. Hei, cuma burung.
Ia berlutut memungut buku sketsa yang terbuka. Halaman demi halaman berisi spiral yang digambar puluhan kali, dan di sudut setiap halaman, tulisan tangan yang sama berulang.
"Jangan dengarkan. Jangan dengarkan. Jangan dengarkan."
Kirana merampas buku itu. Wajahnya keras.
KIRANA
Itu bukan urusanmu.
ARGA
Kamu tahu aku tidak akan bertanya kalau...
KIRANA
(memotong)
Kamu sudah bertanya. Dengan cara lain. Kamu datang tiap malam.
Kalimat itu mengena. Arga mundur setengah langkah.
ARGA
Aku tidak bermaksud bergantung.
KIRANA
(dingin)
Tidak ada yang bermaksud. Semua orang yang datang ke sini kelihatan sama. Lapar akan sunyi.
Ia bangkit dan berjalan pergi menyusuri lorong gelap. Arga berdiri sendirian, dengan noise yang perlahan merayap kembali dari sisi-sisi peron.
EXT. LORONG STASIUN TUA — SUBUH
Arga menahan diri selama dua jam. Kemudian ia mengikuti jejak basah sepatu Kirana ke lorong samping. Ada pintu besi berkarat setengah terbuka dan tangga sempit menuju ruang bawah tanah.
INT. PERON BAWAH TANAH — SUBUH
Ruang bulat dengan langit-langit melengkung, bekas stasiun bawah yang ditinggalkan. Di lantai beton, digambar dengan kapur putih, spiral raksasa yang berputar ke satu pusat. Lilin-lilin pendek menyala di sekelilingnya.
Di dinding ubin yang mengelupas ada goresan-goresan tangan: tanda hitungan, spiral-spiral kecil, dan satu nama yang digores berkali-kali dengan paku, seperti oleh tangan anak kecil: "RAKA". Cahaya lilin menyapu nama itu sekilas.
Kirana berlutut di pusat spiral. Matanya terpejam. Bibirnya menghitung tanpa suara. Jarinya mengetuk lantai dengan pola yang Arga kenal: tiga ketukan, jeda, dua ketukan.
Tubuhnya gemetar seperti sedang menahan sesuatu yang mendorong dari dalam. Lilin-lilin bergoyang tanpa angin. Bola lampu di kejauhan berkedip.
Di ambang tangga, Arga memegang kepalanya. Noise di kepalanya melonjak, bukan bisikan manusia tapi sesuatu yang lain. Suara berlapis itu kini terdengar jelas, dan menggunakan begitu banyak suara sekaligus.
Suara Gelap (V.O., berlapis-lapis)
"...Kirana... pulanglah... kami menunggumu... pulanglah..."
Kirana membuka mata. Ia melihat Arga di ambang tangga.
KIRANA
(menjerit)
PERGI!
Semua lilin padam sekaligus. Kegelapan. Dari kegelapan itu terdengar gemuruh bisikan, ratusan suara, sebelum semuanya diam.
CUT TO BLACK.